Mengajar Optimisme pada Anak

1014384p

Optimisme pada anak, khususnya yang beranjak dewasa mampu mengusir depresi dan melindunginya dari masalah emosional. Dalam studi terhadap 5.600 anak pra-remaja di Australia, ditemukan bahwa pikiran yang optimis bisa membantu melindungi anak dari masalah emosional, seperti sikap antisiosial, penggunaan narkoba, depresi, dan lainnya.
Optimisme adalah hal yang penting dalam kesehatan anak dan diperlukan untuk membuatnya menghadapi permasalahan hidup yang menekan. Menurut dr Leslie Walker, Kepala Bagian dari Rumah Sakit Anak di Seattle mengatakan, sifat semacam ini bisa dibentuk. Namun, menurutnya, untuk hal ini, yang terpenting adalah contoh dari orangtua.
"Mencontoh orangtua adalah cara anak belajar menjalani hidup. Jika orangtua adalah tipe yang optimistis menghadapi hidup, Anda akan melihat anaknya juga akan seperti itu," jelas Walker seperti dikutip dari msnbc.com. Berikut adalah beberapa tips untuk membuat anak lebih optimis:
Mendengar dengan seksama
Kunci untuk mendapatkan rasa percaya dari anak adalah dengan membiarkannya mengutarakan apa yang ingin ia ungkap, dan Anda sebagai orangtua harus mendengar tanpa menghakimi. Menurut Walker, anak-anak memiliki perasaan yang kuat tetapi tak memiliki kata-kata untuk mengekspresikannya. Cerita yang ia utarakan pun merupakan bagian dari pembelajaran proses berpikir mereka. Mereka bisa saja bilang, "Saya benci Matematika!" padahal apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan adalah "Bagaimana caranya saya bisa belajar Matematika dengan lebih baik?" Tugas para orangtualah untuk mencari tahu apa yang ingin mereka ucapkan.
Hindari pelabelan
Sadar atau tidak, anak-anak akan berusaha memenuhi atau melawan segala ekspektasi orangtuanya. Jadi, setiap kali Anda mengatakan, "Anak kedua saya adalah anak saya yang paling pemalu," dan itu didengar oleh si kecil, maka hal itu akan menjadi identitas permanen dalam dirinya. Pelabelan negatif pada anak bisa membahayakan konsep diri anak, dan membuat orangtua menghadapi hal yang tak ia sukai dalam diri anak terus menerus.
Bentuk ulang, jangan dihindari
Anak remaja ingin ditangani dan dimengerti dengan serius. Untuk melakukan hal tersebut, orangtua harus menghadapi keadaannya. Contoh, jika si anak menyatakan mereka tidak suka pergi ke sekolah, bukan hal yang realistis untuk menjawab dengan kata-kata normatif dan klise, seperti, "Tenang saja, semua akan baik-baik saja, kok." Tanyakan lebih lanjut apa yang mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman pergi ke sekolah, dan carilah hal-hal yang ia sukai di sekolah. Fokuskan pada hal itu dan bantu ia menghadapi masalah yang membuatnya enggan pergi ke sekolah. Cari tahu pula apakah ini hasil dari orang yang mengganggunya (bullying).
Melihat sisi terang
Menurut Walker, amat penting untuk menunjukkan kepada si kecil mengenai sisi baik dan sisi buruk dari setiap situasi yang ia hadapi, dorong ia untuk melihat sisi terangnya. Saat si kecil merasa sedih dan melihat dunia sebagai tempat yang sangat buruk untuk ditinggali, Anda bisa merespon dengan kata-kata bahwa dunia butuh keseimbangan dan hal-hal buruk bisa terjadi. Karena ada hal-hal buruk itulah ia bisa melihat hal-hal baik dan menghargainya lebih baik.
Optimisme dan harapan adalah hal yang sangat erat dan kadang terabaikan oleh para orangtua. Padahal hal itu diperlukan oleh anak untuk bangun di pagi hari dan mencoba menjalani hari lagi.

[Kompas.com]

Advertisements

Duduk, Berdiri dan Merangkak ?

Dok, mau nanya. Anak sy laki2 umur 7 bln, 3 mngu, perkembangannya sampai saat ini :
– belum tumbuh gigi
– belum bisa duduk sendiri (kalau dibantu cuma bisa duduk sekitar 15 detik)
– belum bisa merangkak, tapi kalo merayap gerakannya cepat dan lincah (sudah bisa merayap sendiri keluar kamar dan explore seluruh ruangan di rumah)
– sekarang hobynya manjat2 badan org yg lg duduk atau tiduran dekat dia, sampai dia berdiri, dan mulai manjat2 meja.
Apakah perkembangan anak saya ini normal dok (KPSP 6 bln, hasilnya YA semua), sebab yg seumuran dia udah bisa duduk atau merangkak, atau tumbuh gigi. Saya pernah baca katanya setiap bayi harus melewati fase duduk dulu baru berdiri, kalau fase duduk dilewati katanya mungkin ada masalah pada otot atau sarafnya.

