Ajarkan Anak Bicara Baik

1750247p

Berbuat baik juga bisa dilakukan lewat mulut. Menjaga perkataan, memberi semangat, mengucapkan kata-kata yang menentramkan hati, menginspirasi dalam mencari jalan keluar, hingga sekadar memberi senyum yang menyenangkan kepada orang-orang di sekitar, merupakan perbuatan yang mendatangkan pahala.

Namun, apa jadinya bila niat berbuat baik ini terhalang bau mulut tak sedap. Menjaga kesehatan mulut dan perilaku, penting dimiliki di bulan yang penuh rahmat ini. Nah, berikut kiat dari sejumlah pakar agar si kecil memiliki mulut yang baik di sepanjang bulan yang baik ini.

Menjaga perkataan
Ungkapan “anak-anak adalah peniru yang baik” sebaiknya perlu diperhatikan para orangtua. Terutama pada anak-anak usia di bawah 6 tahun (usia pra sekolah), yang belum paham betul sikap yang ditirunya di lingkungan. Seringkali mereka menirukan perkataan maupun perilaku yang kurang baik, hingga menyakiti orang di sekitarnya. Dan orangtua pun merasa kecewa dengan perilaku anaknya ini.

Menurut Titi P. Natalia, staf pengajar program Magister Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta, ketika menemui anak mengatakan hal kurang baik, orangtua jangan buru-buru menganggapnya nakal dan berperilaku negatif. Sebaiknya tanyakan alasan dan pemahamannya akan perkataan yang baru saja diucapkannya. Anak yang berkata kurang baik belum tentu bermaksud seperti apa yang dikatakannya. Bisa jadi ia sekadar menirukan perkataan orang dewasa, tayangan teve, siaran radio, teman bermain, atau sumber lain, tanpa paham maksud yang sebenarnya.

Jika demikian, jangan mengisolasi anak dari pengaruh buruk lingkungan. Bekali dengan pemahaman dan logika berpikir yang baik, akan lebih efektif dilakukan. Sehingga, sekalipun ia berinteraksi dengan lingkungan yang memberi pengaruh buruk, ia tak akan begitu saja mengikuti dan menjadikannya kebiasaan. “Biar bagaimana pun, kita tak bisa mengubah begitu saja lingkungan di sekitar anak. Di mana pun anak bergaul, akan selalu ada anak-anak yang baik dan kurang baik,” ujar Titi.

Untuk menanamkan perilaku baik kepada anak, tentu harus dimulai dari kebiasaan dalam keluarga. Seperti hubungan ibu dan ayah yang baik, pendidikan moril dan agama yang baik, merupakan modal awal bagi anak untuk punya perilaku dan perkataan yang baik sehari-hari. Tanamkan pemahaman, anak-anak memang sedang dalam proses belajar dan beradaptasi. Sehingga, seburuk apapun perilakunya, selalu masih ada peluang untuk diperbaiki.

“Jangan buru-buru menghardik atau memarahi anak yang tiba-tiba mengumpat. Apalagi melarangnya bermain dengan teman yang membuatnya belajar mengumpat. Justru itu akan membuatnya menutup diri dan mengulangnya di lain hari,” Titi mengingatkan.

Alam bawah sadar
Menurut Titi, jika si kecil bicara kurang baik, sebaiknya orangtua segera memanggil dan bertanya dengan lembut, “Sayang, kamu tadi bicara apa, sih?” Selanjutnya klarifikasi apakah ia benar-benar paham arti kata yang diucapkannya atau tidak. Biarkan ia mengungkapkan pemahaman yang dimiliki atas perkataan itu. Jika ia tak paham, beri penjelasan dan alasannya mengapa itu tak baik diucapkan. Lalu, akhiri dengan, “Kalau begitu, lain kali jangan diucapkan, ya!” Yang penting, jangan bosan-bosan mengingatkan anak. Menanamkan perilaku positif juga bisa dilakukan lewat alam bawah sadar anak. Misalnya, saat ia tidur bisikkan, “Adik nanti bicara yang baik, ya!” Atau, “Adik pasti bisa bicara manis, kan?”

Ulangi terus kebiasaan ini setiap hari. Jika sudah terekam baik di alam bawah sadarnya, ia akan mengubah perilakunya secara bertahap menjadi lebih baik. “Alam bawah sadar ini memang lebih banyak jadi pengontrol perilaku sehari-hari,” ungkap Titi.

