Tips Membaca Bersama Anak

1547515pMembaca cerita bersama anak, atau read aloud adalah aktivitas yang bertujuan untuk membuat anak "mau" membaca, bukan hanya "bisa" membaca. Caranya, dilakukan dengan mengajak anak (bukan memaksa) membaca bersama orangtua. Posisikan anak agar ia bisa melihat huruf dari kata-kata yang dibacakan orangtua. Posisi si anak bisa didalam pangkuan orangtua, sambil berbaring bersebelahan, duduk bersisian, dan lainnya.
Bagaimana cara membaca buku bersama anak yang baik? Berikut ini tips dari Ariyo, salah seorang pendongeng anak yang sudah berkiprah 11 tahun, kini ia merupakan salah satu bagian komunitas Reading Bugs (komunitas yang bertujuan menyebarkan virus giat membaca):

  • Tak perlu menghabiskan 1 buku dalam 1 waktu, utamakan pengalaman membaca cerita dengan anak. Ladeni si anak jika ia banyak bertanya dalam 1-2 halaman saja.
  • Selalu jujur. "Ajakan untuk membaca bersama anak ini bisa menjadi ajang komunikasi antara orangtua dengan anak dan sebaliknya. Jujurlah jika Anda memang belum pernah membaca buku itu. Katakan, ‘Mama belum pernah baca buku ini, nih. Kita baca barengan, ya?’ Mengapa? Supaya anak tak punya ekspektasi berlebih Anda tahu segalanya dari buku ini," jelas Ariyo.
  • Bacakan dari hati. Jangan terkesan terpaksa dan seperti enggan, apalagi malas-malasan. Membacakan dengan hati akan membuat Anda bersemangat berekspresi dan menarik.
  • Posisikan anak dan Anda senyaman mungkin. Upayakan ada sentuhan kulit, dan si anak bisa melihat kata-kata yang Anda tunjuk saat membaca.
  • Perkenalkan bukunya. "Bacakan judul bukunya, perlihatkan sampul buku kepada anak. Bacakan pula pihak yang bertanggungjawab atas buku tersebut, siapa pengarangnya, dan siapa ilustratornya."
  • Sampul buku juga bisa jadi bahan diskusi tersendiri, misalnya dengan membahas warna busana si tokoh atau atribut lain pada sampul buku tersebut.
  • Saat bercerita, penting agar si pembaca cerita tenang dan tidak tergesa-gesa. Ambillah waktu secukupnya.
  • Setiap kata yang tertulis di buku, tunjuk dengan jari Anda. Saat si anak mendengar kata itu, ia akan mengasosiasikannya. Awalnya, dia akan menyadari vokal, lalu ia akan melihat huruf yang tertera, kemudian menyadari arti kata. Karena itulah, membaca untuk anak sudah bisa dilangsungkan sejak usia 0.
  • Jangan menganggap remeh tanda baca titik, koma, tanda seru, maupun tanda tanya. Tunjukkan dengan intonasi atau gerak-gerik saat ada kata-kata yang menunjukkan sifat, seperti "besar", "kecil", "cepat", dan lainnya. Buat sedikit dramatisasi dari cerita.
  • Jangan lupa tetap jaga kontak mata dengan anak.
  • Bila ada kata-kata yang sekiranya si anak belum paham, tanyakan apakah si anak paham atau tidak.
  • Posisikan buku supaya si anak bisa melihat buku dan gambar-gambarnya.
  • Untuk anak prasekolah, apa yang diceritakan tidak harus sesuai buku. Jika ia tertarik hanya dengan 1 halaman saja, karena warnanya atau gambar, atau lainnya, kembangkan saja.
  • Usahakan menggunakan suara/intonasi berbeda-beda, sesuai karakter dan teknik "fast, slow, pause".
  • Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraung, meringkuk, dan lainnya, sesuaikan dengan karakter dalam cerita.
  • Tambahkan "body language".

Menurut Roosie Setiawan, penggagas Reading Bugs, membacakan cerita untuk anak bisa dimulai sejak trimester akhir kehamilan. Membacakan buku saat hamil bisa dilakukan dengan jenis buku apa pun yang ingin kita baca. Saat kehamilan, orangtua membacakan cerita adalah momen untuk memperkenalkan suara.

