Tips Agar Anak Mau Bercerita tentang Harinya

1108405p

Sebagian orangtua sering mengeluhkan sulitnya mengajak anak bercerita mengenai harinya. Padahal, orangtua perlu tahu apa saja yang sedang terjadi pada kehidupan si kecil. Ketika ia menolak menceritakan harinya, jangan serta merta menyalahkan si anak yang tertutup. Bisa jadi, cara bertanya kita, sebagai orangtualah yang belum tepat.
Michele Borba, Ed.D., dari GalTime.com menyarankan untuk menggunakan beragam strategi untuk berkomunikasi dengan si anak. Carilah yang paling tepat untuk Anda dan si kecil, dan latihlah hal tersebut berulang-ulang hingga menjadi hal yang cukup alamiah. Berikut tipsnya:
1. Jangan segera menghadangnya. Begitu ia sampai di rumah atau duduk di mobil Anda, jangan langsung menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai harinya. Umumnya, anak-anak merasa kelelahan dan tak bersemangat begitu tiba di rumah. Jadi, tunggulah setidaknya 30 menit sebelum memulai percakapan mengenai harinya. Beri ia kesempatan untuk menenangkan diri, makan sedikit camilan, dan beristirahat sejenak.
2. Jangan mengubah perbincangan menjadi sebuah sekolahan di dalam rumah. Coba bayangkan apa yang Anda perlukan untuk bisa mengutarakan isi hati saat Anda berusia dirinya? Sama seperti si kecil, ia tidak suka jika orangtuanya memaksa, bercanda yang menyinggung, mengancam, menuduh, menguliahi, atau memarahinya.
3. Berikan perhatian penuh. Pikirkan bagaimana jika sahabat Anda menanyakan mengenai hari Anda. Gunakan contoh itu. Pastikan Anda berada dalam kondisi tenang, tampak tulus, dan tertarik akan cerita si kecil. Tentu hal ini akan terlihat dari bahasa tubuh Anda. Jangan sampai Anda sibuk main BlackBerry atau Facebook-an saat ia sedang bercerita.
4. Pertanyaan terbuka. Jangan berikan pertanyaan yang bisa dijawab dengan "ya" atau "tidak". Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka, jangan yang bisa dijawab dengan selintas lalu saja.
5. Jangan bertanya pertanyaan yang sama. Anak yang sudah agak besar akan "ilfeel" jika Anda bertanya pertanyaan yang sudah bisa ditebak, seperti "Bagaimana sekolah?" Jadi, cobalah jadi kreatif. Ubah cara bertanya atau pertanyaannya untuk membuat anak Anda tahu bahwa Anda tertarik.
6. Berhenti dan dengarkan. Begitu si anak mulai membuka mulutnya untuk menceritakan mengenai hari atau sekolahnya, berhentilah melakukan apa pun yang sedang Anda lakukan, dan berikan perhatian penuh. Tangkap informasi sekecil apa pun untuk Anda tanyakan lagi kepadanya dan berikan ekspresi bahwa Anda memang tertarik. Ia akan terbuka begitu ia tahu bahwa Anda memang tertarik.
7. Regangkan perbincangan dengan pertanyaan mengundang. Jika si anak berbagi detail, coba gunakan metode peregangan. Artinya, jangan memaksa atau mengorek-ngorek, tetapi gunakan penyambung ungkap, seperti, "Oya?", "Iya," atau "Wow, kok bisa gitu, ya?" Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak mengancam, tetapi mengundang si kecil untuk bercerita.
8. Mengulang ucapannya. Cobalah ulang ucapan yang ia sampaikan. Misal, "Aku main ayunan di taman tadi." Anda bisa balas, "Kamu main di ayunan?" Trik ini akan menarik ketertarikan si anak untuk terbuka kepada Anda.
9. Rumah yang menyenangkan untuk anak-anak. Kebanyakan orangtua merasa mereka tahu lebih banyak tentang anaknya dari teman si anak. Jadi, cobalah membuat rumah lebih menyenangkan untuk dikunjungi teman-teman si anak. Undang teman-teman si anak, isi kulkas dengan makanan menyenangkan. Siapkan keranjang basket atau mainan lain yang bisa dilakukan oleh si anak bersama teman-temannya. Saat teman-temannya bermain, cobalah untuk bersikap bersahabat kepada teman-temannya. Tak hanya teman-temannya yang akan berbagi cerita, tetapi si anak bisa jadi ikut-ikutan masuk dalam perbincangan.
10. Info yang berkaitan dengan sekolah. Cari tahulah apa pun yang berkaitan dengan sekolah. Entah itu dengan mengikuti perkumpulan orangtua, atau minta dikirimkan newsletter sekolah jika ada. Jangan segan untuk mencari tahu tentang guru dan keadaan kelas si kecil dari wali kelas atau orangtua lain.
11. Kenali waktu harian si anak. Ketahui kapan si anak paling enak diajak bicara. Seharian bersekolah, baru tiba di rumah, biasanya dia melakukan apa, atau kapan ia biasa bersosialisasi, ketahui itu dan kenali waktu senggangnya.
12. Duduk bersebelahan. Anak laki-laki memang cenderung lebih tertutup. Anak yang sensitif akan merasa takut jika orangtuanya mengajaknya duduk dan berkata, "Sini, Mama mau bicara tentang hari kamu." Cobalah datangi ia, duduk di sebelahnya, jangan berseberangan, karena ia akan melihatnya sebagai sebuah ancaman atau penghakiman.
13. Kenali kesukaannya. Beberapa anak, khususnya anak laki-laki lebih mudah terbuka saat ia bicara tentang dirinya sambil melakukan suatu hal yang ia sukai, seperti lempar bola basket, makan es krim, menggambar, atau membangun Lego.
14. Masukkan diri Anda dalam perbincangan. Dengan Anda yang memulai bercerita tentang hari Anda, si kecil bisa ikutan merasa ingin berbagi cerita. Hal ini bisa Anda lakukan sambil makan malam bersama. Akan lebih baik jika si ayah pun ikutan berbagi cerita harinya.