Jika anak suka membantah saat dinasihati, ada baiknya orangtua mengintrospeksi pola komunikasi dengan anak yang selama ini diterapkan. Menurut Titi, anak yang suka membantah bukan karakter dasar anak. Kondisi itu tercipta dari perlakuan yang diberikan orang dewasa terhadapnya. Perlakuan yang kerap mengabaikan, menghakimi, menyalahkan anak, dan lainnya inilah yang memicu anak jadi pembantah. Sehingga, sebelum disalahkan, ia memilih membantah terlebih dulu.

Bila orangtua menganggap tak punya masalah dengan perilaku itu, bisa jadi hal ini dilakukan orang dewasa lain yang ikut andil dalam pengasuhan anak. Cari tahu dan beritahu orang lain di rumah yang ikut berinteraksi dengan anak tentang cara menasehati si kecil dengan baik. 

Yang penting, beri contoh baik kepada anak dengan perilaku terpuji sehari-hari. Sesekali ajak anak bersedekah, membantu orang kurang mampu, memperhatikan anak yang nasibnya kurang beruntung. Ini akan memperkaya jiwa empati dan membuat anak punya rasa toleransi lebih besar kepada sesamanya.

[Kompas.com]

Menghadapi Anak Ceriwis

1546502pTipe anak memang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang ceriwis. Anak ceriwis selalu saja memiliki bahan pembicaraan, mengajukan pertanyaan ini apa-itu apa, melontarkan pendapat (meski tak diminta), atau lancar sekali menirukan gaya omongan orang lain.

Tipe ceriwis atau pendiam mulai terlihat kala anak berusia satu tahunan. Bahkan di usia dua tahunan, anak yang kemampuan bicaranya sangat bagus mampu merangkai 3-4 kosa kata sekaligus. Jadi bicara pada usia batita sudah menjadi semacam "pilihan", apakah anak mau bicara banyak (si ceriwis), atau sedikit (si pendiam). Ada yang berpendapat si ceriwis akan lebih cerdas ketimbang si pendiam, karena ia begitu banyak merangkai pertanyaan akan segala hal yang dilihatnya. Benarkah demikian?

Ternyata, belum tentu! Anak ceriwis, yang banyak bertanya namun tidak mendapat respons yang baik dari orangtuanya, pengetahuannya pun tidak akan bertambah. Sebaliknya, anak pendiam yang orangtuanya selalu memberi stimulasi, selalu mengajaknya bicara, aktif memberikan informasi-informasi terbaru, tentu memiliki wawasan lebih luas ketimbang anak yang ceriwis. Kebiasaan si ceriwis, yang lebih sering berbicara dan bertanya, diakui ahli memang membuat kerja otaknya lebih giat. Namun, si pendiam pun bila selalu aktif mengamati apa yang terjadi di sekitarnya, sama-sama mendapatkan stimulasi yang memacu otaknya untuk berkembang.

Nah, pada anak ceriwis, dalam kehidupan sehari-hari Anda akan dibikin kerepotan menjawab pertanyaannya yang tak ada habisnya. Bagaimana cara menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ceriwis kecil ini? Ini dia tip yang diberikan Ade Irma, S.Psi., M.Si., dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

1. Jawablah setiap pertanyaannya. Kalau pun kita tidak tahu, tak perlu lantas sok tahu. Jujurlah. "Maaf ya, Ibu dan Ayah juga belum tahu jawabannya. Nanti kita cari di buku ya," pernyataan maaf lebih baik ketimbang memberinya jawaban asal-asalan.

2. Gunakan kalimat sederhana saat berkomunikasi dengan batita. Kalimat panjang dan berbelit-belit hanya akan membuat si kecil sulit menangkap inti dari suatu topik pembicaraan, dan semakin banyak pertanyaan yang diajukannya.

3. Ketika anak mengomentari segala hal yang dilihatnya, tunjukkan antusiasme sewajarnya. "Wah… anak Ibu sudah pandai bicara, ya!" Ini adalah sebagai bentuk apresiasi supaya anak merasa dihargai.

4. Jangan pernah memarahi keceriwisannya. "Ih, Adek tuh cerewetnya minta ampun, deh!" Kalau seperti itu, anak merasa tidak dihargai. Lama-lama bahkan tidak berani lagi mengungkapkan isi hati dan mengutarakan keingintahuannya. Padahal dari sini lah kemampuan bicara dan kecerdasannya akan terasah.

5. Kalau pun anak bertanya dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat, sampaikan dengan jujur keberatan kita. "Dek, Ibu lagi nelepon nih. Nanti saja ya, tanyanya setelah Ibu selesai."

[kompas.com]