Jangan Biarkan Anak Menyendiri

1554464pPerhatikan perilaku anak Anda. Jika anak cenderung lebih sering beraktivitas sendirian, asik dengan dunianya tanpa peduli sekelilingnya, ia akan tumbuh dengan minim pengalaman berbagi dan berkomunikasi. Apalagi jika anak diberikan fasilitas yang memisahkan dirinya dari lingkungan, seperti gadget atau permainan elektronik, yang membuatnya merasa lebih senang dengan kesendiriannya. Anak tidak terbiasa belajar berkomunikasi dan berhadapan dengan orang lain.
Psikolog Rustika Thamrin CHt, Cl, MTLT menjelaskan, anak akan kurang pengalaman dan penghayatan bahwa bermain bersama lebih menyenangkan jika dalam kesehariannya cenderung bermain sendiri.
"Jika anak merasa sudah sendiri, ini berbahaya. Hidupnya terbiasa tidak berbagi dan nantinya ia akan merasa kesepian," jelas Rustika,r usai talkshow mengenai kebiasaan berbagi beberapa waktu lalu.
Anak akan merasa kesepian karena tidak terbiasa membangun kebersamaan dengan orang lain. Hal ini bisa terjadi disebabkan anak tak terbiasa bertemu atau berkomunikasi dengan dunia luar selain dirinya. Anak menjadi kikuk saat berhadapan dengan orang lain.
Sebaliknya, anak yang terbiasa bermain bersama dengan orang lain di lingkungannya lebih mudah berkomunikasi. Apalagi jika anak dilatih untuk membangun kebiasaan berbagi kepada orang lain, ia akan lebih mudah berkomunikasi. Komunikasi langsung tatap muka dengan orang lain ini tak bisa menggantikan komunikasi yang dibangun melalui dunia maya, jelas psikolog yang akrab disapa Tika ini.
"Meski anak mahir berkomunikasi melalui jejaring sosial, namun tak sama pengalaman dan kemampuannya ketika berkomunikasi langsung," lanjutnya.
Jika saat ini anak Anda masih terperangkap dengan dunianya sendiri, asik sendiri dengan berbagai fasilitas yang Anda berikan, sebaiknya segera ajak anak berbaur dengan lingkungan. Atau mulailah melatih kebiasaan baru dengan berbagi kepada orang lain yang tidak mampu. Dengan begitu anak terbantu melatih dirinya untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

[Kompas.com]

Advertisements

Dukungan Tulus bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Tumbuh Kembang,Tumbuh Kembang Anak, Tumbuh Kembang Bayi, Tumbuh Kembang Balita

