"Stay Home Dad" Makin Populer

0804052pMenggantikan peran istri menjaga sang buah hati sembari bekerja di rumah, kenapa tidak? Meski kadang menimbulkan dilema dengan pandangan umum, banyak keuntungan diraih dengan menjadi "ayah rumah tangga".

Mungkin tak pernah terbayang sebelumnya, sebagai seorang kepala keluarga, suami harus tinggal di rumah untuk menggantikan peranan Anda sebagai ibu. Menjaga anak, melakukan pekerjaan rumah, dan menjalani karier sekaligus, sementara umumnya para suami pergi mencari nafkah di luar.

Namun, sebenarnya menjadi seorang "ayah rumah tangga" bukanlah pilihan yang buruk untuk dilakukan. Maksimalisasi waktu yang dimiliki dan kualitas kenyamanan yang didapat sudah barang tentu memengaruhi hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Belum lagi kualitas hubungan ayah-anak yang didapat akan lebih baik dari sebelumnya.

Sayangnya, tidak semua orang menghargai pilihan ini. Pandangan negatif akan suami yang lebih banyak di rumah sering kali membuat seorang ayah rumahan menjadi tidak percaya diri menjalani peran barunya. Pandangan ini juga kerap membuat para ayah pekerja rumahan menjadi frustrasi dan lebih sensitif.

Hal ini tidak perlu terjadi asal dipersiapkan dengan matang. Caranya? Ikuti trik berikut ini.

Inventarisasi pekerjaan rumahan

Bukan mustahil seseorang menghasilkan uang tanpa harus pergi dari rumah. Namun, dibutuhkan keahlian khusus untuk menjalani sebuah karier ayah rumahan. Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjadi ayah rumahan, ada baiknya persiapkan diri dengan menginventarisasi pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah.

Pekerjaan seperti mengelola e-bisnis, copywriter, hubungan masyarakat, ahli pembukuan, penulis, dan desainerwebsite adalah beberapa pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan sembari menjadi ayah rumahan. Tentu saja, pekerjaan-pekerjaan tersebut butuh keahlian, seperti menulis serta menguasai teknologi dan informasi. Di samping itu, dibutuhkan juga modal untuk menjaga semua tetap berjalan lancar.

Peroleh keahlian khusus dengan menjalani pelatihan dan kursus, juga persiapkan modal yang cukup sebelum memutuskan menjalani karier rumahan. Apabila perlu, jalin relasi dengan komunitas yang akan memberikan keuntungan bagi karier rumahan Anda.

Belajar dari pasangan

Sebelum benar-benar final untuk menjalani peran sebagai ayah rumahan, ada baiknya pelajari dahulu hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas rumahan.

Mulai dari cara berkomunikasi dengan anak, apa saja tugas rumah tangga yang harus dilakukan, berapa jam efektif yang dapat dimiliki, hingga bagaimana menggunakan peralatan rumah tangga. Hal ini penting untuk mempersiapkan mental menghadapi perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari.

Melakukan simulasi pada akhir minggu dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah ataupun mengajak anak bercengkerama dapat saja diupayakan untuk memulainya.

Apabila perlu, tanyakan kepada pasangan apa pun yang perlu diketahui mengenai situasi rumah. Mintalah trik-trik yang biasa dilakukan pasangan untuk membuat situasi rumah terkendali.

Yakinkan diri

Bagi pria, bekerja bukan hanya memiliki arti sebagai sarana untuk menghasilkan uang. Lebih dari itu, kebanyakan pria meletakkan nilai harga diri dan bukti eksistensinya pada sebuah pekerjaan. Tak heran, ketika orang bertanya mengenai pekerjaannya, pria lebih suka menyebutkan perusahaan besar tempatnya bekerja saat ini. Lantas bagaimana jika harus bekerja di rumah saja? Kebanyakan orang tidak paham, bekerja di rumah bukan berarti lebih buruk daripada bekerja pada sebuah perusahaan.

