Intervensi Nonbedah Penyakit Jantung Bawaan

Tumbuh Kembang,Tumbuh Kembang Anak, Tumbuh Kembang Bayi, Tumbuh Kembang Balita

Penyakit jantung bawaan kini tidak harus dibedah. Kini, perkembangan setelah 20 tahun, ada tindakan teknologi intervensi nonbedah terbaru dengan pemasangan stent (ring) di coartactio aorta (dekat pembuluh darah aorta).

”Jadi pasien tak perlu dibedah, cukup dengan stent saja,” kata dokter spesialis penyakit jantung bawaan Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, dr Poppy S Roebiono, Kamis (6/11) di Jakarta.

Poppy S Roebiono memaparkan, penyakit jantung bawaan itu disebut Patent Ductus Arteriosus (PDA). PDA adalah pembuluh darah yang menghubungkan pembuluh nadi utama aorta dan pembuluh nadi paru-paru yang keluar dari jantung.

Seharusnya pembuluh ini menutup dengan sendirinya pada waktu bayi lahir. Oleh karena pembuluh darahnya tetap terbuka, aliran darah dari aorta mengalir ke paru-paru sehingga darah membanjiri paru-paru.

”Anak-anak penderita penyakit jantung bawaan seperti ini sering sakit dan infeksi paru-paru. Kalau pembuluh darahnya besar, maka anak sulit minum susu, nafsu makan kurang, tidak tumbuh baik, dan berat badannya sangat kurang,” kata Poppy.

Sejak bayi

Kelainan jantung ini bisa dideteksi sejak bayi. Namun, karena satu dan lain hal, bisa saja penyakit jantung bawaan ini tak terdeteksi secara dini. ”Kalau masih bayi tapi sudah lebih dari 6 kilogram beratnya, ya harus dioperasi. Kalau lubangnya besar, harus lebih awal operasinya, diikat pembuluh darahnya,” kata nya.

”Kini ada upaya tanpa operasi, yaitu dengan menyumbat pembuluh darah itu dengan alat. Kini alat yang dipakai bentuknya spiral yang dimasukkan dalam slongsong dan memakai kateter spiral itu dimasukkan,” kata dia. Spiral semacam ini baru satu tahun dipakai di Indonesia. (LOK)

Advertisements

Setiap tahun 40.000 bayi menderita Penyakit Jantung Bawaan

Tumbuh Kembang,Tumbuh Kembang Anak, Tumbuh Kembang Bayi, Tumbuh Kembang Balita 

Setiap tahun sekitar 40.000 bayi yang dilahirkan di Indonesia mengidap penyakit jantung bawaan dan lebih dari separuh dari jumlah itu memerlukan tindakan operasi.Dari jumlah bayi sebanyak itu baru sekitar 1.000 bayi yang bisa dioperasi tiap tahun karena berbagai keterbatasan.

Direktur Pelayanan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Anna Ulfah Rahayoe, yang ditemui Senin (16/12), menjelaskan, ribuan bayi dengan PJB meninggal di bawah usia satu bulan karena tidak tertangani. ”Saat ini di seluruh Indonesia baru ada 25 ahli jantung anak dan hanya empat orang ahli bedah jantung anak,” kata Anna.

Menurut Anna, empat jenis PJB anak usia 0-16 tahun yang paling banyak terjadi adalah Patent Ductus Arteriosus (PDA), Atrial Septal Defect (ASD), Ventricular Septal Defect (VSD), dan Tetralogi of Fallot (TOF). Sekitar 70 persen tindakan operasi dilakukan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

Banyak anak korban PJB meninggal, tetapi tidak terdeteksi dan dikira menderita penyakit gangguan pernapasan. Jumlah anak pengidap PJB mencapai 8 bayi dari setiap 1.000 kelahiran.

Meskipun demikian, Anna optimistis bahwa peningkatan penanganan PJB terus membaik.

Kasus sulit

Menyinggung pendarahan yang dialami Claudia Kristina Putranto (2) asal Cilacap, Jawa Tengah, Anna Ulfah Rahayoe menjelaskan, operasi yang dilakukan tergolong kasus TOF yang sulit. ”Posisi jantung pasien melintir sehingga pembuluh darah ke paru juga tidak tumbuh. Tindakan operasi yang diambil sangat sulit dan sudah mendapat persetujuan orang tua pasien,” kata Anna.

Menurut Anna, banyak jaringan pembuluh jantung Claudia yang melekat pascaoperasi pertama yang diadakan November 2007. Operasi yang diadakan pekan lalu sudah memenuhi semua prosedur medis. Namun, kondisi pasien memang lemah sehingga terjadi pendarahan.

Tim dokter, lanjut Anna, tengah memantau kondisi otak Claudia. Organ tubuh lain sudah distabilkan dan mulai berfungsi normal. Ditemui terpisah, Toto, ayah Claudia, mengatakan, dirinya masih bingung menghadapi nasib anak keduanya.

