Cuci Tangan, Lebih Baik daripada Berobat

Hand WashingSejak buah hatinya lahir dua tahun lalu, Panji Pragiwaksono (30) punya kebiasaan baru. Setiap kali masuk rumah ia tak lupa mencuci tangan. "Setelah punya anak, saya tak mau membawa penyakit ke rumah. Cuci tangan pakai air dan sabun sebelum masuk rumah itu wajib sifatnya," kata pria yang berprofesi sebagai penyiar, penyanyi, serta presenter ini.

Tentu Anda tak perlu menunggu punya anak untuk memiliki gaya hidup yang higienis. Perilaku hidup bersih dan sehat hendaknya menjadi budaya karena  menurut situs Centers for Disease Control, empat dari lima penyakit atau gangguan kesehatan disebarkan melalui sentuhan (tangan). Berangkat dari hal tersebut, salah satu cara yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran kuman adalah dengan mencuci tangan.

Berbagai survei menemukan bahwa kebiasaan mencuci tangan pakai sabun masih rendah di Indonesia. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut, seperti sosial budaya, cara pandang terhadap kebersihan, dan kondisi ekonomi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono, dalam suatu kesempatan mengatakan kebiasan mencuci tangan adalah persoalan budaya. "Masalahnya bukan karena tak ada air, tapi karena kita malas menggunakannya. Karena itu mindset dan psikologis masyarakat harus diubah," paparnya.

Karena cuci tangan belum menjadi kebiasaan, tak sedikit ongkos ekonomi yang dikeluarkan negara. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2008, beban ongkos yang terbuang akibat sanitasi buruk di Indonesia adalah enam miliar dolar Amerika setiap tahun. Setiap tahun kita juga memikul 120 juta kejadian sakit ditambah 50.000 kematian prematur.

Masih banyak orang yang belum mengetahui peta masalah kesehatan kita. Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Jauh lebih tinggi dari Sri Lanka, Thailand, juga Vietnam. Demikian juga dengan angka kematian ibu, penyakit infeksi, dan kekurangan gizi. Menurut pakar kesehatan dr.Handrawan Nadesul, penyebabnya adalah sanitasi yang buruk, perilaku tidak sehat, selain tingkat pendidikan rendah dan kemiskinan.

Padahal, dengan memiliki kebiasaan hidup bersih, kita bisa menurunkan angka kematian bayi sampai dengan 44 persen. Penelitian juga menunjukkan cuci tanga lebih efektif untuk menahan serangan virus ISPA dan pandemi flu, termasuk virus H1N1. Betapa sederhananya, dan mudah juga. Karena sederhana itu pula banyak orang yang menganggap remeh kegiatan yang punya manfaat luar biasa ini.

Jadi Budaya

Kalau mau ditilik lebih dalam, sebenarnya mencuci tangan sudah jadi kebiasaan para nenek moyang. Perhatikan saat Anda berada di restoran Padang atau Sunda. Sebelum makanan datang kita akan disuguhi wadah atau kobokan untuk mencuci tangan. Lucunya, kebanyakan orang justru mencuci tangannya setelah selesai makan.

"Kita hanya mencuci tangan kalau melihat tangan kotor. Padahal, tangan yang bersih bukan berarti bebas dari kuman, kan?," kata Panji. Makanan yang sudah disentuh dengan tangan kotor juga bisa jadi media penularan penyakit.

Dipaparkan oleh Handrawan, perilaku mencuci tangan harus dibentuk. Karena itu harus dibiasakan sedini mungkin. "Bila tak dibiasakan, sulit mengubahnya setelah dewasa," katanya.

Pada peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia 15 Oktober yang dirayakan secara global, pemerintah bersama dengan berbagai pihak swasta melakukan aksi cuci tangan pakai sabun secara serentak dengan melibatkan murid-murid sekolah di berbagai kota di Indonesia.

