Membuat Anak Mendengar Anda Tanpa Perlu Berteriak

1338022p

Tak enak rasanya melihat orangtua di tempat umum yang berusaha membuat anaknya mendengar perintahnya dengan cara berteriak. Ketika si orangtua berteriak, si anak pun ikut-ikutan berteriak saat berbicara. Apakah harus seperti itu? Sementara anak-anak lain bisa, kok, diberi tahu oleh orangtuanya tanpa harus dengan cara berteriak.
Berkomunikasi dengan anak seharusnya terjadi dua arah. Anda bicara padanya, dia mendengarkan, begitu juga sebaliknya tanpa ada salah satu yang intonasi suaranya meninggi. Ada cara-cara efektif untuk berkomunikasi dengan anak tanpa harus berteriak. Begini tipsnya:

Pesan "Saya"
Ada salah satu teknik komunikasi ekspresif untuk digunakan dengan anak, namanya "pesan saya". Terdapat 3 kata kunci dalam teknik ini, yakni; Saya merasa, ketika, dan karena.
Saat Anda berada dalam situasi ketika si anak meminta sesuatu sekarang juga, Anda bisa menggunakan teknik ini, jangan lupa gunakan ketiga kata kunci, contoh, "Mama (saya) merasa kesal ketika kamu mengganggu kerja Mama, karena Mama harus menyelesaikannya sebelum kita pergi ke taman bermain itu."
Teknik ini efektif karena ini memfokuskan kepada Anda dan perasaan Anda. Teknik ini tidak menyalahkan siapa pun, tetapi menjadi sebuah pernyataan sederhana dari cara pandang Anda terhadap situasi yang dihadapi.

Tekankan kepositifan
Salah satu cara berkomunikasi efektif dengan anak Anda adalah dengan menyusun kalimat secara positif. Hindari kata-kata "tidak" atau "jangan" saat bicara dengan anak. Ketimbang mengatakan, "Jangan buang mainan di lantai," lebih baik katakan, "Mainan itu tempatnya di keranjang mainan". Meski perubahannya sederhana, pemilihan kata-kata yang Anda gunakan berdampak besar pada reaksi anak dan caranya berinteraksi dengan orang lain.

Belajar mendengarkan
Belajar dan mempraktikkan komunikasi yang reseptif adalah aspek penting untuk meningkatkan interaksi orangtua-anak. Amat penting mengenai apa yang Anda katakan (atau apa yang diekspresikan anak pada Anda) didengar dan dimengerti. Mendengarkan anak adalah bagian dari komunikasi yang reseptif, dan bisa digunakan sebagai cara untuk memahami anak.
Saat mendengarkan anak, hentikan segala bentuk aktivitas yang Anda lakukan dan berfokuslah pada anak Anda. Berlutut, duduk, atau angkat si kecil di atas bangku agar Anda dan dia berada dalam level yang setara. Saat si kecil berbicara, dengarkan sungguh-sungguh. Tanyakan pada diri Anda, "Apa yang dirasa oleh anak saya?" Lalu, ulangi apa yang Anda dengar atau apa yang Anda pikir sedang ia rasakan (kalau suaranya kurang jelas).
Kata kuncinya serupa poin pertama, "kamu, merasa, karena". Contoh, "Kamu merasa kesal karena kamu mau pergi ke taman bermain sekarang juga padahal Mama lagi bekerja." Menurut Terry Meredith, Patolog Bicara dan Bahasa dari TLM Consulting, penting untuk anak bisa mengekspresikan perasaannya lewat bahasa. Para orangtua juga bisa memberi tahu kepada anak bahwa adalah hal yang tak masalah untuk merasakan beberapa hal yang sama sekaligus.

Tindakan lebih jelas dari kata-kata
Ingat, bahwa pikiran Anda dikomunikasikan melalui tanda-tanda non-verbal. Cara Anda membawa diri bisa mengucapkan banyak hal ketimbang kata-kata.
Anda menghela napas sangat kencang, dahi mengerut, tangan mengepal, lalu tiba-tiba si kecil bertanya, "Mama marah?" lalu Anda menjawab sambil cemberut, "Enggak, Mama enggak marah". Bahasa tubuh Anda sudah jelas menunjukkan Anda marah dan kesal, tetapi Anda malah mengatakan sebaliknya. Saat tindakan dan kata-kata Anda tidak sinkron, Anda mengirimkan pesan ganda kepada anak. Anda membohongi perasaan, tetapi Anda menunjukkan apa yang sebenarnya Anda rasakan melalui tubuh Anda.
"Kebanyakan dari apa yang kita komunikasikan datang melalui komunikasi non-verbal. Pastikan bahasa non-verbal Anda sesuai dengan apa yang Anda katakan," anjur Meredith.
Teknik-teknik di atas bisa digunakan untuk mengkomunikasikan hal-hal positif kepada anak-anak Anda. Berikut ini satu tips yang bisa Anda lakukan untuk dipraktikkan setiap hari, angkat si kecil ke pangkuan Anda, lingkarkan lengan Anda di sisi kujurnya, lalu katakan, "Mama sangat bahagia saat kamu ada dekat Mama, karena Mama sayang sama kamu" dengan kata-kata atau bahasa yang lebih dimengerti Anda dan si kecil.

