Stimulasi Bermain sejak Dini untuk Kecerdasan Anak

1328059p

Apakah stimulasi bermain sejak dini itu? Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, stimulasi dini adalah rangsangan bermain yang dilakukan sejak bayi baru lahir. Rangsangan atau stimulasi ini sebaiknya dilakukan sejak janin masih berusia 6 bulan di dalam kandungan. Mengapa?

Stimulasi dipercaya dapat memengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Rangsangan yang harus dilakukan dengan penuh kegembiraan, kasih sayang, dan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera. Selain itu, harus juga merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan, dan jari-jari, mengajak komunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dari pikiran bayi dan balita.

Rangsangan yang dilakukan dengan suasana bermain dan kasih sayang, sejak lahir, terus-menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipatgandakan jumlah hubungan antarsel otak sehingga membentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Dengan demikian, kecerdasan anak makin tinggi dan bervariasi (multiple intelligence).

Lalu, bagaimana menstimulasi janin yang masih dalam kandungan? Si ibu atau ayahnya bisa melakukannya dengan berbicara dekat perut si ibu, menyanyikan lagu, membaca doa, lagu-lagu keagamaan, sambil mengelus perut si ibu. Dapat pula memperdengarkan lagu dengan menempelkanearphone di perut ibu atau si ibu juga mendengarkan lagunya. Ada sebagian literatur yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu klasik baik untuk perkembangan otak anak. Jika memang ingin memperdengarkan lagu klasik pada anak, penting juga untuk si ibu menyukai lagu-lagu tersebut. Sebab, suasana hati si ibu juga bisa memengaruhi si bayi. Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap hari, setiap saat ibu bisa berinteraksi dengan janinnya, misal, saat mandi, masak, cuci pakaian, berkebun, dan sebagainya.

Sementara untuk bayi atau balita, stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai perkembangan usianya, contoh:

Usia 0–3 bulan, berikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan suara atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, benda berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan/kiri, tengkurap-telentang, dan dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Usia 3–6 bulan, bisa dengan bermain “cilukba”, melihat wajah bayi di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Usia 6–9 bulan, panggil namanya, salaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, rangsang duduk, latih berdiri berpegangan.

Usia 9–12 bulan, mengulang menyebut mama-papa, kakak, masukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, gelindingkan bola, latih berdiri, jalan berpegangan.

Usia 12–18 bulan, latihan dengan corat-coret pensil warna, susun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle), masukkan dan keluarkan benda kecil dari wadah, main dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap, dan lainnya. Latihlah untuk berjalan tanpa pegangan, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukkan ini, ambil itu), sebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18–24 bulan, tanyakan, sebutkan, tunjuk bagian-bagian tubuh (mata, hidung, telinga, mulut, dan lainnya), tanyakan gambar atau sebutkan nama binatang dan benda-benda di sekitar rumah, ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi), latihan gambar garis, cuci tangan, pakai baju-celana, main lempar bola, melompat, dan lainnya.

Umur 2–3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lainnya), sebutkan nama teman, hitung benda, pakai baju, sikat gigi, main kartu, boneka, masak-masakan, gambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah 3 tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi ini juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain; memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil/besar di toilet), dan kemandirian (ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman, dan lain sebagainya. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga), tetapi dapat pula di kelompok bermain, taman kanak-kanak, atau sejenisnya.

[Kompas.com]

Bermain, Penting untuk Tumbuh-Kembang si Kecil

1056524p

Masih ingatkah Anda dengan kejadian meninggalnya seorang bocah akibat terjatuh dari lantai atas rumah susun tempatnya bermain? Saking asyiknya anak itu bermain, dan orang tua sibuk dengan pekerjaan atau urusan masing-masing, sehingga pengawasan terhadap anak-anak menjadi kendor. Hal ini menunjukkan kelalaian orangtua, tetapi sekaligus juga mengingatkan kembali betapa anak-anak kekurangan tempat untuk bermain.

Padahal, bermain adalah hak asasi anak-anak. Konvensi Hak Anak-anak mencantumkan bahwa anak-anak punya hak untuk beristirahat dan bersantai, bermain, dan turut serta dalam segala kegiatan rekreasi sesuai dengan usianya. Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pasal 7 ayat 3 mencantumkan hal yang sama tentang hak anak-anak.

Sayangnya, kadang-kadang terbatasnya lahan bermain, taman, ataupun tanah lapang menjadi kendala bagi mereka untuk bermain. Contohnya saja, anak-anak yang bermain sepak bola di kolong jembatan, di pinggir sungai, atau pun di pinggiran jalan, memiliki resiko mengalami kecelakaan.

