11 Hal yang Bikin Bayi Senyum

1704213p

Beberapa bayi memang pada dasarnya sudah sangat ramah dan senang senyum. Tetapi, sebagian lagi butuh sedikit "godaan" untuk membuatnya tersenyum. Berikut adalah hal-hal yang bisa bikin bayi tersenyum kepada Anda.

1. Petak umpet

Ini adalah tindakan paling disukai bayi. Gunakan selimut favoritnya untuk menyembunyikan wajah Anda, lalu kagetkan ia dengan muncul mendadak, atau cukup gunakan tangan Anda. Kejutan ringan akan membuatnya tersenyum jika tidak terbahak-bahak.
2. Tiup perut
Bayi-bayi amat suka sentuhan. Meniupkan angin dengan mulut Anda menempel akan menimbulkan bunyi-bunyian dan rasa geli pada kulitnya. Lakukan hal tersebut pada perut, tangan, atau telapak kakinya. Tak lama, ia akan mencoba mengikuti Anda melakukan bunyi-bunyian dengan mulutnya sendiri.
3. Berpura-pura makan jari tangan dan kakinya
Bayi sangat suka ketika orangtuanya berpura-pura mengisap jari-jarinya, bahkan anak-anak usia 2 tahun juga suka diperlakukan begini.
4. Buat gelembung-gelembung
Bayi sangat tertarik akan bentuk menarik gelembung yang melayang-layang. Jika Anda melihat kelas berisi bayi-bayi kecil yang ditiupkan balon, Anda akan melihat si bayi-bayi akan berusaha menggapai gelembung tersebut dan memegangnya. Pastikan bahan gelembung tiup itu cukup aman untuk bayi Anda. Biasanya tiup gelembung ini bisa dimainkan bersama anak yang sudah cukup besar.
5. Bersama keluarga
Bayi akan merasa lebih senang ketika ia bisa melihat anggota keluarga lain. Entah itu kakaknya, ayahnya, kakeknya, atau neneknya, tetapi pastikan jangan terlalu ramai. Suara yang terlalu ramai bisa membuatnya merasa tidak nyaman atau terlalu berisik.
6. Gerakan main-main
Bayi sangat suka perhatian dan memainkan muka Anda di depannya entah seberapa memalukan, ia akan tersenyum dan tertawa. Bahkan bersin di depannya pun bisa membuatnya tertawa geli. Tak heran bila banyak orangtua yang memainkan wajah konyol dan aneh di depan anaknya.
7. Karakter favorit
Anak-anak suka mainan berbulu halus, berwarna terang, dan bisa mengeluarkan suara-suara lucu. Tak heran boneka Elmo yang bisa mengeluarkan bunyi-bunyian laku terjual di pasaran. Boneka dari karakter kesukaan akan membuat si kecil tersenyum.
8. Lagu dan musik
Bayi sangat suka musik dan lagu. "Repetisi adalah kunci untuk membuat si kecil mengenal dan suka musiknya," terang dr Natalie Geary, dokter anak dari New York. Bayi suka melihat, melakukan, dan mendengar dalam waktu bersamaan supaya mereka bisa melepaskan rasa kesal dan bisa mengalami serunya mengalami dan mencoba sesuatu. Jika Anda tersenyum dan terlihat senang dari lagu atau permainan, kemudian mengulangi terus, lama-kelamaan ia akan suka juga.
9. Peliharaan

Selain boneka, binatang peliharaan ternyata juga bisa membuat anak tersenyum. Namun, untuk bayi yang masih terlalu kecil, tidak disarankan untuk membawanya dekat dengan binatang peliharaan. Karena bayi masih belum memiliki daya tahan tubuh yang bisa melawan banyak kuman atau virus. Cukup membuatnya melihat binatang dari jauh saja.
10. Menirukan suara binatang

Bayi-bayi senang mendengar suara-suara lucu. Coba ikuti suara-suara bermacam binatang, seperti suara kuda, babi, burung, atau monyet. Jangankan si kecil, pasangan Anda juga mungkin akan ikut-ikutan tertawa.
11. Jika semua gagal, saatnya mengelitiki
Mengelitiki bayi dengan lembut sudah pasti bisa membuatnya tersenyum dan tertawa. Ini juga penting untuk membangun ikatan sentuh dan kedekatan. Sentuhan adalah hal yang penting untuk membuat si bayi tahu bahwa orang yang menjaganya benar-benar fokus padanya, ia pun akan merasa aman dan nyaman.