[Kompas.Com]

Advertisements

Si Kecil Belum Bisa Jalan ?

1805009pSetiap orangtua pasti menantikan momen anaknya belajar berjalan. Seakan pada momen tersebut si bayi sedang bersiap menuju level perkembangan yang lebih tinggi. Anak mulai belajar berjalan di sekitar usia 12 bulan. Namun, ketika di usia tersebut si anak belum juga mencoba belajar berjalan, banyak orangtua mulai khawatir dan bertanya apakah perkembangan si anak terlambat.
Pengarang buku The Birth to Five Book, Brenda Nixon berkata, "Kebanyakan orangtua merasa belajar berjalan adalah hal yang penting karena ada anggapan, hal itu terkait dengan kecerdasan anak. Tak sedikit orangtua yang membanggakan anaknya dengan kalimat, ‘Pintar, deh anakku, umur 10 bulan sudah bisa jalan’. Hal-hal seperti ini yang membuat orangtua merasa anaknya yang belum mulai jalan di usia kebanyakan anak mulai jalan berpikir perkembangan anaknya tertunda. Padahal, berjalan berhubungan dengan temperamen dan kesempatan anak, bukan kecerdasan."
Terlambat?
Kebanyakan orangtua menantikan anak sudah belajar atau setidaknya mencoba berjalan ketika ia mencapai usia 12 bulan atau di usia ulangtahun pertamanya. Standarnya, anak-anak belajar berjalan antara usia 9-18 bulan. Jika si anak baru belajar berjalan di usia mendekati 18 bulan, kemungkinan terbesar karena ia tidak mendapatkan kesempatan, genetis, atau karena temperamennya.
Nixon menceritakan, seperti dikutip dari Babyzone, banyak orangtua yang memiliki bayi berusia 13 bulan menanyakan mengapa anaknya belum juga mulai belajar berjalan, pertanyaan yang ia tanyakan kembali kepada para orangtua itu adalah, "Apakah Anda memberinya cukup kesempatan? Saya menyarankan agar orangtua menggenggam tangan si anak dan biarkan si anak mulai menjejakkan kakinya dan belajar melangkah sendiri." Nixon menyarankan orangtua menggenggam kedua tangan si anak keliling rumah, menuju mobil, atau membiarkannya berpegangan pada kereta barang Anda di supermarket (tentunya dijaga jangan sampai ia terjepit atau tertimpa barang) sambil ia berusaha mengatur langkahnya. Latihan-latihan seperti ini dibutuhkan anak balita.
Ada pula anak yang memilih mengambil waktunya sebelum mulai belajar berjalan. Sebagian anak yang baru mau berjalan kalau ada yang memegangkan bisa saja dalam sekali waktu tiba-tiba berdiri dan tidak terjatuh, bahkan seakan ia sudah biasa berjalan sendiri.
Yang perlu dikhawatirkan?
Sementara kebanyakan anak yang hanya lambat belajar berjalan adalah anak-anak yang sehat, ada pula beberapa anak yang karena permasalahan perkembangan melewati masa ini. "Beberapa anak yang memiliki masalah neuromuscular, genetik, atau metabolis bisa jadi belajar berjalan di usia yang melewati usia umum anak belajar berjalan akibat kondisi kesehatan mereka," ujar dr Daniel Brennan, dokter anak di Sansum Clinic and Cottage Children’s Hospital, California, AS. Menurut Brennan, sebagian anak mengalami masalah dalam berjalan akibat masalah ortopedi, seperti dysplasia pada pinggul. Anak-anak ini sebaiknya diperiksakan kondisinya kepada dokter khusus.
Yang penting untuk diperhatikan adalah perkembangan motorik anak, anak yang mengalami masalah pada motorik kasar akan mulai menunjukkan keterlambatan segera. Umumnya, jika anak terlambat berjalan, biasanya ia terlihat juga terlambat belajar untuk duduk. Perkembangan penting motorik kasar termasuk pula saat ia belajar mengkontrol kepalanya di usia 4 bulan dan belajar duduk di usia 6-8 bulan. Anak yang baru belajar duduk di usia 10-11 bulan bisa jadi akan terlambat belajar berjalan.
Saat anak sedikit terlambat berkembang dibandingkan anak seusianya, orangtua secara alamiah akan mulai khawatir. Namun, di kebanyakan kasus terlambat berjalan bukan alasan untuk panik. Beberapa anak memfokuskan diri pada kemampuan berbeda di waktu yang berbeda, karena itulah rentang kewajaran anak untuk belajar pondasi-pondasi perkembangannya cukup luas. Kadang, akan lebih baik untuk menunggu dulu hingga si anak mencoba sambil membantunya. Tetapi, tidak ada salahnya untuk selalu mengecek perkembangan anak kepada ahlinya.

