Orangtua "Serba Tahu" Bikin Anak Tak Maju

Tumbuh Kembang,Tumbuh Kembang Anak, Tumbuh Kembang Bayi, Tumbuh Kembang Balita

Jadi orangtua yang serba tahu ternyata ada plus-minusnya. Salah satunya, anak mengalami ketergantungan yang tak perlu.
Banyak alasan mengapa orangtua "memaksakan" diri menjadi orangtua yang serba tahu. Setiap kali anak bertanya, ia mencoba menjawab semuanya. Bahkan, kalau tidak bisa, sedikit "ngarang" pun enggak masalah. Wah! Berikut hal-hal yang melatarbelakangi sikap tersebut:
– Ingin dianggap hebat atau sebagai sosok terbaik di mata anak.
– Ingin mendapat respek berlebih dari anak.
– Ingin menjalin kedekatan dengan anak.
– Berusaha melindungi anak dari informasi yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan visi orangtua.
Hambat langkah anak  untuk maju
Meski berbagai alasan diajukan dan bisa jadi "benar" untuk kondisi-kondisi tertentu, tetap saja menjadi orangtua yang selalu tahu ada dampak buruknya, antara lain:
* Kemungkinan menghambat pembentukan rasa percaya diri dan kemandirian anak. Ia jadi terbiasa mengandalkan orangtua untuk menjawab pertanyaan/persoalannya. Dalam jangka panjang, jika ketergantungan ini makin lama makin besar, bukan tak mungkin kesempatannya untuk maju meraih sukses jadi terganggu. Mengapa? Sebabnya, anak senantiasa merasa perlu mendapat "dukungan" penuh dari orangtuanya sebelum memutuskan sesuatu.
* Tak mendapat jawaban semestinya secara tuntas. Soalnya, belum tentu orangtua menguasai semua hal yang ditanyakan anak. Lebih celaka jika si orangtua tetap ingin dianggap hebat lantas menjawab sekenanya, kurang tepat, atau bahkan terpaksa mengarang kala merasa terdesak.
* Sikap serba tahu ini menjadi makin parah kalau orangtua berusaha menyisipkan motif tertentu sesuai keinginannya. Padahal, bisa jadi jawaban tersebut malah mengaburkan inti pengetahuan anak. Contohnya, anak mempertanyakan asal-usul hujan, lalu ayah atau ibu menjawab sekenanya, "Tuhan nangis lihat anak nakal." Bagi anak batita, besar kemungkinan jawaban ini dianggap benar (meski untuk sementara waktu). Bukankah selama ini ia beranggapan selalu mendapat jawaban yang benar atas tiap pertanyaan yang diajukannya?
* Mematikan kreativitas dan daya pikir kritis anak dalam memecahkan masalahnya. Toh selama ini ia sudah terbiasa tinggal terima "suapan" orangtuanya.
* Wawasan pengetahuan anak jadi terbatas karena sumbernya hanya dari orangtua saja.
* Anak menjadi sangat bergantung pada orangtua. Jangan heran kalau pada masa selanjutnya waktu orangtua akan tetap tersita untuk memenuhi kebutuhan anak.
Informasi tersaring
Kendati demikian, jika orangtua mampu "menarik ulur" sikap serba tahunya secara pas, sederet manfaat bisa dipetik anak. Lalu, bagaimana cara bersikap bijak dalam hal ini? Berikut sejumlah tips yang bisa diterapkan:
* Ketika anak mengajukan pertanyaan, pertegas dulu apa yang dimaksud/ditanyakannya. Jangan buru-buru menjawab panjang lebar hanya karena merasa bisa memberikan jawaban yang tepat.