[Kompas.com]

Advertisements

Update WHO Anthro 2011 – Program Antropometri

WHO, Anthropometry, Antropometri, Anthro, Gizi Buruk, Program, Aplikasi, Freeware, SoftwareSaya sudah pernah memberikan link di salah satu post mengenai gizi buruk. Tapi karena yang lebih ingin memantau balitanya justru adalah ibu-ibu di Group Tumbuh Kembang maka saya mengkhususkan untuk memberikan link lagi di sini :

Agar ada gambaran bagaimana software tersebut, maka disebelah ini adalah tayangan awal pada saat aplikasi tersebut di load.

Continue reading “Update WHO Anthro 2011 – Program Antropometri”

Hidup Tanpa TV, Mungkinkah?

1051064p

Banyak orang tua cemas terhadap pengaruh buruk TV pada anak. Sampai-sampai, ada yang tak menyediakan pesawat TV di rumah. Padahal, TV juga bisa menjadi sarana pendidikan, lho. Jadi, mungkin enggak, sih, anak hidup tanpa TV?
‘Kenapa tidak?" ujar M. Elisabeth Arman, SPsi, pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta. Malah menurut Lisa, sapaan akrabnya, kondisi tanpa TV amat ideal buat anak usia batita karena TV belum memberi manfaat pada mereka.
Anak usia batita, terangnya, masih sangat tergantung pada sosok ibunya. "Ia sama sekali belum bisa memilih, menilai, apalagi mencerna program-program yang ditayangkan. Ia cuma pemirsa pasif, hanya menerima dan menyerap informasi sebanyak mungkin." Dengan kata lain, TV bukan merupakan kebutuhan anak usia batita. Jadi, kalaupun ditiadakan, tak akan menimbulkan masalah apapun.
Sebaliknya, justru bisa timbul masalah kalau ada TV. Ia bisa "keranjingan" nonton, hingga saat makan pun maunya di depan TV. Tak lain karena si ibu ataupun pengasuhnya hobi nonton. "Orang dewasa inilah yang pasti memaksa anak ikut nonton agar ia tak perlu repot mengikuti dan mengawasi batita yang bergerak ke sana ke mari." Atau, agar keasyikannya nonton enggak terganggu; paling tidak, agar sinetron kesukaannya tak terlewatkan.
Tak heran bila akhirnya -setelah lepas usia batita- anak jadi punya kebiasaan nonton TV, bahkan bisa sampai berjam-jam tak beranjak dari depan TV. Kalau sudah begitu, TV lah yang disalahkan; bukannya si ibu sadar anaknya jadi punya kebiasaan nonton TV gara-gara dirinya juga.
Kebutuhan sosialisasi
Jadi, kuncinya terletak pada diri kita sendiri, apakah TV akan berpengaruh buruk atau tidak pada anak. Jikapun kita ingin meniadakan "si kotak ajaib" itu, patut dipertanyakan sampai usia berapa anak mau "dibebashamakan" dari pengaruh TV dan siapkah kita menghadapi implikasi-implikasi tertentu akibat tak ada TV.
Soalnya, tutur Lisa, untuk anak-anak yang lebih besar, TV boleh jadi merupakan salah satu kebutuhan sosialisasinya. "Ingat, anak adalah mahluk sosial." Malah sejak usia setahun pun ia sebenarnya sudah mulai bersosialisasi, hanya masih dalam lingkungan sangat terbatas dan akan meluas seiring pertambahan usianya. Hingga lepas usia batita, aktivitas ini semakin gencar dilakukan. Bahkan, ia belajar banyak dari teman-temannya atau membentuk peer group. Nah, dengan sesama teman inilah, ia biasanya asyik ngobrol. Apa lagi yang dibicarakan kalau bukan tentang TV? Terutama tokoh-tokoh tertentu dalam serial yang memegang rating tinggi alias jadi buah bibir.
Jadi, bisa dibayangkan kalau ia tak pernah nonton TV. Ia tak tahu siapa Ben Tennyson, misalnya, atau tak tahu kecerdikan Upin dan Ipin. Tentu ia akan dibilang norak atau ketinggalan jaman oleh teman-temannya. Padahal buat anak, dikata-katai seperti itu akan sangat memukul harga dirinya. "Sama halnya bila kita tak mengikuti tren mode. Menyakitkan sekali bukan kalau penampilan kita dibilang norak? Sementara dalam diri tiap orang ada kecenderungan untuk selalu ikut apa yang dipakai orang lain."
Implikasi lain yang harus juga diperhitungkan, kenyataan bahwa TV ada di mana-mana, dari rumah-rumah gubuk di bantaran kali atau pinggir rel kereta api sampai rumah-rumah mewah. Nah, apakah kita siap dianggap "aneh" oleh orang-orang sekitar? Hal ini bukan tak berdampak pada si kecil, lho. "Ia akan tumbuh menjadi anak yang merasa berbeda dengan anak lain hingga merasa aneh sendiri." Jadi, saran Lisa, tak perlulah kita bersikap berlebihan seperti itu.
Nonton di rumah tetangga
Memang, ujar Lisa paham, orang tua bermaksud baik, yakni agar anak tak terkena "polusi" berupa adegan kekerasan dan sebagainya. Sayangnya, maksud baik itu malah membuat anak jadi korban. "Ia merasa terasing di tengah keramaian dan keceriaan dunia anak-anak. Kasihan, kan?"
Lagi pula, stimulus buruk tidak hanya bersumber dari TV semata. Yang tak kalah penting, apakah orang tua nantinya betul-betul bisa menjalankan fungsi controlling terhadap peraturan yang agak di luar kebiasaan ini. "Nah, siapkah orang tua terus-menerus memantau dan intensif mendampingi anak? Kalau fungsi kontrol bisa berjalan, sih, enggak apa-apa karena tak akan menimbulkan masalah baru. Tapi, bagaimana bila anak ternyata malah mencuri-curi nonton di rumah tetangga? Inilah yang harus diantisipasi orang tua jauh-jauh hari."
Soalnya, kalau anak menumpang nonton, ia justru jadi tak teramati; berapa lama ia menonton, tayangan apa saja yang ditontonnya, dan bagaimana kemungkinan ia mencerna tontonan tadi bila tak ada bimbingan dari orang tuanya. Malah lebih fatal, kan, akibatnya?

