Bila Anak Diare

sick childDiare termasuk dalam penyakit "langganan" anak-anak. Hampir setiap anak pernah mengalaminya, namun tidak sedikit yang meremehkan penyakit ini. Padahal, kenyataannya diare itu bisa mematikan.

Data dari Departemen Kesehatan Indonesia menunjukkan, dari 1.000 bayi yang lahir, 50 di antaranya meninggal karena diare. Penyakit ini telah menjadi penyebab kematian balita teratas setelah Infeksi Saluran Pernapasan Akut.

Diare bukan sembarang sakit perut. Penyakit ini menyerang anak-anak karena mengonsumsi air minum yang terkontaminasi bakteri E.coli, salmonella, rotavirus, atau adenovirus. Gejala umum penyakit diare ditandai rasa mulas dan buang air besar (BAB) dengan tinja encer lebih dari empat kali sehari. Kondisi penderita diare bisa lebih parah jika cairan tubuh juga terbuang melalui mulut (muntah).

Penanganan utama penyakit diare adalah mengganti cairan tubuh yang hilang. Kekurangan cairan bisa mengurangi aliran darah ke seluruh tubuh. Bila dibiarkan, lama-kelamaan organ tubuh tak berfungsi baik sehingga bisa menyebabkan kematian.

Jika diare hanya disertai BAB, untuk penggantian cairan tubuh segeralah minum oralit. Oralit adalah larutan yang mengandung elektrolit, asam basa, dan kalori. Ketiga komponen ini terkandung dalam cairan tubuh yang terbuang saat diare.

Pada kasus diare disertai muntah, penggantian cairan tubuh harus diberikan lewat infus. Pasalnya, minuman apa pun yang diberikan kepada penderita, pasti dimuntahkan lagi. Kalau penderita bisa minum, berilah cairan sedikit demi sedikit agar tak memicu mual.

Pada bayi yang terserang diare, pemberian air susu ibu (ASI) harus diberikan sebanyak-banyaknya sebelum Anda memberikan oralit. ASI membantu penyembuhan diare dan menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Sedangkan pada bayi yang minum susu formula, pemberian susu bisa tetap dilakukan dengan catatan tak terjadi intoleransi terhadap susu tersebut. Pada beberapa kasus, bayi tak bisa menolerir susu sapi yang diberikan. Oleh karena itu, pemberian susu sapi bisa digantikan dengan susu kedelai atau susu sapi bebas laktosa.

Pencegahan

Diare memang berbahaya, tapi penyakit ini bisa dicegah. Kunci utama pencegahan diare adalah disiplin menerapkan perilaku bersih. Biasakan untuk selalu mencuci tangan menggunakan sabun, terutama setelah menggunakan toilet, setelah membersihkan anak, serta sebelum menangani makanan.

Orangtua wajib mengajari anak dan balita selalu mencuci tangan sebelum makan dan setelah dari kamar kecil. Bila perlu, mintalah si kecil untuk tidak menggunakan alat makan bersama anak lain serta tidak sembarangan jajan di sekolah.  Penanganan makanan yang tidak benar juga menjadi penyebab diare. Cuci sayur atau bahan makanan lain dengan air bersih agar tidak terkontaminasi bakteri.

[kompas.com]

Cuci Tangan, Lebih Baik daripada Berobat

Hand WashingSejak buah hatinya lahir dua tahun lalu, Panji Pragiwaksono (30) punya kebiasaan baru. Setiap kali masuk rumah ia tak lupa mencuci tangan. "Setelah punya anak, saya tak mau membawa penyakit ke rumah. Cuci tangan pakai air dan sabun sebelum masuk rumah itu wajib sifatnya," kata pria yang berprofesi sebagai penyiar, penyanyi, serta presenter ini.

Tentu Anda tak perlu menunggu punya anak untuk memiliki gaya hidup yang higienis. Perilaku hidup bersih dan sehat hendaknya menjadi budaya karena  menurut situs Centers for Disease Control, empat dari lima penyakit atau gangguan kesehatan disebarkan melalui sentuhan (tangan). Berangkat dari hal tersebut, salah satu cara yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran kuman adalah dengan mencuci tangan.

Berbagai survei menemukan bahwa kebiasaan mencuci tangan pakai sabun masih rendah di Indonesia. Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut, seperti sosial budaya, cara pandang terhadap kebersihan, dan kondisi ekonomi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono, dalam suatu kesempatan mengatakan kebiasan mencuci tangan adalah persoalan budaya. "Masalahnya bukan karena tak ada air, tapi karena kita malas menggunakannya. Karena itu mindset dan psikologis masyarakat harus diubah," paparnya.

Karena cuci tangan belum menjadi kebiasaan, tak sedikit ongkos ekonomi yang dikeluarkan negara. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2008, beban ongkos yang terbuang akibat sanitasi buruk di Indonesia adalah enam miliar dolar Amerika setiap tahun. Setiap tahun kita juga memikul 120 juta kejadian sakit ditambah 50.000 kematian prematur.

Masih banyak orang yang belum mengetahui peta masalah kesehatan kita. Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi. Jauh lebih tinggi dari Sri Lanka, Thailand, juga Vietnam. Demikian juga dengan angka kematian ibu, penyakit infeksi, dan kekurangan gizi. Menurut pakar kesehatan dr.Handrawan Nadesul, penyebabnya adalah sanitasi yang buruk, perilaku tidak sehat, selain tingkat pendidikan rendah dan kemiskinan.