Anak-anak merupakan elemen masyarakat yang paling energik, antusias, dan terbuka pada ide-ide baru. Anak-anak juga menjadi agen perubahan yang efektif. Pengenalan air bersih, sanitasi, dan kebersihan di sekolah, termasuk cuci tangan dengan sabun, bisa menjadi pintu gerbang bagi anak-anak untuk memahami, dan kemudian membawa praktik kebersihan ini ke rumah dan lingkungannya.

Di rumah, orangtua bisa mulai mengajari balita untuk mencuci tangan dengan sabun setiap kali akan makan, sehabis makan, sehabis main, serta setelah buang air. Mencuci tangan juga harus meliputi seluruh jari-jari tangan. Agar anak bersemangat, orangtua bisa meletakkan sabun dalam wadah yang lucu atau mimilih sabun dengan aroma tertentu. Selain tentu saja orangtua memberi contoh perilaku hidup bersih.

[Kompas.com]

Advertisements

Kebiasaan Cuci Tangan Memengaruhi IQ Anak

1532136pKebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan air mengalir bisa mencegah anak dari berbagai penyakit. Sepuluh penyakit bisa dihindari anak jika kebiasaan CTPS dijalankan konsisten. Salah satu penyakit yang bikin IQ turun satu digit adalah cacingan.
Pakar kesehatan dr Handrawan Nadesul mengatakan, anak menjadi bodoh karena tidak menjalani kebiasaan CTPS dengan baik dan benar. 
"Kita (orangtua-RED) menggagalkan anak dengan menjadikannya bodoh karena tidak membangun kebiasaan CTPS yang baik," tegasnya, di sela pembukaan Lifebuoy Health Institute, KidZania, Pacific Place, Jakarta Pusat, yang diresmikan Kamis (27/1/2011).
Cacingan dan diare adalah penyakit yang paling sering dialami anak yang tidak membiasakan diri CTPS dengan cara yang tepat. Cacing gelang, kata dr Handrawan, bisa menghilangkan satu digit dari IQ anak. Cacing menghabiskan kalori dan makanan yang diasup anak. 
Penyakit lain yang ditimbulkan dari kebiasaan buruk tidak mencuci tangan di antaranya, tifus, kolera, disentri, hepatitis A, B, dan C, serta cacingan dengan berbagai jenisnya.
"Penyakit ini bisa dicegah dengan cara yang sangat sederhana, dengan mencuci tangan yang benar, dengan sabun dan dilakukan minimal lima kali sehari," jelasnya.
Jangan asal cuci tangan
Cuci tangan yang baik dan benar bisa mencegah berbagai penyakit pada anak. "Idealnya cuci tangan pakai sabun dan air mengalir," jelas dr Handrawan, menambahkan dengan cara ini kuman di sela jari bisa terangkat. Sementara, penggunaan hand sanitizer tidak bisa mengangkat kuman secara maksimal di sela jari. "Saat mencuci tangan jangan sampai ada kuman yang tersisa," sarannya, jika ingin mencegah berbagai penyakit.
Sekalipun cara mencuci tangan sudah benar, jangan asal saat mengeringkan tangan. Sebaiknya gunakan handuk bersih untuk mengeringkan tangan. Jika tidak ada handuk, sebaiknya biarkan tangan mengering dengan sendirinya, atau bantu dengan pengering tangan. "Kebiasaan mengelap tangan di baju atau menyeka rambut usai mencuci tangan tidak steril," tambahnya.
Jangan hanya cuci tangan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mencakup berbagai hal, tak sekadar cuci tangan. "Cuci tangan hanya pintu masuknya," kata dr Handrawan, menambahkan perilaku hidup sehat juga harus diterapkan saat mencuci rambut atau mandi. PHBS juga terkait dengan kebiasaan tidur, pilihan makanan, jadwal makan, dan berat badan.
Menurut dr Handrawan, kebiasaan anak yang juga perlu diajarkan dengan lebih baik lagi adalah saat mandi. Bagian di balik telinga dan di belakang lutut biasanya tak terjangkau oleh anak saat mandi. Di bagian inilah jamur bersembunyi jika tidak dibersihkan dengan baik dan benar.