Banyak Berkutat dengan Elektronik Bikin EQ Anak Buruk?

1821293p

Setiap orangtua pasti memiliki harapan agar anaknya sukses dan berhasil menjalani hidup yang bahagia. Sani B. Hermawan, Psi, Direktur Lembaga Daya Insani, dalam presentasinya di hadapan media, Kamis, 27 Januari 2011, saat peluncuran buku Juven-Sahabat Sejati dari Danone Aqua mengungkapkan hal tersebut. Menurut Sani, setidaknya ada 3 tujuan dalam diri setiap orangtua, yakni:

  1. Menumbuhkan anak yang cerdas, baik dalam hal Intelligent Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ).
  2. Anak yang sukses dalam hal pendidikan, pekerjaan, pernikahan, dan keluarga.
  3. Bahagia di dunia dan di akhirat.

Namun, ia menyayangkan satu tren yang sedang merebak belakangan ini. Yakni, keranjingan mainan atau alat-alat elektronik pada anak.
"Saya pernah melihat sebuah keluarga di meja restoran. Satu keluarga berada di meja makan tersebut. Tetapi semuanya sibuk dengan alat-alat elektronik masing-masing. Si anak dengan mainan elektroniknya. Si ibu sibuk dengan ponselnya, si bapak pun begitu. Ini pun berlangsung cukup lama saat mereka di sana. Lalu, kapan komunikasinya?" tanya Sani.

Selain itu, jika anak terlalu sering berkutat dengan hal-hal elektronik, contohnya komputer, televisi, atau mainan elektronik genggam, maka kemampuannya untuk mengasah EQ-nya berkurang. "Televisi atau komputer kan memberi warna, tokoh yang bergerak, suara, dan lainnya. Hal-hal semacam ini kurang banyak menstimulasi otak anak untuk menciptakan imajinasi sendiri. Coba Anda panggil anak saat ia sedang bermain games. Sulit sekali ia memalingkan wajah, malah kadang mengabaikan orangtuanya. Alat-alat elektronik semacam ini membuatnya sibuk dengan stimulasi satu arah. Tidak terjadi komunikasi dua arah, dan ini berarti kehilangan kesempatan untuk mengasah komunikasinya," papar Sani.

Namun, Sani tidak serta merta menyarankan untuk para orangtua melarang anak-anaknya bermain dengan elektronik, "Boleh saja, karena mereka juga belajar beberapa hal dari permainan dan alat-alat elektronik. Namun, penting untuk membatasi penggunaannya. Tidak setiap saat setiap waktu. Mungkin, menonton televisi cukup 2-3 jam saja per hari. Atau secukupnya."
Padahal, menurut Sani, dari studi yang ia ketahui, IQ hanya berperan sebanyak 30 persen dalam kesuksesan seseorang. Sisanya, EQ yang menentukan. EQ menyangkut interaksi dengan orang, rasa keadilan, tolong menolong, keterbukaan, mudah bergaul, toleransi, empati, dan sebagainya.
Salah satu cara yang menurut Sani bisa dilakukan orangtua untuk menjalin kehangatan dengan anak adalah lewat mendongeng atau membaca bersama anak. "Dengan bacaan, anak membuat rekaan sendiri gambaran yang ada di tulisan itu. Lewat membaca, anak jadi tahu mengenai karakter, belajar berpikir, mengaktifkan otak, dan menjadi analitis. Apalagi jika membacanya bersama orangtua, hal ini akan membangun hubungan emosional hangat dengan orangtua, yang artinya membangun koneksi dengan anak," jelas Sani lagi.

[Kompas.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s