Lisa minta orang tua introspeksi diri bila anak sampai mencuri-curi nonton di rumah tetangga; apakah dirinya tak termasuk orang tua yang otoriter? Soalnya, bila keputusan menghapus budaya nonton TV dalam keluarga mutlak ada di tangan orang tua, tanpa kompromi, apalagi mempertimbangkan pendapat dan kebutuhan anak, boleh jadi orang tua tergolong tipe yang memaksakan kehendak. "Orang tua model begini biasanya punya kecenderungan strong controlling alias kelewat ingin mengatur orang lain, termasuk anaknya."
Sementara reaksi anak bisa bermacam-macam. Ada yang diam dan menerima begitu saja semua bentuk pelarangan orang tuanya, meski ia sebetulnya amat tertekan. "Namun ada pula yang memberontak begitu merasa kebutuhan dan keberadaannya terabaikan, lebih-lebih bila ia bukan termasuk orang yang suka diatur-atur." Nah, mencuri-curi nonton di rumah tetangga merupakan salah satu bentuk pemberontakannya.
Jangan lupa, anak yang sudah jenuh dilarang ini-itu tanpa penjelasan, biasanya akan semakin besar kadar kepuasannya bila ia melakukan apa yang justru dilarang orang tuanya. Dorongan bereksplorasi dibarengi kondisi merana yang semakin lama membuat anak semakin merasa terkungkung dan terbatas inilah yang akhirnya mencuat dalam bentuk pemberontakan tadi.

Apapun alasan di balik keputusan Anda, ingatlah, seiring berjalannya waktu, si kecil akan berkembang menjadi individu mandiri yang harus mampu berfungsi sebagai filtering; menyaring mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak. Nah, fungsi filtering inilah yang justru harus dihidupkan atau ditumbuhkan sejak kecil. Usia balita merupakan kesempatan emas untuk menanamkan sikap dan nilai-nilai moral pada anak. Jadi, mengapa tak kita manfaatkan?

[Kompas.com]