Rangsang 8 Bentuk Kecerdasan dengan Mainan

1430466p

Saat bayi mulai bisa berinteraksi dengan sekitarnya, maka dia sudah memiliki keinginan untuk bermain. Karena hasrat bermain ini sebenarnya adalah salah satu caranya untuk belajar mengenai diri dan sekitarnya.

Itu mengapa, permainan yang kita berikan pada anak haruslah yang dapat memicu perkembangan otak hingga membentuk kecerdasan optimal. Dan sebenarnya tak perlu permainan yang jelimet untuk merangsang kecerdasan anak. Menurut Anita Hairunnisa, dalam bukunya Kreasi Mainan Unik & Lucu Untuk Mengasah Bakat dan Kecerdasan Buah Hati, setiap anak memiliki delapan potensi kecerdasan atau multiple intelligences.

Semua kecerdasan ini pasti ada, hanya saja kadar atau tingkat dominasinya berbeda-beda pada setiap anak. Oleh karena itu, penulis yang juga seorang pendongeng ini percaya tak ada anak yang bodoh. Bahkan dari sebuah permainan, kita bisa menemukan sekaligus merangsang potensi kecerdasan anak kita. Dan permainan itu adalah :

1. Kecerdasan bahasa (Word Smart) Kecerdasan ini meliputi kemampuan anak dalam merangkai kata, baik dalam tulisan maupun perkataan. Anak dengan kecerdasan bahasa yang tinggi akan lebih suka dengan permainan seperti bercerita atau mendongeng, membaca buku, scrabble, menulis, dan menyukai bahasa asing. Maka tak heran jika anak dengan kecerdasan bahasa akan lebih cepat dan sering berbicara, terutama dengan kata-kata baru.

2. Kecerdasan matematis (Logic Smart) Anak dengan kecerdasan ini akan menikmati permainan komputer, bermain detektif, teka-teki, atau proyek sains sederhana. Sebabnya, anak dengan kecerdasan matematis yang tinggi akan memiliki konsep matematika, sains, dan pemecahan masalah yang baik karena melibatkan logika.

3. Kecerdasan spasial (Picture Smart) Biasanya akan ditandai dengan suka berjalan-jalan dan menikmati pemandangan, plus memilki ingatan yang kuat. Sebab segala yang menarik perhatiannya akan disimpan dalam imajinasinya. Maka tak heran jika sering disebut sebagai ‘si mata super’. Imajinasi dan daya ingat yang kuat akan membuatnya mengekspresikan ide dalam bentuk seni, desain, atau eksperimen.

4. Kecerdasan Musikal (Musical Smart) Kecerdasan musikal meliputi kemampuan anak dalam mengapresiasi musik, bernyanyi, memainkan alat musik, atau bahkan menikmati tayangan musikal. Coba perhatikan apakah anak ikut bersenandung setiap kali orang-orang di sekitarnya bernyanyi? Jika iya, coba kenalkanlah dengan alat musik.

5. Kecerdasan Kinesitetik (Body Smart) Ciri utamanya adalah lincah, gesit, dan cekatan maka kemampuannya dalam melakukan segala sesuatu yang melibatkan tubuhnya akan sangat piawai dilakukan. Olahraga, ketrampilan, seni tari, atau drama, adalah beberapa kegiatan yang melibatkan kecerdasan kinestetik.

Ajak anak membuat seekor domba dari sebutir telur ayam yang direbus. Rekatkan kapas, mata mainan pada telur rebus, serta hias menyerupai seekor domba lucu. Permainan ini melibatkan olah tubuhnya sehingga merangsang kecerdasannya.

6. Kecerdasan Interpersonal (People Smart) Inti dari kecerdasan ini adalah kemampuan bersosialisasi. Mudah bergaul, memahami pikiran, dan peka terhadap perasaan orang lain menjadi ciri dari anak yang dominan kecerdasan interpersonalnya. Kita bisa merangsang kecerdasannya dengan mengajak membuat wayang sumpit.

Caranya dengan menggunting gambar dari buku atau hasil gambar sendiri, lalu tempelkan di atas karton dan potong mengikuti bentuk gambar. Ambil sumpit dan tempelkan di bagian belakang gambar dan wayang sumpit pun siap dimainkan. Ketika anak memainkannya dengan orang lain, itu akan menjadi media melatih kecerdasan interpersonalnya.

7. Kecerdasan Intrapersonal (Self Smart) Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang dominan akan ditandai dengan memahami diri sendiri, bisa mengekspresikan perasaan, keinginan, dan mengetahui kemampuannya. Anak ini juga mampu menyemangati diri sendiri, mempunyai kepercayaan yang tinggi serta menghargai dirinya sendiri.