* Tanyakan alasannya mengapa ia bertanya mengenai masalah itu. Ini penting untuk mengasah kemampuan anak bernalar.
* Setelah jelas apa yang ditanyakannya, barulah jawab pertanyaan anak secara gamblang. Yang pasti, sesuaikan dengan perkembangan usianya dan beri jawaban dengan porsi tepat. Jangan berlebihan atau sebaliknya terlalu seadanya. Kalau anak usia 5 tahun bertanya mengapa ada hujan, contohnya, orangtua tak perlu menjelaskan proses kimia terjadinya hujan meski ia seorang ahli kimia. Cukup garis besar ilmiahnya saja.
* Jelaskan dari mana Anda bisa menjawab pertanyaan itu. Misalnya dengan menunjukkan ensiklopedi yang memuat jawaban tersebut. Dengan demikian, anak mendapat pemahaman bahwa orangtuanya bisa menjawab karena rajin membaca buku. Dalam diri anak akan tertanam, kalau ia mau membaca buku, ia pun pasti akan "sepintar" ayah dan ibunya.
* Saat anak menunjukkan kekaguman karena Anda bisa menjawab pertanyaannya, jangan ge-er dulu dengan menjawab, "Jelas dong, mamanya siapa dulu." Yang dianjurkan adalah menunjukkan pada anak mengenai sumber-sumber informasi, seperti televisi, buku, dan internet, sebagai media belajar untuk menemukan jawaban atas segala pertanyaannya.
* Jika memang tidak bisa menjawab pertanyaan anak, jangan coba-coba sok tahu. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa saat ini Anda tidak tahu. Namun, langsung tawarkan kepada anak untuk mencari jawabannya bersama-sama di buku. Kalaupun jawaban yang dimaksud tidak ada di sumber tadi, tak ada salahnya bertanya kepada orang lain yang memang kompeten di bidang tersebut. Pendek kata, jangan segan untuk belajar dan belajar kembali. Terlebih jika Anda merasa makin lama kian banyak pertanyaan anak yang tak bisa terjawab.
* Sementara jika jawaban yang Anda berikan sebelumnya ternyata salah, jangan segan untuk meralatnya. Jangan pernah merasa "malu" karena telah salah menjawab. Lebih baik segera meralatnya daripada anak mendapat informasi yang salah selamanya.
Manfaat yang diperoleh:
Tentu saja kalau ditunjukkan secara pas, sikap serba tahu mendatangkan manfaat, antara lain:
– Hubungan orangtua dan anak menjadi lebih dekat karena frekuensi komunikasi di antara keduanya pasti lebih intensif.
– Orangtua lebih dihargai dan dipandang pintar, hebat, atau bahkan diidolakan anak.
– Jawaban yang diterima anak lebih terseleksi dibandingkan jika anak mencari-cari sendiri melalui teman atau internet.
– Akses anak untuk memecahkan persoalannya menjadi lebih mudah karena orangtua lebih mudah dijangkau.
– Anak memperoleh rasa aman karena orangtua selalu ada untuk memberi tahu apa yang dibutuhkan dan ingin diketahuinya.
– Orangtua terdorong untuk belajar serta memperluas pengetahuan supaya terus bisa menjawab pertanyaan sekaligus membantu persoalan anak.
– Secara implisit anak jadi terdorong untuk banyak belajar agar menjadi "serba tahu" seperti orangtuanya. (Marfuah Panji Astuti)
Narasumber: Vera Itabiliana, Psi.
dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta

Advertisements

Efek Ketidakhadiran Ayah: Buruk!

Tumbuh Kembang,Tumbuh Kembang Anak, Tumbuh Kembang Bayi, Tumbuh Kembang Balita

Kebanyakan orang berpendapat, anak merupakan tanggung jawab ibu karena ayah mencari nafkah. Pertimbangkan lagi pandangan ini! Sebab, absennya ayah dalam proses pendidikan terbukti memiliki dampak luar biasa bagi perkembangan anak.
Menyerahkan pendidikan anak hanya kepada ibu tampaknya harus dikaji ulang. Kalau sambil bercanda, kita bisa bilang, "Bikinnya berdua, kok setelah jadi si istri disuruh bertanggung jawab sendiri?” Memang ada beberapa alasan serius yang perlu dipertimbangkan ulang.
Pertama, anak merupakan buah cinta yang direncanakan dan diinginkan bersama antara suami dan istri, yang kehadirannya diharapkan dapat mengokohkan dan memperteguh hubungan mereka sebagai sebuah keluarga. Dengan demikian, keberadaan anak merupakan tanggung jawab suami istri bersama-sama.
Kedua, pembagian kerja secara seksual (sesuai dengan jenis kelamin), urusan publik (mencari nafkah) menjadi tanggung jawab ayah dan urusan domestik (mendidik anak dan mengurus rumah tangga) menjadi tanggung jawab ibu, kini tidak relevan lagi. Kebanyakan ibu kini juga bekerja, di luar ataupun di rumah, untuk menghasilkan uang. Tidak tepat lagi jika pendidikan anak dipasrahkan hanya kepada ibu.
Ketiga, dalam proses tumbuh kembang, ternyata anak-anak membutuhkan kehadiran ayah dan ibu sebagai patron atau panutan dan sumber kasih sayang.
Ayah kadang-kadang
Di Jepang, sebagian orang mencemaskan pertumbuhan anak-anak kota besar yang timpang akibat absennya ayah dalam proses tumbuh kembang generasi kristal itu. Mereka hidup serumah, tetapi pagi-pagi sekali ketika ayah belum bangun, anak sudah berangkat sekolah. Malam hari ketika anak sudah tidur, sang ayah baru pulang.