[kompas.com]

Pola Asuh Ibu yang Relevan Sepanjang Masa

0913264p

Menjadi orangtua di era digital rasanya lebih mudah dibandingkan masa lalu. Setiap kali kebingungan menghadapi perilaku anak atau remaja, Anda bisa mencari solusi melalui mesin pencari di internet. Seringkali, beberapa pola asuh sudah diterapkan sejak lama oleh para orangtua kita. Anda hanya perlu berkomunikasi dengan orangtua, mencari tahu bagaimana dulu mereka mengasuh Anda sebagai anaknya.
Kim Grundy, penulis portal SheKnows khusus pola asuh dan hiburan menemukan cara ibu mengasuh anak yang diterapkan sejak lama, dan masih relevan hingga kini. Pengalaman yang didapati Grundy dari ibunya:
1. Menciptakan tradisi keluarga
Saat kecil, pernahkah Anda dibuatkan perayaan ulang tahun oleh orangtua? dengan menggelar sebuah pesta atau acara sederhana. Cara ini adalah bentuk penghargaan orangtua terhadap anak-anak. Anak akan merasa dianggap spesial oleh orangtuanya, tatkala dilibatkan atau dibuatkan dalam sebuah acara untuk dirinya. Merayakan ulang tahun anak bisa menjadi salah satu cara menciptakan tradisi di rumah. Anda tak perlu membuat pesta besar-besaran dengan menghadirkan berbagai jenis hiburan. Cukup dengan membangun kebersamaan, tradisi keluarga sederhana yang dirayakan hanya oleh orangtua dan anak. Denga begitu, anak akan selalu merasa dihargai dan menanti momen kebersamaan atau tradisi dalam keluarganya.
2. Menjadi koki cerdik di rumah
Tak semua anak menyukai sayur atau buah, padahal makanan sehat ini dibutuhkan tubuhnya. Anda mungkin juga kesulitan memberikan makan sayur atau buah kepada si kecil di rumah. Dibutuhkan kreativitas ibu untuk mendapatkan solusi masalah ini, salah satunya cerdik menjadi koki di rumah.
"Ibu saya mencampurkan bumbu alami atau makanan sehat dalam setiap hidangan. Ibu berhasil menjadi koki cerdik di rumah," aku Grindy.

