Menguak Misteri Tidur

1141543620X310Reaksi karena kekurangan tidur sudah banyak dibuktikan. Salah satu yang fenomenal adalah ketika Randy Gardner (17) memecahkan rekor tidak tidur selama 264 jam (11 hari) pada akhir tahun 1963. Menurut pengamatan William Dement, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, California, Amerika Serikat, mood Gardner terus berubah, memori dan konsentrasinya hilang, koordinasi dan kemampuan bicara terganggu, serta mengalami halusinasi.

Sungguh, tidur bukan masalah sepele. Sudah banyak kecelakaan dan kejahatan terjadi karena gangguan tiduri. The National Sleep Research Project mencatat, meledaknya pesawat ulang alik Challenger tahun 1986 yang menewaskan ketujuh astronotnya dipicu oleh kesalahan teknis gara-gara sang mekanik kurang tidur.

Penyebab serupa mengakibatkan meledaknya salah satu reaktor pada reaktor nuklir Chernobyl (1986) yang menyebarkan kontaminasi radioaktif hingga ke Belarus, Ukraina, dan Rusia.

Karamnya kapal tanker Exxon Valdez setelah menabrak karang di perairan Alaska (1989) juga terkait dengan gangguan konsentrasi. Kapal itu menumpahkan 41,8 juta liter minyak mentah dan mencemari garis pantai sepanjang 2.080 kilometer.

Namun, seperti ditulis Newscientist, sampai kini belum ada yang tahu berapa lama manusia mampu bertahan tanpa tidur. Yang pasti, kondisi tanpa tidur bisa berakibat fatal. Tikus percobaan di laboratorium yang terus-menerus dipaksa bangun akhirnya mati setelah dua minggu. Ini waktu yang jauh lebih pendek apabila dibandingkan dengan tikus yang dibiarkan mati kelaparan.

Dampak kesehatan

Tidur merupakan topik penelitian paling kaya saat ini: mengapa manusia memerlukannya, mengapa susah untuk bisa tidur nyenyak, bagaimana tidur memengaruhi kemampuan motorik dan berpikir manusia, serta dampak pada kesejahteraan.

Daniel Kripke dari The Scripps Clinic Sleep Center di La Jolla, California, mengungkapkan, tidur berkorelasi dengan banyak hal. Seperti dikutip majalah Time dan CNN, tidur tidak hanya terkait dengan berbagai penyakit, melainkan juga menentukan panjang pendeknya umur seseorang.

Lama tidur yang ideal adalah 6,5-7,5 jam pada malam hari. Kurang atau lebih dari itu ternyata bisa berdampak buruk. "Kalau digambarkan seperti huruf U, artinya kekurangan atau kelebihan tidur sama saja akibatnya," kata Kripke.

Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang jam tidurnya ideal kebanyakan berumur panjang. Sebaliknya, orang yang tidur hingga delapan jam atau lebih dan tidur kurang dari 6,5 jam berumur lebih pendek.

Kekurangan atau kelebihan tidur juga berdampak pada depresi, kegemukan, dan munculnya penyakit jantung. Sayang, penelitian ini belum dilanjutkan dengan menguji apakah perubahan pola tidur bisa menyembuhkan mereka yang sudah terkena berbagai gangguan kesehatan di atas.

Pada anak-anak, dampak gangguan tidur sama buruknya. Sleep Disorders Center di Rumah Sakit Sacre-Coeur, Montreal, Kanada, membuat penelitian dengan hampir 1.500 anak berusia 2,5-6 tahun sebagai respondennya. Pada penelitian yang untuk pertama kalinya secara komprehensif melihat pengaruh tidur pada anak-anak tersebut, orangtua diminta mengisi kuesioner tentang jumlah waktu tidur anak pada malam hari, hiperaktivitas, impulsivitas, gangguan konsentrasi, dan tingkat kengantukan pada siang hari.

Hasilnya, 50 persen anak rata-rata tidur 10 jam pada malam hari. Jumlah ini sesuai dengan rekomendasi waktu tidur untuk anak pada usia prasekolah.

Namun, ada 6 persen anak yang waktu tidurnya kurang dari 10 jam. Menurut Dr Jacques Montplaisir, peneliti utama program ini, anak-anak dengan waktu tidur pendek ternyata koleksi kosakatanya sedikit dan kurang memuaskan hasil tes kognitifnya.

"Satu jam kekurangan tidur berkorelasi dengan tiga kali penurunan kepandaian dan kemampuan anak berkomunikasi," katanya.

Juga tidak mengherankan bila kekurangan waktu tidur terkait dengan tingginya hasil tes hiperaktivitas dan impulsivitas pada anak-anak berusia enam tahun. Hasil ini konsisten dengan temuan bahwa waktu tidur yang cukup akan meningkatkan kemampuan anak berkonsentrasi.

Walaupun demikian, psikolog Prof Jodi Mindell dari Universitas Saint Joseph di Philadelphia, AS, mengingatkan untuk tidak buru-buru khawatir bila ada anak-anak yang jam tidurnya kurang. "Penelitian Montplaisir perlu mengukur faktor-faktor lain agar hasilnya lebih akurat," katanya.

Bisnis besar

Apa boleh buat. Pada era serba komodifikasi sekarang, persoalan tidur akhirnya menjadi bisnis besar. Dengan memasukkan kata kunci sleep research pada mesin pencari di internet, muncul 5,4 juta hasil.

Selain itu, ada begitu banyak pusat penelitian, organisasi, bahkan jurnal yang khusus membahas tidur. Sebutlah di antaranya Journal of Sleep Research, Sleep Research Society, Center for Sleep Research, hingga American Board of Sleep Medicine.

