5 Keuntungan Punya Anak Laki-laki

1424118p

Bila diberi pilihan, ingin mempunyai anak laki-laki atau perempuan, pastilah lebih banyak yang menjawab ingin punya anak laki-laki. Dari sisi pria, mempunyai anak laki-laki akan membuat ia merasa sudah menjadi pria yang utuh, macho, terjamin kelaki-lakiannya. Sekali lagi, pria hanya akan "merasa", jadi pendapat ini tak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Lain lagi alasan perempuan memilih anak laki-laki atau perempuan. Kebanyakan perempuan berharap bisa melahirkan anak perempuan, karena ingin bisa mendandaninya habis-habisan. Kemudian, ketika ia beranjak tua, ada anak perempuan yang mau mengurusinya. Sedangkan keinginan untuk mendapatkan bayi laki-laki umumnya didasari keinginan agar tidak mendapatkan risiko seperti pengeluaran berlebih untuk pernak-pernik, hingga risiko hamil di luar nikah.
Dorongan untuk mendapatkan anak perempuan kemungkinan juga berawal dari hubungan Anda dengan ibu Anda. Boleh jadi Anda memiliki koneksi yang hebat dengan ibu, dan menginginkan pengalaman bonding yang sama dengan putri Anda sendiri. Tetapi bisa juga sebaliknya, Anda tidak memiliki hubungan yang baik dengan ibu Anda, sehingga mendambakan kesempatan untuk memperbaikinya dengan anak perempuan Anda sendiri.

Indahnya Hubungan Ibu dan Anak Laki-laki

Menurut psikoterapis Dr Nancy B. Irwin, pengasuhan yang sehat melibatkan keinginan untuk membesarkan seorang anak, apapun jenis kelaminnya. "Hanya karena Anda belum pernah menjadi laki-laki, tidak berarti Anda tidak bisa membesarkan anak laki-laki yang hebat," katanya.

Yang perlu dilakukan orangtua saat memiliki anak adalah mengasuhnya agar menjadi orang yang paling menyenangkan. Kelak, ia akan mengisi kekosongan lain sesuai dengan kepribadian, lingkungan, dan pembelajaran sosialnya. Perempuan juga tak perlu mengkhawatirkan hubungan khusus antara ibu dan anak lelakinya, seperti mitos Oedipus, demikian menurut Debbie Mandel, MA, penulis buku Turn On Your Inner Light: Fitness for Body, Mind and Soul.

"Justru ini merupakan peluang untuk membentuk anak menjadi pria yang sensitif, baik, dan komunikatif," saran Mandel.

Namun, memang, ada hal-hal yang mungkin belum Anda sadari ketika memiliki anak laki-laki. Beberapa di antaranya adalah:

1. Bayi laki-laki cenderung lebih mudah dibersihkan saat berganti popok.

"Kebanyakan ibu yang baru pertama kali mempunyai anak laki-laki khawatir mereka akan melukai bayinya, ketika mereka berusaha mencuci potongan-potongan kain yang menempel di penis bayinya," kata Adie Goldberg, pekerja sosial klinis dan penulis buku It’s a Baby Boy!. Cara membersihkan mudah saja. Angkat saja kulupnya, lalu bersihkan kepala penisnya.

2. Anak laki-laki memiliki kepercayaan diri secara fisik.

Anak laki-laki akan tumbuh menjadi anak yang sehat, karena ia akan memainkan permainan yang membutuhkan kemampuan motorik kasarnya, seperti berlari, bermain bola, berebut ayunan, bahkan berkelahi. Kalaupun si buyung lebih menonjol kemampuan motorik halusnya, seperti melukis, menari, atau membuat puisi, ia tetaplah anak yang pede dengan tubuhnya.
"Meskipun kebanyakan pencapaian utama, seperti berjalan, cenderung diperoleh pada waktu yang sama (antara anak perempuan dan laki-laki), kemampuan motorik kasar anak laki-laki akan berkembang pesat selama masa preschool. Mereka juga akan mulai mengalahkan anak perempuan dalam hal kemampuan fisik," tambah Kimberly Parker, perawat dan manajer program klinis di Child Health Promotion-Early Childhood Wellness, Children’s Healthcare of Atlanta.

3. Mereka lebih terdorong untuk mengeksplorasi dunianya.

Rumah yang berisik akan terasa lebih hidup, dan menjadi tanda hubungan antarkeluarga yang sehat. Anak laki-laki yang ekspresif akan selalu berbicara, berteriak, atau tertawa, dengan suara yang keras. Ada masa ketika Anda merasa rumah seperti kapal pecah, tetapi tenanglah. Hal ini karena si buyung sedang mengeksplorasi benda-benda di sekelilingnya.