Begitu kehidupan mereka setiap har sehingga anak-anak tidak punya kesempatan bertemu ayahnya. Dikhawatirkan anak-anak di negara paling makmur di Asia itu bahkan menyaksikan (yang berarti belajar) bagaimana ayah dan ibu berinteraksi pun tidak pernah bisa.
Jika demikian, apakah mereka bisa diharapkan mengerti bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi secara baik? Lebih dari itu, bagaimana anak-anak dapat tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan kuat jika kehadiran ayah nol besar?
Penggambaran situasi semacam itu mungkin berlebihan. Namun, hal itu bisa menjadi peringatan bagi orangtua yang mengharapkan anak-anak tumbuh sehat fisik dan mentalnya agar tidak mengabaikan kebutuhan anak akan kehadiran ayah.
Di Indonesia, kita bisa menyaksikan banyak pria yang hanya kadang-kadang saja menjadi ayah. Mengapa disebut kadang-kadang karena sehari-hari mereka tidak memberikan kontribusi terhadap kebutuhan anak saat menghadapi proses belajar dan pembentukan diri. Hanya kadang-kadang saja mereka teringat dan terlibat dalam urusan anak.
Hal itu terjadi akibat perceraian ataupun lemahnya komitmen ayah terhadap proses tumbuh kembang anak. Lain dengan di Barat, orangtua yang bercerai masih bisa berbagi dalam hal mengurusi anak, di Indonesia perceraian umumnya tidak memerhatikan hak anak. Kalaupun ada perhatian, sebatas soal biaya anak yang dikemukakan. Karena itu, kalau terjadi perceraian, biasanya anak kehilangan salah satu orangtuanya.
Berdampak buruk
Ada sejumlah hasil penelitian yang memperlihatkan efek ketidakhadiran ayah, seperti dikutip menweb.org. Dalam studi yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan, AS, dari 144 sampel anak dan remaja awal yang orangtuanya bercerai, ditemukan tiga masalah utama.
Sebanyak 63 persen anak mengalami problem psikologis subyektif, seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia, dan depresi. Sebanyak 56 persen kemampuan berprestasinya rendah atau di bawah kemampuan yang pernah mereka capai pada masa sebelumnya. Sebanyak 43 persen melakukan agresi terhadap orangtua.
Dalam studi yang dilakukan khusus terhadap anak-anak perempuan, ditemukan hasil yang kurang lebih sama: 69 persen mengalami problem psikologis, 47 persen punya masalah akademis, dan 41 persen melakukan agresi terhadap orangtuanya.
Dalam Journal of Divorce Harvard University, AS, Rebecca L Drill, PhD, mengatakan, "Akibat perceraian orangtua dan absennya ayah, setelah itu memiliki dampak luar biasa negatif terhadap perasaan anak. Sebagai contoh, perceraian orangtua dan kehilangan ayah terbukti berkaitan erat dengan kesulitan anak melakukan penyesuaian di sekolah, penyesuaian sosial, dan penyesuaian pribadi.”
Singkat kata, tanpa mengabaikan hasil-hasil penelitian lain yang memperlihatkan bahwa anak yang orangtuanya bercerai dapat berhasil dalam hidupnya, absennya figur ayah dalam kehidupan anak memiliki dampak yang buruk terhadap anak. Karena itu, sebaiknya para ayah tidak under estimateatau menilai diri terlalu rendah menyangkut perannya dalam proses tumbuh kembang anak.
Mulai hari ini
Jika Anda, para ayah, merasa memiliki komitmen yang rendah terhadap proses pendidikan anak sehingga hubungan antara ayah dan anak menjadi kurang dekat, buang jauh-jauh ide "sudah telanjur” dari benak Anda!
Prof Rob Palkovitz, konselor dan penulis buku tentang keterlibatan ayah, mengingatkan, "Hentikan berpikir tentang masa lalu dan pusatkan perhatian Anda pada ke mana Anda ingin melangkah!”
Berikut ini beberapa saran Palkovitz berdasarkan hasil risetnya, interaksinya dengan empat anaknya, dan pengalamannya membantu anak-anak yang ayahnya absen dari sisi mereka:
1.    Pusatkan perhatian pada hal-hal yang benar dan positif bagi Anda dan anak. Sebagai contoh, katakan kepada diri Anda sendiri, "Betapa membanggakannya Ayah bekerja keras untuk menghidupi keluarga,” tanpa tambahan apa pun, dan betapa berbedanya kalau ada tambahan, "Tetapi, alangkah lebih baiknya kalau Ayah lebih sering berada di rumah." Sebaliknya, bicaralah kepada anak Anda, "Betapa bangganya menjadi ayahmu, Nak,” tanpa pernah menambahkan kalimat, “Tetapi, akan lebih membanggakan kalau kamu bisa membereskan kamarmu.” Jika Anda dapat memahami kedua hal tersebut, berarti dua langkah membangun hubungan sudah Anda lalui.
2.  Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun hubungan. Karena itu, pahami saat ini Anda berada di titik mana dan ingin menuju ke titik mana.
3.  Kehidupan ini dibangun oleh jutaan "sekarang juga". Jika Anda ingin membangun hubungan baik dengan anak-anak, mulailah sekarang juga.  
4.  Pikirkan kalimat apa yang ingin diucapkan oleh anak-anak ketika mereka meninggalkan rumah: “Ayahku selalu…” Kata-kata apa yang Anda inginkan diucapkan anak-anak untuk melengkapi kalimat tersebut, maka itulah jalan untuk memulai perubahan sikap Anda sendiri. Mau jadi ayah yang baik?
Kriteria ayah yang baik
Dalam bukunya yang berjudul Involved Fathering and Men’s Adult Development: Provisional Balances,Prof Rob Palkovitz membuat kriteria tentang kualitas seorang ayah yang baik.  Simak dan periksa, apakah Anda termasuk di dalamnya!
Perceraian ayah dan ibu tidak dapat menjadi alasan yang cukup untuk menilai diri baik atau tidak sebagai ayah. Sebab, meskipun ada istilah “bekas istri” atau “bekas suami,” tidak ada “bekas ayah”.