Organisasi yang terakhir disebut di atas tampaknya perlu karena untuk mengatasi gangguan tidur di AS  setiap tahunnya lebih dari 50 juta pil tidur diresepkan dokter pada tahun 2008. Masyarakat juga membelanjakan lebih dari 600 juta dollar AS per tahun untuk membeli suplemen kesehatan yang bisa mempercepat kantuk, seperti melatonin dan akar valerian.

Ungkapan Benjamin Franklin, salah satu Bapak Bangsa AS, memang tidak berlebihan. Tidur cepat, bangun cepat, adalah kunci kesehatan, kesejahteraan, dan kebijaksanaan. Ternyata itu mahal harganya.

[Kompas.com]

Advertisements

Anak Aktif Lebih Mudah Tidur

0956203pApakah kita termasuk orangtua yang membiarkan anak untuk bebas beraktivitas? Jika iya, kita pasti tidak kesulitan menyuruh anak untuk tidur pada malam hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di New Zealand, anak yang aktif tidak hanya cepat tidur, tetapi memiliki kualitas tidur yang baik.

Dr Ed A Mitchell, kepala penelitian yang dilakukan University of Auckland, bercerita bahwa bahwa ia tertarik meneliti kualitas tidur anak karena menemukan data bahwa 1 dari 6 orangtua melaporkan kesulitan untuk menyuruh anak-anak mereka tidur pada malam hari. Alhasil, Mitchell melibatkan 591 anak-anak yang berusia 7 tahun dalam penelitiannya.

Bersama timnya, Mitchell memantau tingkat aktivitas yang dilakukan anak-anak tersebut selama 24 jam. Caranya? Dengan menempelkan sebuah alat pengukur di pinggang mereka. Secara rata-rata, butuh waktu 26 menit bagi orangtua untuk membuat anak-anak mereka tidur pada malam hari. Namun, semakin aktif anak-anak mereka pada siang hari, maka waktu yang diperlukan untuk menyuruh anak-anak tidur semakin pendek.

"Hanya dengan satu jam melakukan aktivitas fisik, itu membuat anak akan 6 menit lebih cepat tidur," ucap Mitchell seraya menyebutkan bahwa penelitiannya telah dipublikasikan pada Archives of Disease in Childhood. Mitchell menambahkan, jika  dikonversikan, maka aktivitas fisik selama satu jam itu sama saja dengan meminta anak-anak untuk berlari. "Walaupun sebenarnya hanya beraktivitas fisik 43 menit, kebutuhan olahraga anak-anak sudah tercukupi.”

Selain membuat anak-anak cepat tidur, aktivitas fisik juga membentuk jantung dan berat badan yang sehat pada anak-anak. Mengenai kualitas tidur, anak-anak yang tidur lebih cepat akan memiliki waktu yang lebih lama untuk menikmati tidur.

Ketika tidur inilah hormon pertumbuhan anak bekerja lebih maksimal. Itulah mengapa kualitas tidur akan selalu berkaitan dengan status kesehatan anak secara menyeluruh. "Bahkan pada anak-anak mulai ditemukan bahwa kesulitan tidur membuat mereka berisiko mengalami obesitas," ungkap Mitchell.

[Kompas.com]

Penelitian : Tidur Lelap Cegah Anak Obesitas

1122473pFakta mengejutkan yang ditemukan adalah: kurang tidur di masa kecil cenderung menyebabkan obesitas di masa dewasa. Penelitiannya dilakukan oleh Universitas Otago, Dunedin, Selandia Baru, yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics belum lama ini. Riset tersebut melibatkan lebih dari seribu orang yang dipantau sejak lahir hingga berusia 32 tahun. 

Tentu saja, kurangnya waktu tidur di masa kanak-kanak bukan satu-satunya penyebab obesitas. Ada juga faktor genetik (jika kedua orangtua yang obesitas, kemungkinan 80% akan menghasilkan anak obesitas, jika salah satu orangtua obesitas, kemungkinan 40% anaknya obesitas), kurang gerak dan olahraga, serta konsumsi makanan yang tidak bijak. Namun, kurang tidur di masa kecil terbukti paling dominan menyebabkan seseorang mengalami obesitas di kemudian hari.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Rupanya, anak yang kurang tidur cenderung mengalami kelelahan sepanjang hari. Akibatnya ia enggan melakukan kegiatan aktif, sehingga kalori yang masuk ke dalam tubuhnya tidak terbakar sempurna, dan ditimbun sebagai lemak.
Kurangnya waktu tidur juga menyebabkan produksi ghrelin dalam tubuhnya jadi lebih tinggi, sementara produksi leptin-nya lebih rendah. Ghrelin adalah hormon yang memicu meningkatnya nafsu makan, sedangkan sebaliknya, leptin adalah hormon penghambat keinginan untuk makan. Apabila kandungan ghrelin dalam tubuh anak tinggi, ia cenderung merasa lapar terus. Ditambah lagi, leptin anak yang kurang tidur menjadi rendah, sehingga tidak ada hormon yang membatasi keinginan makan berlebihan.

Robert John Hancox, peneliti senior dalam tim riset tersebut lantas mengingatkan para orangtua untuk mulai mengatur pola tidur malam anak dengan baik. Sebab penting disadari, kekeliruan pola tidur anak akan membawa konsekuensi seumur hidup. Untuk itu, para ahli merekomendasikan tidur bayi selama 10,5-18 jam/hari, anak 1-3 tahun 12-14 jam/hari, anak 3-5 tahun 11-13 jam/hari, anak 5-12 tahun 10-11 jam/hari, sedangkan remaja disarankan tidur 8,5-9,5 jam semalam. 

[Kompas.com]