Menanamkan dalam diri sendiri mengenai pentingnya pencapaian dan maksimalisasi hasil ketimbang terikat dengan brand perusahaan tertentu sebaiknya dimiliki para ayah sebelum memutuskan untuk bekerja di rumah. Bukan hanya para ayah rumahan, pasangan pun sebaiknya memiliki pandangan yang sepaham dengannya.

Hal ini sangat penting dimiliki pasangan untuk menjaga keharmonisan hubungan suami-istri. Setidaknya ketika orang memandang sebelah mata kepada ayah rumahan, pasangan adalah tempat mendapatkan dukungan moril yang akan membuat pria tetap nyaman dengan pilihannya. Atau paling tidak, pasangan suami-istri tidak terjebak saling menuntut ketika salah satu merasa kaget dengan peran-peran yang belum dikuasainya.

Memang, akan banyak orang yang mengkritisi atau bahkan nyinyir berbicara soal bekerja di rumah bagi seorang pria. Jangan menyerah dengan semua perlakuan itu! Memang, sekali waktu para pria yang memutuskan bekerja di rumah akan mengalami hari-hari yang buruk, bahkan terkadang merasa tidak dihargai.

Namun, yang terpenting ketika hal buruk itu datang, ingatlah jika pilihan ini adalah pilihan rasional dan paling tepat untuk dilakukan demi diri sendiri dan keluarga. Tak ada salahnya mencatat atau mengingat-ingat kembali alasan-alasan untuk menjadi ayah rumahan. Pada intinya, yang harus Anda beri kesan adalah keluarga dan diri sendiri, bukan orang lain.

[Kompas.com]

Advertisements

Peran Penting Ayah pada Kebahagiaan Anak

2202416pSebuah penelitian yang menyangkut 1.200 anak menunjukkan bahwa kunci kebahagiaan seorang anak terletak pada waktu berkualitas yang ia habiskan bersama ayahnya.

Anak-anak yang memiliki waktu tetap untuk berkomunikasi dengan ayahnya memiliki rating nilai 87 dari 100 untuk skala kebahagiaan. Sementara itu, anak-anak yang jarang berbicara dengan ayahnya menyatakan bahwa skala kebahagiaannya berada di level 79 secara rata-rata.

Hasil studi ini dilansir oleh sebuah lembaga Inggris untuk anak yang bernama Children’s Society. Mereka mengatakan bahwa hasil penelitian ini "sangat signifikan" karena riset ini menggambarkan bahwa keberadaan seseorang pada masa dewasa berkaitan dengan hubungannya dengan kedua orangtua saat ia berada di usia remaja.

Responden penelitian ini berusia antara 11 dan 15 tahun dan nyaris setengahnya mengatakan, "hampir tak pernah" berbicara dengan ayahnya mengenai topik penting, sementara hanya 28 persen anak mengatakan jarang berbicara mengenai hal penting dengan ibunya.

Para ayah mungkin saja tak memiliki waktu untuk membincangkan hal-hal yang penting dengan anaknya. Namun, mereka sering kali bermain ala pegulat dengan anak dan ternyata ini adalah hal yang penting pula untuk perkembangan anak.

"Ada penelitian yang mengatakan permainan adu gulat antara ayah dan anak (dengan lembut) bisa mendorong eksplorasi anak pada masa mendatang. Banyak yang berpikir bahwa permainan semacam ini bisa meningkatkan agresi pada anak lelaki. Namun, ada banyak data yang mendukung bahwa hal ini justru mendorong empati pada anak," papar William Pollack, profesor klinis dari Harvard Medical School.

Studi juga menunjukkan bahwa para ayah sering kali menguatkan anak dan mendorong mereka untuk bereksplorasi dan bertemu orang lain. Ayah pun lebih sering mengajak anak untuk bermain ketimbang ibu.

Patrick Tolan, profesor di Curry School di University of Virginia, mengatakan, "Para ibu membantu anak merasa lebih didengarkan, diantisipasi, dan diingini. Sementara itu, ayah mengajar mereka bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana mengontrol diri mereka saat keinginan mereka tidak terpenuhi (dengan kata lain, mengajar anak tidak manja)."