  •      Suportif
  •      Menetapkan peraturan
  •      Bertindak sebagai guru
  •      Pembimbing moral
  •      Menjadi model peran bagi anak
  •      Memiliki kesabaran
  •      Pendengar yang baik
  •      Pemberi nafkah yang baik
  •      Hidup sesuai dengan harapannya atas kehidupan anaknya
  •      Tetap ingat bagaimana rasanya menjadi anak sehingga mengerti perasaan anak

@ Widya Saraswati

Berebut Pengaruh dengan Pengasuh Anak

1108405pSetelah seharian ngantor, wajar jika para ibu ingin segera bertemu dengan sang buah hati. Memeluk dan menciumnya dengan penuh kangen seolah lama tak berjumpa. Tapi, jangankan memeluk dan mencium, baru didekati saja, si kecil langsung berlari ke pengasuhnya. Ketika dipaksa, ia malah menjerit-jerit sambil berpegangan kuat pada pengasuhnya. Ia baru tenang setelah dibujuk si pengasuh.
Peristiwa serupa itu bukan tak mungkin dialami para ibu bekerja karena anak telanjur "lengket" pada pengasuhnya. Sedih, kecewa, dan cemburu bercampur jadi satu. Tak jarang kondisi ini membuat ibu jadi sangat emosional. Si pengasuh langsung "dipecat". Selesaikah persoalan? Tidak!

Seperti dituturkan Dr. Siti Marliah Tambunan dari Fakultas Psikologi UI, keadaan malah tambah runyam. "Ibu jadi repot cari pengasuh baru, dan harus kembali mengajari dari nol." Sementara itu, anak jadi rewel, tak mau makan, gara-gara ditinggal si Mbak. "Rewelnya anak, sebetulnya merupakan protes atas rasa sedih dan kehilangannya." Celakanya lagi, si ibu tak mengerti dan malah memarahi anak. Runyam, bukan?
"Kelekatan anak dengan pengasuh adalah salah satu risiko yang harus diambil oleh ibu karena ia bekerja atau sibuk di luar rumah," tutur Siti Marliah.

Ikatan emosional (attachment) antara ibu dan anak sebenarnya diawali sejak ibu menyusui anak. "Saat memberi ASI, ibu bukan hanya memberi minum pada bayinya, tapi juga sentuhan kasih sayang yang memberikan rasa aman." Melalui sentuhan itulah tercipta ikatan emosional antara ibu dan anak, sehingga terbentuklah trust (kepercayaan), yang membuat anak merasa aman dengan lingkungannya. "Jika sudah merasa aman, ia akan mengadakan eksplorasi dengan lingkungannya. Jadi, attachment adalah dasar dari perkembangan tingkah laku anak selanjutnya."
Tentunya attachment yang baik ialah yang secure. Artinya, kelekatan yang ada ialah kelekatan secara emosi, bukan fisik. "Jika anak ke mana-mana maunya digendong atau ‘menggelantung’ terus pada ibunya, berarti ada ketergantungan fisik. Hal itu malah menunjukkan ia merasa tak aman." Tapi kalauattachment-nya sehat, maka ia tak terlalu tergantung. Ia tetap berani bereksplorasi dengan sekelilingnya.

Lebih Peka
Nah, attachment antara anak dengan pengasuh, menurut Siti Marliah, lebih karena kepekaan si pengasuh dalam menanggapi kebutuhan sang anak. "Mungkin si pengasuh lebih mau mengerti, cepat tanggap saat diperlukan anak." Misalnya, saat ia mengompol, langsung mengganti popoknya karena takut pantat si kecil jadi gatal. Menyuapinya atau memberinya susu saat ia lapar, memandikannya, menghiburnya saat ia menangis, menidurkannya, dan mengajaknya bermain.