Padahal, dengan memiliki kebiasaan hidup bersih, kita bisa menurunkan angka kematian bayi sampai dengan 44 persen. Penelitian juga menunjukkan cuci tanga lebih efektif untuk menahan serangan virus ISPA dan pandemi flu, termasuk virus H1N1. Betapa sederhananya, dan mudah juga. Karena sederhana itu pula banyak orang yang menganggap remeh kegiatan yang punya manfaat luar biasa ini.

Jadi Budaya

Kalau mau ditilik lebih dalam, sebenarnya mencuci tangan sudah jadi kebiasaan para nenek moyang. Perhatikan saat Anda berada di restoran Padang atau Sunda. Sebelum makanan datang kita akan disuguhi wadah atau kobokan untuk mencuci tangan. Lucunya, kebanyakan orang justru mencuci tangannya setelah selesai makan.

"Kita hanya mencuci tangan kalau melihat tangan kotor. Padahal, tangan yang bersih bukan berarti bebas dari kuman, kan?," kata Panji. Makanan yang sudah disentuh dengan tangan kotor juga bisa jadi media penularan penyakit.

Dipaparkan oleh Handrawan, perilaku mencuci tangan harus dibentuk. Karena itu harus dibiasakan sedini mungkin. "Bila tak dibiasakan, sulit mengubahnya setelah dewasa," katanya.

Pada peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia 15 Oktober yang dirayakan secara global, pemerintah bersama dengan berbagai pihak swasta melakukan aksi cuci tangan pakai sabun secara serentak dengan melibatkan murid-murid sekolah di berbagai kota di Indonesia.

Anak-anak merupakan elemen masyarakat yang paling energik, antusias, dan terbuka pada ide-ide baru. Anak-anak juga menjadi agen perubahan yang efektif. Pengenalan air bersih, sanitasi, dan kebersihan di sekolah, termasuk cuci tangan dengan sabun, bisa menjadi pintu gerbang bagi anak-anak untuk memahami, dan kemudian membawa praktik kebersihan ini ke rumah dan lingkungannya.

Di rumah, orangtua bisa mulai mengajari balita untuk mencuci tangan dengan sabun setiap kali akan makan, sehabis makan, sehabis main, serta setelah buang air. Mencuci tangan juga harus meliputi seluruh jari-jari tangan. Agar anak bersemangat, orangtua bisa meletakkan sabun dalam wadah yang lucu atau mimilih sabun dengan aroma tertentu. Selain tentu saja orangtua memberi contoh perilaku hidup bersih.

[Kompas.com]

Yogurt Hentikan Diare pada Anak

yoghurt-nutrinobaYogurt yang sedang populer sekarang memiliki manfaat untuk kesehatan pencernaan. Yogurt juga terbukti menjadi makanan pengganti untuk batita yang alergi susu sapi. Setelah menjalani terapi yogurt selama beberapa bulan, seorang anak yang sebelumnya harus mengonsumsi susu kedelai akhirnya sembuh dan "kebal" terhadap susu sapi.

Yogurt, atau produk probiotik lain, juga dipercaya dapat menyembuhkan serangan diare pada anak. Dalam sebuah studi yang dilakukan para peneliti Jerman pada tahun 2008 terlihat bahwa terapi probiotik sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada bayi dan batita yang mengalami diare. Bila tak ditangani dengan tepat, diare pada anak memang bisa menyebabkan kematian. Para peneliti Jerman secara spesifik mengevaluasi makanan probiotik E. coli Nissle 1917 atau EcN, yang terlisensi di Eropa untuk mengatasi penyakit yang berkenaan dengan usus, sejak ditemukan pada tahun 1917. 

Sekadar mengingatkan, di dalam usus besar tinggal sekitar 500 jenis mikroba dengan 100 triliun bakteri di dalamnya. Ada jenis bakteri yang "jahat" seperti E coli (yang dapat menimbulkan diare), dan jenis bakteri yang "baik" seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria yang menyehatkan tubuh kita. Kedua jenis bakteri yang "bersahabat" bagi manusia ini sering digunakan sebagai kandungan probiotik yang semakin populer di berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Produk probiotik, atau suplemen bakteri hidup ini, antara lain yogurt, kefir, dan susu asam.

Sebanyak 151 bayi dan batita yang mengikuti survei di Jerman tersebut sembuh lebih cepat berkat EcN sebagai bagian dari pengobatannya, dibandingkan yang hanya melakukan perawatan dengan obat-obatan. Secara rata-rata, anak yang tidak menerima probiotik baru akan sembuh tiga hingga empat hari lebih lama. Studi ini dipublikasikan pada Pediatric Infectious Disease Journal edisi Juni 2009.

Sebelumnya juga sudah ada penelitian mengenai hubungan antara probiotik dan diare. Sebuah studi di Swedia tahun 2007 yang menunjukkan bahwa kondisi diare pada anak dapat ditangani dengan lebih efektif tanpa perlu mengeluarkan biaya mahal, karena probiotik dijadikan perawatan utama, dan bukannya pengobatan antibiotik. Anak-anak yang diteliti sebenarnya juga sudah dibekali beberapa obat antibiotik, namun hanya mengonsumsinya sekitar 10% dari dosis normal.

Anda bisa berkonsultasi dengan dokter, berapa banyak asupan probiotik yang berfungsi menyembuhkan diare pada anak. Anda sendiri pun tak ada salahnya mencoba terapi ini jika mengalami serangan diare.