3. Memastikan anak terlindungi

Kesehatan dan penampilan menjadi perhatian khusus ibu kepada anaknya, bahkan untuk urusan sepele sekalipun. Mulai membangun kebiasaan minum susu dan vitamin, yang tentu saja bisa melindungi anak dari berbagai serangan penyakit. Hingga anjuran untuk tidak menyipitkan mata, karena terlalu sering menyipitkan mata di masa muda akan membuat kerutan bertambah saat usia bertambah.
Ibu juga paling rewel soal penampilan. Pernahkah dahulu, orangtua Anda mengeluhkan cara berpakaian Anda? Atau Anda saat ini sering mengeluh kepada anak remaja Anda tentang cara berpakaiannya? ini adalah bentuk perhatian ibu, yang ingin mengajarkan anak cara berbusana yang baik dan tepat sesuai acara. Saat dewasa nanti, kebiasaan yang dibangun sejak kecil ini memberikan manfaat bagi anak.
4. Membiasakan diri bersikap positif
Anak-anak belajar dari pengalaman hidupnya sejak kecil, termasuk perilaku orangtuanya. Jika orangtua memberikan contoh perilaku positif, anak pun akan mengadopsinya.
Dari pengalamannya, Grundy mendapati ibunya seringkali menebar senyum, berpikir baik agar hasilnya atau yang terjadi dalam hidupnya juga baik, dan selalu mengalahkan ketakutan. Perilaku orangtua yang positif akan direkam oleh anak dan menjadi contoh. Kebiasaan bersikap mental positif nyatanya dimulai dari orangtua, anak hanya akan mengekor saja.
5. Tegas untuk melindungi

Ketegasan orangtua diperlukan anak untuk melindungi dan membangun karakter anak secara lebih positif. Grundy merasakan manfaat dari pola asuh orangtuanya yang tegas dan tearah. Grundy tumbuh tanpa terbiasa menonton televisi atau fasilitas lain yang bersifat hiburan. Lantas apa yang dirasakan manfaatnya oleh Grundy saat ini? kebiasaan dan konsep pola asuh yang diterapkan orangtuanya mengajarkan banyak hal. Diantaranya, mendorong anak untuk kreatif dan berpikir selangkah lebih maju. Pembatasan yang dialaminya bukan tanpa maksud. Namun justru memberikan pembelajaran yang terasa manfaatnya di kemudian hari.
Anda punya pengalaman lain seputar pola asuh ibu sewaktu Anda kecil? pengasuhan yang dahulu tak disukai namun kini berbuah manis, karena Anda merasakan sendiri manfaatnya.

[Kompas.com]

Berkomunikasi Sesuai Bahasa Cinta Anak

1043137p

Komunikasi memang penting, tetapi jika cara penyampaian dan feedback yang diharapkan tidak sesuai, apakah isi pesannya bisa tersampaikan? Komunikasi akan lebih bermanfaat dan optimal jika bahasa dan cara penyampaiannya tepat guna kepada si lawan bicara. Selain bahasa lisan dan tulisan, ada satu lagi bahasa yang tak diajarkan di sekolah, tetapi tanpa sadar juga penting dalam kehidupan kita sehari-hari, yakni bahasa cinta.
Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni; 1. Sentuhan Fisik, 2. Kata-kata Mendukung, 3. Waktu Bersama, 4. Pemberian Hadiah, dan 5. Pelayanan. Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya, seperti yang dituturkan oleh Maura X. Tupamahu, S.Psi, M.Psi, psikolog I Like Gym, pada saat acara temu ibu Sharing Mooment Komunitas Mamamoo Temanmoo yang diselenggarakan es krim Wall’s Moo, beberapa waktu lalu.

1. Sentuhan Fisik

  • Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
  • Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
  • Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
  • Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
  • Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
  • Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
  • Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
  • Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2. Kata-kata Mendukung

  • Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
  • Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti "Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi," atau "Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu."
  • Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
  • Biasakan mengucap kata, "Mama sayang kamu," tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
  • Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.

3. Waktu Bersama

  • Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
  • Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
  • Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
  • Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
  • Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
  • Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
  • Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.

4. Pemberian Hadiah

  • Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
  • Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
  • Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
  • Buah sebuah "kantong hadiah" berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
  • Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
  • Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
  • Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.

5. Pelayanan

  • Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
  • Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
  • Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
  • Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
  • Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
  • Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
  • Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

[Kompas.com]