"Sejak awal, kebanyakan anak laki-laki lebih banyak bergerak daripada anak perempuan," kata Goldberg. "Dan mereka butuh lebih banyak ruang untuk melakukannya. Hal ini tidak akan berubah meskipun usianya sudah bertambah, dan dia akan merasa sangat nyaman mengeksplorasi dunianya, sehingga mengganggu zona kenyamanan Anda."

4. Mereka memiliki emosi yang lebih kuat.

Bila menyangkut perilaku, anak laki-laki di usia batita akan menunjukkan berbagai kejutan. "Umumnya, anak perempuan diyakini lebih emosional daripada anak laki-laki. Namun anak laki-laki yang masih sangat kecil cenderung memiliki emosi yang lebih kuat," ujar Parker. "Mereka lebih mudah gelisah, dan sulit untuk memulihkan diri."

Meskipun begitu, ketika usianya bertambah anak laki-laki akan lebih sulit mengekspresikan perasaannya. Oleh karena itu orangtua seringkali lebih sulit meredakan emosinya, atau mencari tahu apa yang mengganggu anak laki-lakinya. "Anak laki-laki tidak hanya lebih lambat berbicara daripada anak perempuan, perbendaharaan kata mereka juga lebih terbatas," tambah Parker.

5. Anak laki-laki akan melindungi.

Meskipun mereka sulit mengekspresikan perasaannya melalui kata-kata, mereka lebih pintar mengungkapkan rasa sayangnya pada orangtua maupun saudara-saudaranya kelak. Cintanya pada Anda akan begitu besar, terutama karena ia tidak bersaing dengan sosok ibu seperti halnya anak perempuan. Anda tidak akan mengkritik anak laki-laki karena gaya berpakaiannya yang terlalu seksi, dan karenanya ia tetap memandang ibu sebagai sosok yang sempurna. Ia juga akan melakukan apa saja untuk melindungi Anda.
Parker mengingatkan para orangtua mengenai beberapa kenyataan yang berkaitan dengan perbedaan anak laki-laki dan perempuan. Masing-masing bisa memiliki pribadi yang unik dibanding rekan yang sama jenis kelaminnya, apalagi jika dibandingkan dengan anak yang berbeda jenis kelamin.

Meskipun demikian, menurut Parker, kita juga perlu memahami bahwa anak laki-laki dan perempuan "diprogram" secara berbeda sejak lahir, dan perbedaan biologis ini akan diperbesar oleh perubahan sosial dan lingkungannya. Menghargai pribadi setiap anak dan menyediakan kesempatan untuk perkembangan fisik dan emosional yang memenuhi kebutuhannya, adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk memastikan perkembangan yang sehat dan bahagia.

[Kompas.com]

Teknik Dasar Berbicara dengan Anak

2341368p

Berbicara dengan anak bukan perkara mudah. Bahkan bagi orangtua anak sekalipun ada kalanya merasa kesulitan berbicara dengan anak. Bagi Anda yang sering menyaksikan serial Nanny 911 pasti pernah menyaksikan kesulitan orangtua untuk mengajak anaknya berbicara. Bagaimana cara Nanny Deb dan Nanny Stella berbicara dengan anak? Begini tips yang mereka bagi dalam buku Nanny 911:

  1. Apabila Anda ingin memastikan anak mengikuti kemauan Anda (atau saat ingin mengajarkan disiplin), turunkan tubuh Anda setinggi anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman untuk Anda.
  2. Tatap matanya. Ini adalah bagian penting. Jika perlu, dengan lembut palingkan wajahnya agar ia menatap langsung kepada Anda.
  3. Jika si anak sangat marah, usap punggung atau perutnya. Ini adalah bentuk usapan pengakuan. Tak perlu menarik atau memeluknya dengan paksa agar berdekatan dengannya, kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan ia tenang dulu sebelum diajak bicara. Suruh ia mengatur napasnya.
  4. Ubah nada suara agar menjadi tegas tetapi lembut. Suara Anda secara alami naik turun ketika sedang bahagia atau sedang bersenang-senang.
  5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Bantu anak yang masih sangat kecil dengan suruhan mengikuti kata-kata Anda dan dorong ia mencoba. Untuk anak-anak yang sudah besar, Anda bisa membuka percakapan dengan ide, seperti, "Kamu sepertinya sedang kesal."
  6. Ulangi kembali apa yang dikatakan anak. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.
  7. Jangan menyela si anak saat sedang bercerita. Biarkan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti. Ketika giliran Anda tiba, mereka akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda. Kalau mereka menyela Anda, katakan, "Mama mengerti, tetapi biarkan Mama selesai bicara dulu, setelah itu kami bisa bicara."
  8. Biarpun hati Anda penuh gejolak, upayakan selalu tetap tenang.

