Bermain, Penting untuk Tumbuh-Kembang si Kecil

1056524p

Masih ingatkah Anda dengan kejadian meninggalnya seorang bocah akibat terjatuh dari lantai atas rumah susun tempatnya bermain? Saking asyiknya anak itu bermain, dan orang tua sibuk dengan pekerjaan atau urusan masing-masing, sehingga pengawasan terhadap anak-anak menjadi kendor. Hal ini menunjukkan kelalaian orangtua, tetapi sekaligus juga mengingatkan kembali betapa anak-anak kekurangan tempat untuk bermain.

Padahal, bermain adalah hak asasi anak-anak. Konvensi Hak Anak-anak mencantumkan bahwa anak-anak punya hak untuk beristirahat dan bersantai, bermain, dan turut serta dalam segala kegiatan rekreasi sesuai dengan usianya. Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) pasal 7 ayat 3 mencantumkan hal yang sama tentang hak anak-anak.

Sayangnya, kadang-kadang terbatasnya lahan bermain, taman, ataupun tanah lapang menjadi kendala bagi mereka untuk bermain. Contohnya saja, anak-anak yang bermain sepak bola di kolong jembatan, di pinggir sungai, atau pun di pinggiran jalan, memiliki resiko mengalami kecelakaan.

”Jatuhnya anak dari balkon yang seharusnya bukan tempat mereka bermain merupakan salah satu sinyal kalau memang mereka kekurangan arena atau tempat untuk bermain,” jelas Efriyani Djuwita, MSi, psikolog anak dari FKUI.

Bahkan dari banyak kasus yang terjadi saat ini, bukan hanya terbatasnya lahan bermain yang menjadi penyebab anak kurang bermain. Hal-hal lainnya antara lain:

  1. Segi waktu. Anak-anak terbatasi karena mengikuti sejumlah kegiatan. Misalnya, diikutsertakan dalam les atau kegiatan ekstrakurikuler.
  2. Orangtua membatasi waktu bermain di luar rumah. Orangtua takut akan terjadi penculikan, si kecil bergaul dengan anak-anak nakal, atau akibat disiplin yang terlalu ketat.
  3. Kondisi bermain anak-anak yang terbatas. Tidak ada taman, dan lokasi rumah yang berada di lingkungan yang kurang sehat. Akibatnya anak hanya di dalam rumah, diberi mainan yang kurang mendidik seperti game atau playstation.
  4. Pengawasan anak kurang, karena tidak ada pengasuh khusus, orang tua bekerja, dan lingkungan rumah dirasa kurang aman. Mungkin bagi Anda ini terlihat sepele. ”Ah, untuk apa sih anak bermain, lebih baik belajar,” ujar Djuwita menirukan salah satu orangtua yang berkonsultasi padanya.

Padahal, bermain memiliki banyak manfaat. Lewat bermain anak-anak akan melatih keseimbangan tubuh dan gerak motorik halus atau kasar. Mereka juga akan berlatih untuk menggunakan ototnya, mengkoordinasikan gerakan, dan melatih dan mempertajam panca indera (misalnya pendengaran), dan menyalurkan energi. Hal ini bukan hanya sebatas motorik. Ada manfaat lain yang bisa didapat lewat bermain. Misalnya aspek sosial:

  1. Membina relasi dan komunikasi. Anak-anak yang bermain dengan teman-temannya akan terlatih untuk berbicara, dan membangun pertemanan.
  2. Belajar peran sosial. Misalnya mereka berpura-pura menjadi dokter, polisi, atau juru masak. Semua ini membutuhkan teman untuk bermain.
  3. Belajar peran jenis kelamin. Misalnya saat menirukan menjadi ayah atau ibu.
  4. Belajar mengatasi masalah. Misalnya saat teman menangis, marah, bermain curang, menyakiti. Mereka akan tahu apa yang harus dilakukan.
  5. Belajar aturan atau moral. Karena bermain berkelompok, mereka tahu cara membela teman atau memperlakukan lawan main, lalu jika salah harus minta maaf. Bermain juga memiliki manfaat dalam aspek emosi dan kepribadian. Misalnya ekspresi diri, konsep diri, sportivitas, tanggap, menyenangkan, dan melepaskan ketegangan. Dalam aspek kognitif, misalnya: mengembangkan kreativitas, daya ingat, dan imaginasi.

[Kompas.com]

10 Kiat Kembangkan Otak Anak

094736p

Dijelaskan oleh Dr. Eddy Supriyadi, Sp.A, dari RS Sardjito Yogyakarta, ada dua komponen dasar dalam perkembangan otak anak, yaitu lingkungan yang aman dan pengalaman positif. Saat seorang bayi merasa tertekan, otak akan merespon dengan menghasilkan zat kortisol. Kadar kortisol yang tinggi akan memperlambat perkembangan otak.