Bila semua kebutuhan tersebut dipenuhi oleh si Mbak, ya, jangan salahkan bila anak akhirnya dekat dengan pengasuhnya. "Wong, si pengasuh lebih memahami kebutuhannya, kok. Ia mendapatkan kehangatan dari perawatan si pengasuh." Apalagi anak kecil memang akan jadi akrab dengan orang yang secara konsisten memenuhi segala kebutuhannya. "Sekecil apa pun, anak akan tahu mana orang yang mengurusnya, selalu berada di dekatnya, dan mana yang bukan."

Terlebih lagi, ibu cenderung ingin "bersih"nya saja lantaran merasa sudah keluar uang untuk menggaji pengasuh. Ibu hanya mau menggendong atau bermain dengan anak, jika anaknya sudah dalam keadaan bersih. Bila anaknya ngompol, ia akan segera meminta si pengasuh untuk mengganti celana anaknya. "Nah, bagaimana si kecil jadi enggak semakin akrab dengan pengasuhnya?"
Meskipun anak tetap bisa membedakan mana ibunya dan mana pengasuhnya, tapi bila ia lebih mendapatkan kehangatan dari pengasuhnya, maka akan sulit untuk beralih ke ibunya. "Jika sejak kecil antara ibu dan anak tak ada attachment, untuk selanjutnya pun tak akan ada. Dalam keadaan panik atau lapar, anak akan ‘lari’ ke pengasuhnya," ungkap Siti Marliah.

Jadi, tak perlu cemburu pada pengasuh karena anak lebih dekat dengannya. Apalagi sampai memecatnya. Yang penting ialah mengupayakan agar si anak tidak keterusan "lengket" pada pengasuhnya.
Caranya? Pindahkan attachment tadi! Ibu harus mau merespon kebutuhan anak dan memberikan kehangatan. Dengan demikian, "Lama-lama anak akan tahu, ada orang lain yang juga memberikan rasa aman buat dirinya, yaitu ibunya. Karena yang penting adalah rasa aman itu," tutur Siti Marliah.

Lakukan secara bertahap. Tak perlu pula memutuskan meninggalkan pekerjaan. "Cukup dengan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang ada bersama anak." Jadi, begitu tiba di rumah sepulang kantor, segera lupakan urusan kerja. Fokuskan perhatian pada kebutuhan anak. Entah dengan membacakan cerita sebelum si kecil tidur atau menemaninya makan dan menonton TV. "Makan malam bersama bisa dijadikan sarana untuk berkumpul bersama seluruh keluarga, saling berbagi cerita, sehingga semakin mempererat hubungan keluarga."
Jangan jadikan rasa capek sebagai alasan. "Memang, capek rasanya habis bekerja harus mengurusi anak. Tapi itu, kan, risiko ibu bekerja," tukas pengajar di Fakultas Psikologi UI ini. Jadi, kalau memang waktu luang hanya pada malam dan pagi, lakukan pendekatan dengan anak di saat itu. "Banyak juga, kan, ibu-ibu yang bekerja tapi anaknya tetap lengket pada si ibu. Jadi, tergantung bagaimana si ibu menyiasatinya."

Pembagian Tugas
Ada baiknya ibu juga memberi tahu pengasuh, "Ini, lo, si anak terlalu lengket sama kamu. Jadi, sekarang kamu jangan terlalu dekat. Biar dia bisa mandiri." Dengan kata lain, jangan tunjukkan kecemburuan kita karena pengasuh akan heran, mengapa ia dicemburui padahal sudah melakukan tugas dengan baik.
Sebenarnya, kata Siti Marliah, pengasuh yang bisa merespon kebutuhan anak adalah pengasuh yang baik. Karena itu yang penting dilakukan ibu, terutama sebelum menerima si pengasuh, ialah memberikan pembagian tugas. Misalnya, "Kamu jaga anak saya selama saya tak ada di rumah. Tapi begitu saya sudah ada di rumah, mengasuh anak menjadi tugas saya. Kamu mengerjakan hal-hal lainnya." Jadi, ada batasan-batasan dan aturan tugasnya.

Indah Mulatsih

[Kompas.com]