Sam Dawson adalah seorang pria penyandang autisme yang secara mandiri menjalani hidupnya dan bekerja pada sebuah kedai kopi. Menariknya, hidup Sam pun berubah saat memiliki anak. Walaupun memiliki keterbatasan, dia terus berdedikasi menjadi ayah yang baik, yang mampu membesarkan anaknya dengan upaya dan perjuangan keras.
Itulah cerita I am Sam, film keluarga yang dirilis tahun 2001 dan dibintangi Sean Penn, aktor kawakan Amerika. Ceritanya mampu menggambarkan bagaimana seorang penyandang autisme hidup berdampingan dengan masyarakat bahkan mampu bersosialisasi. Anak autisme atau berkebutuhan khusus, bisa mandiri apabila orang-orang di sekitarnya mau menerima dan mendukungnya.
Definisi
Menurut situs Yayasan Autisme Indonesia, autisme bukanlah penyakit, tapi merupakan gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan memengaruhi proses perkembangan anak. Akibatnya, anak tidak dapat otomatis belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Dari tahun ke tahun, jumlah anak penyandang autisme terus bertambah di dunia. Tidak pandangan suku, ras, etnis, kelompok masyarakat, dan perbedaan fisik, autisme bisa terjadi pada siapa pun. Seperti informasi dari situs Autismworld, diperkirakan setiap hari ada 50 anak yang terdiagnosa autisme. Penyandangnya lebih banyak laki-laki dibanding anak perempuan dengan perbandingan 4:1.
Deteksi Autisme
Observasi perilaku bisa mulai dilakukan saat anak-anak masih berusia dini di bawah umur tiga tahun atau saat bayi sekalipun. Biasanya, para orangtua mulai merasakan ada kejanggalan dibandingkan anak-anak seumurnya. Danny Tania, Program Manager & Acting Principal Linguistic Council, memaparkan bahwa untuk membantu mendeteksi anak mengalami autisme atau tidak, bisa dilihat darisensory processing disorders, baik berupa over sensitive atau under sensitive.
Anak-anak penyandang autisme umumnya mengalami suatu hambatan dan kerusakan fungsi bagaimana mereka memroses panca indera dari lingkungan sekitar. Akibatnya, anak penyandang autisme cenderung bersikap aneh, misalnya menarik diri, cuek, marah-marah, atau impulsif.
Langkah Tepat
Oleh karena itu, kemampuan orangtua dalam mendeteksi dini akan memberikan pengaruh yang amat bermakna bagi masa depan anak penyandang autisme. Pasalnya, tanggung jawab terbesar dan ikatan emosional dalam membesarkan anak ada di tangan mereka.
Di sinilah, orangtua memerlukan observasi akurat dan perlu melibatkan para pakar di masing-masing bidangnya. Danny menyarankan ada tiga jenis pakar yang sudah berpengalaman dalam menangani anak berkebutuhan khusus seperti autisme, yakni psikolog klinik dengan spesialisasi tumbuh kembang anak, pediatric neurologist dan terapis okupasi.
Orangtua dapat berperan sebagai asisten guru atau asisten sang psikolog. Bahkan saat pembuatan Individualize Education Plan (IEP), mereka bisa memberikan informasi penting untuk anaknya dalam tahap usia tertentu.
Untuk membantu mengasah kemampuan orangtua, mereka dapat mengikuti program pelatihan dan pendidikan kebutuhan khusus yang tersedia di Linguistic Council. Di lembaga ini, tidak hanya para orangtua, tapi guru dan pemerhati bisa mendapatkan keterampilan khusus dan pemahaman yang tepat tentang bagaimana mendeteksi, mengajar, serta membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Contohnya autisme, disleksia, ADD/ADHD, dipraksia, atau anak-anak dengan learning difficulties.
"Jangan jauhi anak-anak berkebutuhan khusus, namun dukung mereka agar kelak dapat mandiri, menyesuaikan diri dengan orang-orang dan lingkungan sekitar. Di samping itu, juga dapat memaksimalkan potensinya dan menyumbangkan kemampuannya kepada masyarakat, dalam arti sudah bisa bekerja," ujar Danny menutup pembicaraan.
(AJG/Inspiratorial Harian Kompas)

Infeksi Tak Terkait Autisme

2695167pInfeksi yang terjadi di masa balita tidak terkait dengan munculnya autisme. Demikian menurut hasil analisis terhadap 1,4 juta anak yang lahir di Denmark antara tahun 1980 dan 2002.
Para peneliti membandingkan data tersebut dengan data anak-anak yang dirujuk ke klinik tumbuh kembang dan kemudian didiagnosis menderita autisme. Pada anak-anak itu, hampir 7.400 anak didiagnosis menderita autis.
Anak-anak yang mengalami infeksi penyakit, baik karena bakteri maupun virus, cenderung mendapat diagnosis autis. Akan tetapi, anak-anak yang tidak terkena infeksi justru lebih banyak yang terdiagnosis autis dibanding anak yang tidak pernah sakit infeksi. Itu sebabnya para peneliti menyimpulkan tidak ada kaitan antara infeksi dan spektrum autisme.
"Kami menemukan kaitan yang sama antara anak yang dirawat di rumah sakit karena berbagai sebab dengan autisme. Bila memang ada kaitan yang khusus, seharusnya muncul penyebab infeksi yang spesifik," kata Dr Hjordis Osk Atladottir, peneliti dari Institute of Public Health University of Aarhus, Denmark.
Studi sebelumnya menyebutkan, anak-anak autis cenderung memiliki sistem imun yang abnormal sehingga muncul teori bahwa autisme mungkin dipicu oleh infeksi. Sebagian orangtua yang anaknya menderita autis juga melaporkan anaknya lebih sering sakit.
Namun, para ahli menegaskan bahwa di samping lebih rentan terkena infeksi telinga dan pernapasan dibanding anak normal, sebenarnya tidak ada kaitan antara autisme dan infeksi. Para orangtua juga diminta tidak percaya pada mitos yang menyebutkan autis muncul setelah anak terinfeksi meningitis atau radang otak.
Ada banyak alasan mengapa anak yang autis lebih sering mendapat perawatan medis karena infeksi. Misalnya saja karena masalah pencernaan, anak-anak autis memang memiliki pencernaan yang bermasalah. Mungkin juga karena orangtua mereka lebih khawatir pada tumbuh kembang anaknya sehingga lebih sering mencari pengobatan.