[Kompas.com]

Latih Gerak dan Koordinasi Bayi 4-7 Bulan

1745516p

Di usia 4-7 bulan, anak-anak akan belajar untuk berguling, menggapai benda yang mereka inginkan, dan duduk. Orangtua bisa belajar untuk menyediakan tempat yang aman untuk bayi agar ia bisa belajar bergerak dengan bebas dan memegang benda yang aman.

Di usia ini, bayi seharusnya sudah bisa mengangkat kepala dan dada mereka sambil tengkurap. Di usia ini, mereka mulai belajar mendorong kepala dan dada sambil mendorong dengan kedua lengannya dan melengkungkan tulang punggungnya, yang artinya menguatkan otot dada dan punggungnya.

Anak Anda juga sedang berusaha mulai menggerakkan kaki sambil tengkurap. Dengan cara ini, bayi-bayi akan mulai berusaha untuk berguling dan belajart[  merangkak. Ia akan berusaha berguling ke kiri dan ke kanan. Jadi, pastikan Anda tidak meninggalkan dia tanpa pengawasan. Gerakan-gerakan baru ini bisa membuat ia terjatuh dari tempat tidur atau sofa. Meski ia belum pernah berguling, jangan pernah tinggalkan bayi tanpa ada yang melihat, karena selalu ada pengalaman pertama.

Dengan makin bertambah kuatnya leher serta otot perutnya, bayi akan belajar untuk duduk saat ia dibantu duduk dengan bantuan sokongan pada punggungnya. Selama bulan-bulan ini, ia akan belajar untuk bertumpu pada lengannya, lalu secara perlahan ia akan belajar untuk kuat dan melatih kepercayaan dirinya untuk duduk tanpa dibantu, meski ia masih sulit untuk berhasil duduk tanpa dibantu.

Kekuatan kakinya pun akan makin berkembang. Si bayi akan belajar untuk menyokong seluruh bobot tubuhnya saat ia dibantu berdiri dengan bantuan Anda. Amat penting untuk tidak memaksa bayi berdiri saat ia belum siap. Tetapi di sekitar usia 7 bulan, biasanya bayi suka dibantu pegang untuk melatih kakinya seakan melompat (jangan lepaskan badannya saat membantu).

Menggapai dan mencengkeram

Bayi akan makin senang menggunakan tangannya, ia akan belajar untuk menggapai dan mencengkeram barang-barang yang mereka inginkan. Mereka juga akan belajar untuk mengoper barang dari satu tangan ke tangan lain, belajar memutar barang tersebut untuk mengecek, dan mengangkat benda sambil mengais menggunakan jarinya untuk mencengkeram.

Berikanlah mainan untuk si kecil bisa mencoba bereksperimen dengan suara dan tekstur untuk diangkat, digoyang, dan dilihat. Perhatikan benda-benda kecil yang bisa masuk ke mulutnya, tertelan, dan mengakibatkan si kecil tersedak.

Membantunya Bergerak

Ciptakan satu lokasi aman untuk si bayi bisa bermain sambil tengkurap dan ia bisa meraih mainannya. Dengan posisi tengkurap, latih si kecil untuk mengangkat kepala dan dadanya dari lantai. Buat suara-suara di dekatnya agar ia belajar untuk bergerak maju.

Bantu si bayi untuk belajar duduk dengan menyokong punggungnya dengan menggunakan tangan Anda atau bantal di belakangnya. Dalam posisi duduk, bayi Anda lebih bebas untuk menggapai atau mengeksplor  mainannya.

Ketika si kecil sudah terbiasa untuk duduk, bantu bayi untuk belajar berdiri sambil memegang erat kedua pinggangnya. Hitung 1, 2, 3, sambil berdiri, biarkan si bayi melompat beberapa kali sebelum diturunkan kembali. Ketiga posisi tadi; tengkurap, duduk, dan berdiri, membantu bayi melatih otot-ototnya, serta melatih kemampuannya untuk belajar berkembang di level berikutnya.

Kapan harus ke dokter?
Perkembangan anak mengikuti pola yang cukup tertebak. Ada banyak variasi untuk bayi belajar kemampuan yang spesifik, tetapi, jika Anda mengkhawatirkan perkembangan si kecil, cobalah konsultasikan dengan dokter Anda. Beritahu kepada dokter jika si kecil belum juga: menggunakan lengan, kaki, atau salah satu bagian tubuhnya, berguling, mencoba menggunakan kakinya, duduk saat disokong, atau menggapai obyek.

[Kompas.com]