Sebuah studi lain yang dilakukan di Universite de Montreal School of Psychoeducation berupa observasi interaksi orangtua dan anak balitanya saat mereka berada di situasi berisiko. Contoh eksperimennya, seorang asing mendekati anak dan saat si anak melihat mainan ditempatkan di atas tangga. Di penelitian tersebut, terlihat bahwa ibu mencoba berada dalam jarak yang sangat dekat, sementara ayah mengamati dari jauh. Menurut para peneliti, jarak jauh yang diberikan ayah membuat anak berani untuk mengeksplorasi tanpa harus takut tak ada yang menjaganya.

"Kami menemukan bahwa para ayah lebih mendorong anak untuk mengeksplorasi ketimbang ibu. Gaya yang tak terlalu protektif inilah yang mendorong anak untuk berani bereksplorasi," ujar pemimpin studi, Daniel Paquette. Para anak yang berpikiran mandiri pasti sepakat bahwa mereka akan lebih senang bereksplorasi tanpa adanya pengawasan superketat dari ibunya setiap saat dan setiap waktu, dan hal ini akan menggiringnya ke arah kepuasan pribadi (bahagia). Intinya adalah keseimbangan tanpa perlu overprotektif terhadap anak. Jadi, jangan lupa untuk mendorong suami menyisihkan (bukan menyisakan) waktu untuk anak secara rutin, ya.

[Kompas.com]

"Baby Blues" Juga Terjadi pada Ayah

1102525pKehadiran anak dalam keluarga, apalagi anak pertama, biasanya menjadi berita gembira dan memberi rasa senang. Namun, sebagian orangtua justru mengalami kekacauan emosi menjelang dan sesudah melahirkan. Baby blues ini juga tak hanya terjadi pada istri, tetapi juga suami.

Ciri-cirinya, suami menjadi sensitif, menarik diri dari lingkungan sekitarnya, dan muncul perasaan sedih. Baby blues ini tak hanya dikaitkan dengan bagaimana pria harus bersikap terhadap si bayi, tetapi juga karena suami merasa dinomorduakan oleh sang istri. Dengan kata lain, ini kecemburuan suami terhadap anak.

Menurut Rose Mini, psikolog, depresi pada suami menjelang kelahiran bayi terjadi umumnya karena beberapa hal, di antaranya:

Anak lahir tidak sempurna

Anak yang lahir tidak sesuai ekspektasi, misalkan cacat atau ada kelainan. Sementara orangtua, termasuk suami, tidak siap menerima kondisi tersebut. Hal ini terutama terjadi jika suami merasa perilakunya di masa lalu ada yang menyebabkan anaknya lahir cacat. Rasa bersalah ini bisa semakin menekan suami.

Beban tanggung jawab lebih besar

Adaptasi terhadap kondisi baru dengan kehadiran anak sangat dibutuhkan. Peran suami juga dibutuhkan dalam merawat bayi baru lahir, misalkan mengganti popok di malam hari. Jika tidak mampu beradaptasi dan tidak dikomunikasikan dengan baik dengan istri, akan muncul tekanan dalam diri suami.

Khawatir masa depan anak

Kekhawatiran untuk mampu menafkahi seluruh keluarga, atau bagaimana masa depan sang anak nantinya, menjadi tekanan bagi seorang bapak baru. Belum lagi jika lingkungan luar menuntut peran suami lebih besar.

"Sikap saling terbuka dengan pasangan bisa mengurangi kekacauan emosi semacam ini. Pria cenderung enggan mencari pertolongan jika mengalami situasi semacam ini. Dalam hal ini dukungan dari istri maupun keluarga sangat diperlukan. Cara lainnya adalah dengan konseling," papar Rose dalam talk show "Healthy Life" di Metro TV.

Menurut Rose, orang dengan karakter yang cenderung cemas berlebihan memiliki potensi lebih besar untuk mengalami baby blues.

[Kompas.com]