[Kompas.com]

Advertisements

Beda Mendongeng dan "Read Aloud"

1207365p

"Belajar dan mengerti kata-kata merupakan materi penting dalam pembelajaran membaca anak. Hal ini merupakan pondasi anak untuk belajar," jelas Roosie Setiawan, pemimpin komunitas Reading Bugs saat workshop storytelling untuk orangtua dan anak-anak Indonesia dari Aqua, Sabtu, 12 Februari 2011, di Penang Bistro, Kuningan, Jakarta.
"Menurut buku La Morelle, 2001, anak-anak butuh interaksi dengan orang lain untuk belajar berbahasa. Mereka belajar kata-kata lewat pendengaran yang dilakukan berulang-ulang. Amat penting untuk membuat anak tertarik dalam sebuah percakapan," terang Roosie.

Menurut Roosie, lewat buku dan membaca, anak, khususnya di usia dini bisa mendapatkan banyak hal. Cara mengajarkan anak untuk membaca, bisa dilakukan melalui mendongeng atau read aloud. Dua hal ini merupakan hal yang berbeda. Lebih lanjut, Roosie mengatakan, storytelling (mendongeng) adalah kegiatan interaktif, 2 orang atau lebih untuk menyampaikan pesan atau peristiwa dalam kata-kata. Namun, ada kendalanya, kadang orangtua mengalami kesulitan untuk menceritakan sesuatu dengan gaya pendongeng (harus hafal, dengan gerak-gerik badan, improvisasi, dan lainnya). Di lain pihak, sejak dini anak perlu belajar membaca. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk menjembatani kesulitan orangtua menciptakan cerita dan agar anak sekaligus belajar membaca adalah dengan metode read aloud.

Metode read aloud, dijelaskan Roosie bertujuan akhir untuk membuat anak "mau" membaca, bukan hanya "bisa" membaca. Caranya, dilakukan dengan mengajak anak membaca bersama orangtua. Posisikan anak agar ia bisa melihat huruf-huruf dari buku bacaan yang disepakati bersama. Posisinya bisa dengan dipangku, sambil berbaring, duduk bersisian, dan lainnya, asalkan bersentuhan. Tunjuk kata-kata yang dibacakan agar si anak bisa melihat bentuk huruf-hurufnya.
Beda mendongeng dan membacakan cerita:
Mendongeng:
– Ada yang mendongengkan
– Ada cerita yang didongengkan
– Pendongeng harus hafal cerita
– Hasilnya, menyenangkan dan menghibur
– Mendidik
– Membangun kedekatan dengan anak
– Namun, perlu bakat dan latihan khusus untuk bisa mendongeng dan membuat anak-anak tertarik dengar dongeng
Membacakan cerita:
– Ada yang membacakan
– Ada yang dibacakan
– Ada yang dibaca
– Hasilnya menyenangkan dan menghibur
– Mendidik
– Membangun kedekatan dengan anak dan buku
– Yang bisa membaca dan mau, bisa membacakan cerita
Kegiatan read aloud atau membacakan cerita bersama anak, menurut Roosie memiliki banyak manfaat dan efektif. Karena:

  1. Manusia adalah mahluk yang suka hal-hal menyenangkan. Tanpa disuruh, manusia akan mencari cara untuk mendapat hal-hal menyenangkan. Contohnya, suara orangtua yang menenangkan yang pernah ia dengar akan disimpan dalam pikiran. Saat ada masalah atau hal-hal yang kurang menyenangkan, suara orangtua yang menenangkan itu akan diingat kembali.
  2. Membaca adalah pembelajaran yang harus dilatih. Karenanya harus dilatih dari sejak dini. Mulai dari langkah-langkah kecil.

Selain itu, diterangkan oleh Roosie, membacakan cerita juga membantu anak untuk belajar mendengarkan dan menyimak sesuatu. Ariyo, salah seorang pendongeng dari komunitas yang sama mengungkapkan, bahwa saat membaca buku untuk anak, tidak perlu dihabiskan dalam sekali waktu. Yang terpenting adalah pengalaman membaca cerita bersama anaknya. Tak masalah jika si anak bertanya banyak hal dari 1 halaman yang sedang dibaca dan habis waktu di sana. Karena interaksi itu pun adalah hal yang berharga, sekaligus membangun kedekatan dengan anak yang bisa dibentuk sejak dini dan bisa bertahan hingga ia dewasa.

[Kompas.com]