Mohon penjelasannya dok, Thank’s

Pak Daddy,

Masalah Gigi

Tidak semua anak tumbuh pada umur 6 bulan atau sebelumnya. Anak saya yang terakhir juga baru di umur 7-8 bulan. Ya, kita juga khawatir dulu itu. dalam literatur memang disebutkan tidak sama di setiap individu. Mungkin belum saja. Mari kita lihat 2-3 bulan ke depan.

Masalah Duduk Merangkak Dan Berdiri

Yang ini juga tidak semua berasal dari duduk, merangkak terus berdiri .. bisa saja satu mendahului lainnya. Atau dilalui dengan cepat. Ada anak yang habis duduk langsung berdiri, tapi kemudian hari dia senang explore ruangan dengan merangkak. Jadi jangan khawatir biarkan saja.
Yang perlu dijaga justru benda-benda yang mudah pecah dan stop kontak yang berada di bawah. Untuk stop kontak, bila tidak digunakan sebaiknya dibelikan yang kosongan. Jangan sekedar di plester. Ada anak2 yang masih senang ngupasin plaster lho.

Masalah Perkembangan

Melihat yang Bapak ceritakan sepertinya bisa dikatakan normal. Memang untuk putranya masih harus diukur dengan KPSP 6 bulan. Tidak adil kalo umurnya belum sampai 9 bulan diukur dengan indikator yang disitu. Meskipun seringkali orangtua mencoba-coba pada anaknya. dan kadang2pun ada anak yang sanggup melampaui.
Pada prinsipnya yang perlu kita lakukan adalah agar setiap aspek yang dipantau dapat berkembang dengan baik. Dan tidak ketinggalan (dilihat dari KPSP). Untuk sementara sekarang sebaiknya Stimulasi untuk anak umur 6-9 bulan terus dilakukan oleh bapak-ibu berdua. Usahakan sehari tidak kurang dari 1-2 jam bersama dengan anak. Perhatikan prinsip-prinsip melakukan stimulasi dan nanti pada saat usianya sudah 9 bulan baru diterapkan KPSP 9 bulan.

Demikian. Semoga memuaskan.

dragus.cn, other pieces of mine

Periksa Kesehatan Anak lewat "Hasil Buangannya"

1215391p

Status kesehatan anak ternyata bisa juga diketahui dari "produk buangan" atau fesesnya. Hal ini disampaikan oleh dr Rini Sekartini, SpAK. Dengan mengamati "produk hasil buangan" ini, kita dapat mendeteksi kalau ada masalah pada saluran cerna dan saluran kemih anak.

Sebagai contoh, urine berwarna kurang jernih menunjukkan kondisi tubuh sehat, tidak kurang cairan. Namun jika warnanya kuning tua atau keruh, jumlahnya berkurang atau bertambah, maka bisa jadi pertanda ada gangguan kesehatan yang dialami anak. Demikian pula halnya dengan buang air besar.

Lara Zibners, MD, dokter spesialis anak sekaligus penulis buku If Your Kid Eats This Book, Everything Will Still Be Okay, menguraikan beberapa tanda di balik warna-warna pada tinja anak sebagai berikut:

  • Merah, disertai sedikit lendir, menandakan ada infeksi atau alergi. Warna merah juga bisa disebabkan karena mengonsumsi saripati jus buah berwarna merah atau antibiotik. Sebaiknya konsultasikan hal ini lebih lanjut ke dokter anak.
  • Coklat. Biasa terjadi pada bayi yang mengonsumsi susu formula. Menurut Zibner, selama kotorannya masih bertekstur lembut dan intensitas buang air masih normal, maka kesehatan anak masih normal.
  • Kuning, disertai dengan tekstur yang agak encer. Kondisi ini umum terjadi pada bayi yang mengonsumsi air susu ibu. Bahkan, warnanya terkadang agak kuning kehijauan.
  • Biru atau Ungu. Pastikan dulu apa yang anak makan seharian sehingga bisa menyebabkan warna kotorannya biru atau ungu. Jika perut anak terasa sakit, maka tanya secara detail mengenai sakitnya.
  • Hijau. Ini biasanya terjadi pada bayi yang baru lahir. Kotoran bayi baru lahir disebut mekonium.
  • Hitam. Tinja berwarna hitam bisa dikarenakan anak mengonsumsi biskuit berwarna hitam, blueberry, beras merah, atau suplemen zat besi. Sebaiknya lebih lanjut dikonsultasikan ke dokter.

[Kompas.com]