Anita menyarankan kita bisa mengajaknya membuat boneka dari styrofoam. Bentuk berbagai pola binatang atau orang menggunakan pensi, kemudian gunting, dan hiasi pola tersebut untuk kemudian ditempelkan pada sedotan. Saat anak berhasil menyelesaikan boneka pertamanya, ia akan merasa pintar dan percaya diri. Kepercayaan inilah yang nantinya akan menularkan keberanian lainnya.

8. Kecerdasan Naturalis (Nature Smart) Jika anak kita sangat menyukai segala hal yang berkaitan dengan alam dan aktivitas di luar ruangan, maka kecerdasan yang dominan pada anak kita adalah nature smart. Itu mengapa mengajaknya untuk berkenalan dengan binatang, tanaman, dan alam semesta adalah hal-hal yang mampu menarik perhatiannya.

Siapa bilang butuh biaya mahal untuk merangsang kecerdasan anak, karena ternyata hanya perlu kreativitas serta waktu bermain yang menyenangkan antar orang tua dan anak. Jadi, sudah siap mengeksplorasi kecerdasan anak melalui permainan?

[Kompas.com]

Advertisements

FingerPrint, Bonding dengan Anak

Fingerprinting itu Mudah dan Mendidik

1429006p

Anda mungkin pernah mendengar tentang "fingerprint" (sidik jari) atau tentang "fingerpainting" (melukis dengan jari sebagai kuas). Tetapi pernahkah Anda mendengar "fingerprinting"?
Fingerprinting merupakan sebuah cara untuk mengembangkan sidik jari berwarna sebagai gambar. Dari sidik-sidik jari yang ditinggalkan pada kertas, ditambahkan detail-detail kecil untuk memperjelas gambar. Fingerprinting berbeda dengan fingerpainting. Fingerpainting adalah kegiatan melukis menggunakan jari-jari dan tangan yang bersentuhan langsung dengan cat lukis.
Pada umumnya, setiap orang memiliki sidik jari. Sidik dari masing-masing jari  kita saja sudah berbeda, apalagi dengan sidik jari orang lain. Hal tersebut sudah membuat fingerprinting unik. Christina Hong, pengarang buku Fingerfun: A Guide to Fingerprinting Art menjelaskan, "Denganfingerprinting, my picture and your picture will be different. My picture wil bear my fingerprint, and so does yours. Jadi personalisasinya sangat kuat."
Tak hanya dalam bentuk sidik jari saja, tetapi, jika diperhatikan, kelima jari kita memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang besar, ada yang menengah, juga ada yang kecil, alhasil ukurannya macam-macam. Berawal dari ide iseng, sekitar tahun 2000-an, Christina main-main dengan stempel kantor. Ia mencoba mencipta gambar-gambar dari sidik jarinya yang terbentuk pada kertas. Saat itu, warna stamp pad sangat terbatas. Barulah sekitar 5 tahun yang lalu, sudah banyak stempel mainan anak-anak yang keluar, dan warna-warninya menggelitik kreativitas Christina. Ide yang terlihat simpel ini pun makin berkembang, awalnya, ia hanya mengajarkan pada anak-anaknya, kemudian ia ajarkan kepada anak-anak di acara-acara di museum dan perpustakaan, hingga akhirnya ia menciptakan buku tersebut.
Beberapa waktu lalu, Christina yang sehari-harinya tinggal di Singapura sempat mengunjungi Indonesia dan menggelar kelas fingerprinting di Gramedia Bookstore Grand Indonesia Shopping Town. Di sana, ia bercerita kepada Kompas Female, "Fingerprinting itu sangat mudah dan less intimidating. Mudahnya begini, tempelkan ujung jari pada ink pad khusus fingerprinting, lalu tempelkan jari tersebut pada kertas, bisa terlihat hasilnya bentuk bulat. Kalau jarinya miring sedikit dan lebih banyak daerah yang terkena tinta, Anda akan mendapatkan bentuk oval, seperti cap sidik jari. Lalu kalau kita pakai bagian pinggir jari, tarik ke bawah, akan terbentuk raindrop shape. Mudah, kan? Nah, dari bentuk-bentuk itu, tinggal tambahkan garis-garis untuk memperjelas gambar."
Menurut Christina, fingerprinting berbeda dari menggambar konvensional dengan pensil atau pulpen. "Misal, untuk menggambar burung saja, kita harus memutar pulpen untuk mencipta oval kepala atau badannya, kemudian menambah garis kecil detail, lalu mewarnai. Mungkin buat orang dewasa yang sudah banyak berlatih, hal itu mudah, tetapi untuk anak-anak, itu tidak mudah. Nah, kalau denganfingerprint, semua orang pada umumnya memiliki jari untuk melakukannya, dan bentuk-bentuk tadi bisa terwujud dengan mudah, plus sudah langsung keluar warnanya. Tinggal tambahkan detail-detail kecil untuk membuat gambarnya makin jelas," terang Christina.
"Ini bukan hasil karya yang butuh kreativitas tinggi. Perlu diingat bahwa saya bukan seniman. Amat mudah untuk siapa pun mencoba hal ini, karena tak butuh kreativitas tinggi. Kita bisa coba-coba sendiri dan go wild with your imagination," jelasnya.
Jika diperhatikan, selain mudah untuk mengajak anak bermain fingerprinting, ada keuntungan lain yang didapat, antara lain;
* Hal yang mudah dan bisa dicoba oleh siapa saja.
* Membantu motorik halus anak-anak.
* Membantu anak mengerti tentang basah, licin, dan tingkat konsentrasi cat.
* Membantu anak mengembangkan kreativitas dan eksplorasi bentuk serta warna.
* Mengajak anak untuk menuangkan apa yang ada di dalam pikirannya.
* Anak akan belajar mandiri dan percaya diri.