”Jatuhnya anak dari balkon yang seharusnya bukan tempat mereka bermain merupakan salah satu sinyal kalau memang mereka kekurangan arena atau tempat untuk bermain,” jelas Efriyani Djuwita, MSi, psikolog anak dari FKUI.

Bahkan dari banyak kasus yang terjadi saat ini, bukan hanya terbatasnya lahan bermain yang menjadi penyebab anak kurang bermain. Hal-hal lainnya antara lain:

  1. Segi waktu. Anak-anak terbatasi karena mengikuti sejumlah kegiatan. Misalnya, diikutsertakan dalam les atau kegiatan ekstrakurikuler.
  2. Orangtua membatasi waktu bermain di luar rumah. Orangtua takut akan terjadi penculikan, si kecil bergaul dengan anak-anak nakal, atau akibat disiplin yang terlalu ketat.
  3. Kondisi bermain anak-anak yang terbatas. Tidak ada taman, dan lokasi rumah yang berada di lingkungan yang kurang sehat. Akibatnya anak hanya di dalam rumah, diberi mainan yang kurang mendidik seperti game atau playstation.
  4. Pengawasan anak kurang, karena tidak ada pengasuh khusus, orang tua bekerja, dan lingkungan rumah dirasa kurang aman. Mungkin bagi Anda ini terlihat sepele. ”Ah, untuk apa sih anak bermain, lebih baik belajar,” ujar Djuwita menirukan salah satu orangtua yang berkonsultasi padanya.

Padahal, bermain memiliki banyak manfaat. Lewat bermain anak-anak akan melatih keseimbangan tubuh dan gerak motorik halus atau kasar. Mereka juga akan berlatih untuk menggunakan ototnya, mengkoordinasikan gerakan, dan melatih dan mempertajam panca indera (misalnya pendengaran), dan menyalurkan energi. Hal ini bukan hanya sebatas motorik. Ada manfaat lain yang bisa didapat lewat bermain. Misalnya aspek sosial:

  1. Membina relasi dan komunikasi. Anak-anak yang bermain dengan teman-temannya akan terlatih untuk berbicara, dan membangun pertemanan.
  2. Belajar peran sosial. Misalnya mereka berpura-pura menjadi dokter, polisi, atau juru masak. Semua ini membutuhkan teman untuk bermain.
  3. Belajar peran jenis kelamin. Misalnya saat menirukan menjadi ayah atau ibu.
  4. Belajar mengatasi masalah. Misalnya saat teman menangis, marah, bermain curang, menyakiti. Mereka akan tahu apa yang harus dilakukan.
  5. Belajar aturan atau moral. Karena bermain berkelompok, mereka tahu cara membela teman atau memperlakukan lawan main, lalu jika salah harus minta maaf. Bermain juga memiliki manfaat dalam aspek emosi dan kepribadian. Misalnya ekspresi diri, konsep diri, sportivitas, tanggap, menyenangkan, dan melepaskan ketegangan. Dalam aspek kognitif, misalnya: mengembangkan kreativitas, daya ingat, dan imaginasi.

[Kompas.com]

101+ Cara Agar Anak Tetap Bermain

Berapa sering anda merasa anak anda mengganggu anda yang sedang mengerjakan sesuatu dan itu penting ? Patut kita sadari bahwa kapasitas otak anak besar sekali pada saat ia mulai terbiasa mencari tahu segala hal. Dan seringkali “tidak tepat” dengan waktu yang kita sediakan untuknya. Orangtua sebaiknya bekerja sama untuk menyibukkan anak pada saat yang lain sedang dalam kesibukan yang tidak bisa diganggu, 😀

Ada beberapa cara yang dapat anda gunakan untuk menyibukkannya dalam permainan, berikut ini ada beberapa yang bisa anda ambil sebagai contoh dalam menyibukkan anda dalam permainannya.

  1. Bermain telpon2an .. ini juga bermanfaatkan meningkatkan kemampuan berbicara anak. Kabel harus cukup terentang cukup agar suara anda tidak terdengar langsung.
  2. Bermain dengan kotak. Bila anda memiliki kotak-kotak kecil, ajarkan ia untuk menumpuknya. Setelah cukup tinggi pindahkan ke tempat lain.
  3. Bermain tebak-tebakan dengan menggunakan kejadian yang dialaminya sehari-hari. Saya sering melakukan ini. Sambil masih memelototi komputer saya biasa menanyakan apa yang dilakukan anak-anak saya waktu di sekolah.

Wah 3 aja deh .. sisanya boleh didownload disini .. 😀