[Kompas.Com]

Supaya Waktu Tidur Si Kecil Teratur

2010265p

Rutinitas waktu tidur amat penting untuk anak-anak. Tak hanya supaya ia bisa datang ke sekolah tepat waktu di pagi hari, tetapi ritual tidur di waktu yang tepat bisa membantunya memiliki tubuh yang sehat. Membangun dan menjaga kebiasaan tidur yang baik bisa membantu anak Anda tertidur, tidur berkualitas, dan bangun di pagi hari dengan tubuh bugar. Hal ini juga bisa membantu mencegah masalah tidur di masa depan. Tidur berkualitas serta rutinitas waktu tidur tak hanya bisa mengurangi tekanan sebelum tidur, tetapi juga membangun waktu spesial antara orangtua dan anak.
Setiap individu memiliki variasi yang berbeda mengenai waktu dan cara sebelum tertidur. Anak Anda adalah manusia unik. Jika rutinitas yang Anda bangun untuk si anak tidak berhasil, mungkin bukan itu yang tepat untuk si anak. Berikut beberapa tips untuk membangun waktu tidur anak yang efektif:
1. Jadi prioritas
Tetapkan seberapa lama waktu tidur yang dibutuhkan setiap anggota keluarga dan pastikan mereka mendapatkannya. Diskusikan masalah tidur anak Anda dengan dokternya. Kebanyakan masalah tidur anak-anak masih bisa diatasi.
2. Pelajari masalah tidur anak
Tanda-tanda masalah tidur pada anak, termasuk kesulitan untuk terjatuh tidur, sering terbangun di malam hari, mendengkur, menahan diri atau menolak pergi tidur, sulit bernapas saat tidur, dan bernapas dengan keras saat tidur. Masalah saat tidur bisa jadi bukti adanya masalah di siang hari. Jika si anak terlihat sangat kelelahan, sering mengantuk, atau rewel di siang hari tanpa alasan jelas, konsultasikan dengan dokter Anda.

3. Konsisten

Dalam mengajarkan sesuatu kepada si anak, konsisten adalah hal yang penting, dan merupakan kunci kesuksesan. Tanpa konsistensi, anak akan sulit belajar atau mengubah sikapnya yang tidak baik.
4. Kerjasama tim
Amat penting untuk mendiskusikan strategi Anda sebelumnya dengan pasangan mengenai program yang ingin Anda jalankan dengan pasangan. Jelaskan ekspektasi Anda terhadap anak jika ia sudah cukup besar dan bisa mengerti.
5. Ciptakan waktu tidur dan bangun yang berulang
Hal ini akan menciptakan ekspektasi antara Anda dan anak, serta alur untuk membangun rutinitas waktu tidur dari sana.
6. Rutin, rutin, rutin
Anak-anak menyukai rutinitas, mereka akan berusaha menepatinya, dan ini bisa berhasil. Rutinitas memberi bentuk ekspektasi dan membantu melatih sikap. Rutinitas waktu tidur membantu anak untuk belajar mulai mengantuk, seperti membaca sebelum tidur bisa membuat orang dewasa mengantuk. Struktur rutinitas tidur juga membuat si anak mengasosiasikan ruang tidur dengan perasaan yang nyaman dan aman.
7. Pakaian dan temperatur ruang
Tak ada hal yang terlalu pasti mengenai hal ini. Anda bisa memakaikan pakaian tidur untuk anak seperti cara Anda berpakaian sebelum tidur. Penting diingat, anak-anak seringkali menendang selimut di malam hari dan sulit menutup tubuhnya saat tidur. Kebanyakan orang tidur lebih nyenyak dalam keadaan dingin ketimbang suasana hangat.

8. Obyek transisi

Waktu tidur berarti pemisahan, dan hal ini bisa jadi lebih mudah dengan alat-alat pemisahan dari aktivitas harian, seperti boneka tidur, selimut, guling, atau barang-barang lainnya. Obyek-obyek semacam ini bisa memberikan rasa aman dan kendali yang memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi si anak.
9. Gelap dan sunyi
Pastikan ruang tidur cukup gelap dan cukup tenang. Jika si anak tak ingin ruangan yang sangat gelap, nyalakan lampu di lorong depan kamarnya, atau cari lampu tidur kecil.
10. Yang terakhir
Anak-anak suka satu hal terakhir, seperti cium selamat malam, peluk, air minum, atau mau ke toilet. Anak-anak bisa jadi sangat kreatif supaya bisa berlama-lama dengan Anda. Sebisa mungkin antisipasi hal-hal ini sebelum mengantar ia tidur. Pastikan si anak mengerti, bahwa begitu mereka tiba di tempat tidur, mereka harus tetap di tempat tidur hingga pagi, tidak boleh jalan-jalan atau main.

[Kompas.Com]