Secara terpisah, Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pusat Agus Purwadianto menyatakan, sampai saat ini pihaknya masih belum menerima pengaduan mengenai kasus dugaan malapraktik terhadap pasien Claudia. ”Secara kelembagaan, kami sifatnya menunggu jika ada pihak yang melaporkan kasus dugaan malapraktik,” kata Agus menjelaskan. (ONG/EVY)

6 Gejala Pada Bayi yang Tak Boleh Diabaikan

2312332p

Menjadi orangtua untuk pertama kalinya akan menjadi hal yang mengagumkan sekaligus menakutkan. Akan tambah menyeramkan ketika si bayi sakit. Untuk orangtua baru, tak heran akan ada kala terasa ingin panik setiap si bayi terbatuk atau mengalami ruam bahkan hanya sedikit. Berikut adalah gejala-gejala yang harus dinilai serius oleh para orangtua jika terlihat pada bayi:

1. Bibir biru (cyanosis)
Jika bibir bayi Anda terlihat kebiruan, atau membran mukus di dalam mulutnya atau pada lidahnya berubah biru, ini bisa jadi tanda bahwa si bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup, begitu keterangan dari Carrie Drazba, MD, dokter anak di Rush University Medical Center, Chicago. Kondisi ini disebut cyanosis. Saat ini terjadi, segeralah ke dokter atau panggil ambulans.

2. Napas terengah-engah tanpa sebab yang jelas
Setiap bayi akan menggerutu atau menghela napas dalam sesekali. Namun jika mereka terus menerus bernapas dengan berat dan terengah-engah, dan Anda melihat bahwa mereka menggunakan otot dada lebih sering ketimbang seharusnya dan cuping hidung terus-terusan mengembang saat bernapas, bisa jadi ia menghadapi masalah pernapasan. "Jika ini terjadi, segera hubungi dokter anak dan jika berlangsung cukup lama, pertimbangkan untuk membawanya ke ruang gawat darurat," saran Jadene Wong, instruktur klinik di Lucille Packard Children’s Hospital.

3. Demam lebih dari 38 derajat Celsius pada bayi baru lahir
Jika bayi yang usianya kurang dari 2 bulan mengalami demam lebih dari 38 derajat Celsius, disarankan dr Drazba untuk membawanya ke dokter anak sesegera mungkin. Demam pada bayi yang baru lahir bisa berarti beragam. Mulai dari meriang hingga meningitis. Bayi baru lahir yang mengalami demam sangat patut diperhatikan.

4. Kekuningan pada kulit
Jika kulit bayi baru lahir terlihat menguning dan tambah menguning, ia bisa mengalami masalah penyakit kuning. Ada yang kondisinya masih normal, ada pula yang harus ditindaklanjuti serius. Bilirubin diproduksi di hati. Liver pada bayi butuh waktu hingga berfungsi penuh, tetapi ketika sudah berfungsi baik, segalanya akan baik-baik. Saat kelahiran, jika hati si bayi tidak bergerak cepat, bilirubinnya bisa meningkat dan menyebabkan kulit bayi menguning. Bilirubin bayi yang meningkat bisa memengaruhi otak, menyebabkan kejang-kejang, serta kerusakan permanen.
Kebanyakan dokter akan merekomendasikan agar si ibu memberikan si bayi ASI sesering mungkin agar tubuh si bayi bisa mengeluarkan bilirubin yang berlebihan lewat BAB-nya. Langkah selanjutnya adalah menaruh si bayi di bawah sinar UV untuk terapi foto agar mempercepat pemecahan bilirubuh. Jika terus meningkat, akan dibutuhkan transfusi darah.

5. Dehidrasi
Jika si bayi jarang membasahi popoknya, sebaiknya dicurigai ia mengalami dehidrasi. Popok bayi seharusnya basah setiap hari dan makin sering basah seiring ia bertambah usia. Sekitar 6 kali popok basah ketika ia menginjak usia seminggu ke atas. Ciri-ciri lain anak dehidrasi adalah mulut kering, mata sayu, dan lesu.
Segera konsultasikan dengan dokter anak Anda. Para dokter umumnya akan merekomendasikan memberi anak cairan pengganti khusus. Air biasanya tidak disarankan karena bisa menurunkan level sodium yang bisa menyebabkan kejang-kejang.

6. Memuntahkan cairan kehijauan terang

Anak-anak seringkali muntah. Mereka bisa muntah karena batuk terlalu keras, menangis terlalu kencang, makan terlalu banyak, dan masalah perut. Jika muntahan yang ia keluarkan berwarna kehijauan, Anda sebaiknya memperhatikan lebih lanjut. Muntahan yang berwarna kehitaman juga bisa berarti hal yang serius.
Cairan muntah yang berwarna kehijauan bisa mengindikasikan ada hambatan pada saluran cernanya, yang membutuhkan perawatan lebih lanjut. Muntahan yang berwarna hitam seperti kopi bisa jadi tanda ada perdarahan di dalam. Muntah usai cidera atau kecelakaan di kepala juga butuh evaluasi lebih lanjut karena bisa mengarah kepada gegar otak. Tetapi, bagaimana pun, cidera atau benturan keras pada kepala sebaiknya diperiksa oleh dokter.
Secara garis besar, lebih baik aman dan berjaga-jaga ketimbang menyesal di kemudian hari. Saat ragu, percayakan pada insting Anda dan telepon dokter untuk bertanya.

[Kompas.com]