Lingkungan aman dan nyaman diperlukan bayi untuk membantu perkembangan otaknya. Beri respon saat bayi menangis maupun mengoceh.
Pengalaman yang diterima setiap hari juga akan membantu perkembangan otak anak. Aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengajak anak ke pasar atau ke toko buku, ujar dokter anak lulusan UGM ini, sangat penting untuk pembentukan jaringan perkembangan sel otak. Dr. Eddy memberikan 10 tip bagi orangtua untuk membangun dasar perkembangan otak anak:

  1. Beri perawatan dan kasih sayang yang adekuat selama masa kehamilan.
  2. Beri nutrisi yang cukup. Enam bulan pertama kehidupan bayi, berikan kecukupan nutrisi dengan ASI.
  3. Berikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
  4. Berbicaralah kepada bayi. Buat kontak mata saat berbicara dengan anak. Jangan lupa selalu tersenyum kepada anak.  
  5. Bila harus menitipkan anak, carilah tempat penitipan yang bermutu tinggi.
  6. Kenalkan aneka ragam musik pada anak, dan bernyanyilah bersama.
  7. Beri interaksi yang nyata dengan anak demi perkembangan otaknya. Jangan biarkan anak menonton televisi terlalu lama. Batasi waktunya.
  8. Beri ruang bagi anak untuk dapat berinteraksi dengan teman sebaya.
  9. Redakan stres pada orangtua. Orangtua yang mengalami stres cenderung mengalihkan stres kepada anaknya. Bila Anda merasa stres, cobalah bercerita kepada orang yang dekat dengan Anda.
  10. Ingat, otak tidak akan pernah berhenti berkembang. Jadi, beri stimulasi yang tepat sebanyak-banyaknya secara terus-menerus.

[Kompas.com]

Beda Anak Laki-laki dan Perempuan dalam Bersahabat

1419332p

Cara anak laki-laki dan perempuan memandang persabahatan berbeda, ungkap dr Thomas S. Jensen, MD, psikiater dari Babyzone.com. Saat beranjak dewasa, anak perempuan lebih mendefinisikan persahabatan sebagai teman yang mau mendengarkan dan mengerti, sekaligus tempat curhat dan berbagi emosi. Sementara anak-anak laki-laki memandang persahabatan sebagai teman berbagi waktu bersama, ada di sisinya saat ia menghadapi konflik, dan berbagi ketertarikan yang sama. Bagi anak laki-laki, keintiman emosional tak terlalu penting dalam mendefinisikan kedekatan hubungan ketimbang kesetiaan saat ia menghadapi masalah.

Kedekatan anak dan orangtua terbentuk dalam 24 bulan pertama kehidupannya. Kedekatan itu memiliki pengaruh besar terhadap hidup anak, termasuk melandasi hubungan di masa depan anak, begitu terang dr Michael Handwerk, PhD dari lembaga peneliti kesehatan anak di Nebraska, AS. 

Kehadiran saudara juga memiliki pengaruh terhadap gaya persahabatan anak dalam cara positif dan negatif. Cara anak menghadapi saudaranya bisa memengaruhi caranya bersahabat di masa depan. Beebrapa anak cukup beruntung untuk bersahabat dengan saudaranya sendiri.

Menurut dr Jensen, cara anak laki-laki dan perempuan bersahabat serupa di awal usianya, atau hingga masa pre-school. Namun, cara anak laki-laki bersahabat mulai berubah sekitar usia 7 tahun, dan biasanya emosinya pun mulai berkurang. Hal ini bisa terlihat jika Anda memerhatikan interaksi anak-anak perempuan berteman dibanding sekumpulan anak-anak laki-laki saat bermain bersama. Anak perempuan umumnya lebih mudah bergaul, bermain kooperatif, mau menegosiasikan konflik, dan menunjukkan perasaan saat ia bermain rumah-rumahan, misalnya. Sementara anak laki-laki bermain dengan cara berbeda, mereka lebih cenderung bermain dengan cara kompetitif, mengetes kesetiaan teman, dan membandingkan kemampuan fisik dan ukuran.
Salah satu hal yang paling sering didebatkan adalah, mulai di usia 7 tahun, anak laki-laki mulai malas menunjukkan tindakan afeksi kepada orang-orang di sekitarnya, seperti berpelukan. Menurut dr Handwerk, sebenarnya anak laki-laki juga bisa menunjukkan tindakan afeksi sebebas anak perempuan, namun, di kesehariannya, baik itu melalui media sosial atau orang-orang di sekelilingnya tidak menunjukkan tindakan itu, alhasil ia tidak mau melakukan hal-hal afeksi itu, karena di pikirannya itu adalah tindakan yang khusus untuk perempuan yang lemah. Di masa sekarang, tindakan afeksi sudah cukup luwes, tindakan afeksi atau untuk membuat anak lebih terbuka dengan sentuhan afeksi dalam batas wajar bisa diajarkan lewat tindakan orangtuanya.

[Kompas.com]