Caranya pun tak terlalu sulit, Anda bisa membuat campuran pewarna yang aman untuk anak (food coloring yang dicampur tepung), lalu mulai celupkan ujung jari dan tempelkan pada kertas. Atau, lebih mudahnya, Anda bisa beli buku sekaligus cat Fingerprinting Art Book keluaran Faber Castell, sudah tersedia di toko-toko buku besar, seperti Gramedia Bookstore. Happy fingerprinting!

Stimulasi Bermain sejak Dini untuk Kecerdasan Anak

1328059p

Apakah stimulasi bermain sejak dini itu? Menurut Dr Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, stimulasi dini adalah rangsangan bermain yang dilakukan sejak bayi baru lahir. Rangsangan atau stimulasi ini sebaiknya dilakukan sejak janin masih berusia 6 bulan di dalam kandungan. Mengapa?

Stimulasi dipercaya dapat memengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida, yang penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Rangsangan yang harus dilakukan dengan penuh kegembiraan, kasih sayang, dan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera. Selain itu, harus juga merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan, dan jari-jari, mengajak komunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dari pikiran bayi dan balita.

Rangsangan yang dilakukan dengan suasana bermain dan kasih sayang, sejak lahir, terus-menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipatgandakan jumlah hubungan antarsel otak sehingga membentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Dengan demikian, kecerdasan anak makin tinggi dan bervariasi (multiple intelligence).

Lalu, bagaimana menstimulasi janin yang masih dalam kandungan? Si ibu atau ayahnya bisa melakukannya dengan berbicara dekat perut si ibu, menyanyikan lagu, membaca doa, lagu-lagu keagamaan, sambil mengelus perut si ibu. Dapat pula memperdengarkan lagu dengan menempelkanearphone di perut ibu atau si ibu juga mendengarkan lagunya. Ada sebagian literatur yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu klasik baik untuk perkembangan otak anak. Jika memang ingin memperdengarkan lagu klasik pada anak, penting juga untuk si ibu menyukai lagu-lagu tersebut. Sebab, suasana hati si ibu juga bisa memengaruhi si bayi. Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap hari, setiap saat ibu bisa berinteraksi dengan janinnya, misal, saat mandi, masak, cuci pakaian, berkebun, dan sebagainya.

Sementara untuk bayi atau balita, stimulasi bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai perkembangan usianya, contoh:

Usia 0–3 bulan, berikan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, membunyikan suara atau musik, menggerakkan benda berwarna mencolok, benda berbunyi, menggulingkan bayi ke kanan/kiri, tengkurap-telentang, dan dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Usia 3–6 bulan, bisa dengan bermain “cilukba”, melihat wajah bayi di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Usia 6–9 bulan, panggil namanya, salaman, tepuk tangan, bacakan dongeng, rangsang duduk, latih berdiri berpegangan.

Usia 9–12 bulan, mengulang menyebut mama-papa, kakak, masukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, gelindingkan bola, latih berdiri, jalan berpegangan.

Usia 12–18 bulan, latihan dengan corat-coret pensil warna, susun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle), masukkan dan keluarkan benda kecil dari wadah, main dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap, dan lainnya. Latihlah untuk berjalan tanpa pegangan, jalan mundur, panjat tangga, tendang bola, lepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukkan ini, ambil itu), sebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18–24 bulan, tanyakan, sebutkan, tunjuk bagian-bagian tubuh (mata, hidung, telinga, mulut, dan lainnya), tanyakan gambar atau sebutkan nama binatang dan benda-benda di sekitar rumah, ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi), latihan gambar garis, cuci tangan, pakai baju-celana, main lempar bola, melompat, dan lainnya.

Umur 2–3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit, dan lainnya), sebutkan nama teman, hitung benda, pakai baju, sikat gigi, main kartu, boneka, masak-masakan, gambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/besar di toilet.

Setelah 3 tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi ini juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain; memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil/besar di toilet), dan kemandirian (ditinggal di sekolah), berbagi dengan teman, dan lain sebagainya. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga), tetapi dapat pula di kelompok bermain, taman kanak-kanak, atau sejenisnya.

[Kompas.com]