Si Buyung Kok Jadi "Kemayu"?

1437401p

Anak usia 5 tahun biasanya sudah mengetahui tentang perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Ia mungkin pernah berkomentar, "Aku anak laki-laki, seperti papa. Kalau kakak, perempuan seperti mamaku." Ini hasil kemampuan berpikirnya yang sudah berkembang, sehingga ia mampu membedakan satu hal dengan hal lain dan membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang diterimanya.
Umumnya pengetahuan tentang perbedaan ini didapat karena mereka mengeksplorasi serta mengumpulkan informasi melalui kegiatan looking and touching, atau melihat dan menyentuh diri sendiri, juga mengamati orang lain di sekitarnya yang menjadi ciri khas anak prasekolah. Bukankah sering kita temui anak yang memerhatikan organ tubuh ayah atau ibunya ketika di kamar mandi, kemudian ia membandingkan dan mengeksplorasi dirinya sendiri sehingga bisa membedakan "saya dan dia tidak sama".
Pemahaman tentang perbedaan juga didapat dari pengajaran orangtua. Selain memahami perbedaan jenis kelamin menurut deskripsi yang dipahaminya, anak-anak prasekolah juga memahami perbedaan lelaki dan perempuan secara sederhana menurut stereotip yang tampak dari luar meski sebetulnya, stereotip masing-masing jenis kelamin itu bisa saja berbeda berdasarkan budaya suatu masyarakat. Biasanya stereotip ini muncul karena adanya tuntutan normatif yang ada di lingkungan dan orangtua yang memengaruhi pemahaman anak mengenai gambaran stereotip tersebut. Misalnya, anak perempuan biasanya berambut panjang, berpita rambut, pakaian cenderung berwarna pink, mengenakan rok, tidak memanjat, tidak bermain perang-perangan melainkan masak-masakan, bicaranya lembut, dan sebagainya. Sementara stereotip anak laki-laki umumnya berambut pendek, pakaiannya cenderung berwarna biru, mengenakan celana, mainnya cenderung yang motorik kasar, perang-perangan, tidak bermain boneka, dan lain sebagainya.

Ketika si buyung melihat fenomena-fenomena lain di luar stereotipnya, ia akan bertanya-tanya. Apalagi informasi yang dipahami prasekolah hanya ada dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Ia belum mengenal konsep lain seperti tomboi, banci, atau waria.
Lalu, bagaimana bila si prasekolah berperilaku tidak sesuai dengan stereotip peran menurut jenis kelaminnya?

Memang, ada beberapa penyebab bila anak tidak bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan jenis kelamin dan peran gendernya. Antara lain karena:

Ada contoh yang ditiru anak. Bisa terjadi anak melihat contoh dari lingkungan di sekitarnya. Hal ini secara tak langsung berpengaruh pada perilakunya. Misalnya, anak perempuan yang notabene mitosnya lembut dan kalau bermain tenang, tapi karena kakak-kakaknya banyak laki-laki, ia mendapat pengaruh dari kakak-kakaknya tersebut sehingga main pun seperti anak laki-laki.

Gangguan identitas jenis kelamin (gender identity disorder). Adanya gangguan dalam memahami jenis kelamin atau keadaan biologisnya tak sesuai dengan pemahamannya terhadap jenis kelamin. Seperti adanya penis kecil, yang muncul bersamaan dengan labia di dekat vagina.

Kasus ini pernah ditemui, dimana sejak kecil keluarga memperlakukan anak seperti perempuan, tapi sejalan dengan waktu, penisnya membesar sehingga pada akhirnya ia menjadi lelaki. Kalau hal itu terjadi karena memang ada masalah biologis yang menyertai.

Masalah keterbukaan dalam budaya. Hal ini memunculkan konsep-konsep seperti tomboi untuk anak perempuan yang dianggap macho, atau senang bergaya ala anak lelaki. Padahal hal itu bukan berarti ada masalah dalam memahami jenis kelamin. Bisa terjadi ia adalah anak perempuan yang senang berpakaian lelaki, karena lebih praktis.

Ada kalanya yang dipikirkan orangtua tidak "se-mengerikan" apa yang anak pikirkan atau lakukan. Contoh, bisa saja anak laki-laki menggendong-gendong boneka kakak perempuannya. Mungkin karena ia ingin mencoba apa yang dia lihat dari ayahnya ketika menggendong adik bayinya. Nah, ibu bisa melakukan pendekatan dengan memberi pernyataan seperti, "Adek lagi gendong-gendong ya, seperti papa gendong kamu waktu masih bayi." Orangtua dapat mengajarkan masalah emosi pada si anak, yaitu mengenai kasih sayang.

Jadi, dalam mengatasinya, orangtua tak perlu panik. Sikapilah biasa saja. Cari apa yang menjadi kemungkinan penyebabnya. Pahami pula bahwa di usia prasekolah ini anak memang masanya melakukan trial and error, eksplorasi, serta mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai lingkungan dan dirinya sendiri.

Dalam rangka memberi pemahaman gender  yang sesuai dengan nilai keluarga, ketika ada anak prasekolah bertanya seperti contoh di awal tulisan, orangtua bisa mengatakan, "Iya, Dek, si mbak itu perempuan, lho. Kan pakai lipstik juga kayak Ibu. Tapi rambutnya dibotakin karena mungkin kepanasan. Kalau Ibu sih, senangnya punya anak perempuan yang rambutnya tetap ada supaya bisa dijepit atau diikat dengan pita. Kan kelihatan lebih manis."

Dalam perkembangannya, tak sedikit orangtua saat ini yang tidak menghalangi anak laki-laki untuk mengenal aktivitas anak perempuan, atau sebaliknya. Orangtua sekarang ini justru berpandangan, dalam berbagai hal semua anak laki-laki dan perempuan harus diberi kesempatan sama dalam mencoba berbagai aktivitas, mengeksplorasi, dan mengenal lingkungannya.

Narasumber: Irma Gustiana Andriani, MPsi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia

[Kompas.com]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s