6 Pilar Pola Asuh Positif

1902273p

Tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Tetapi, orangtua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan. Ilmu pengasuhan ini dapat Anda peroleh dari berbagai sumber, seperti seminar atau artikel di majalah dan buku-buku.

Pada dasarnya, ada enam pilar penting dalam pengasuhan anak, demikian menurut Hanny Muchtar Darta, saat peluncuran sekaligus bedah bukunya, Six Pillars of Positive Parenting, di arena Islamic Book Fair, Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/3/2011). Hal ini yang belum diketahui orangtua pada umumnya.

"Tanpa disadari, masih banyak orangtua yang menerapkan pola asuh atau pendekatan negatif dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sebagai orangtua saya mengusahakan untuk belajar. Saya belajar untuk anak-anak saya, termasuk mempelajari enam pilar dalam mendidik anak-anak. Ini juga berdasarkan pribadi saya sebagai orangtua," ungkap Hanny.

Pilar pertama yang dimaksudnya adalah, kemitraan atau kerja sama antara ayah dan ibu (partnership parenting). Orangtua harus belajar bekerja sama dengan baik, terutama dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak. Jangan sampai ada perbedaan pendapat dalam mengajarkan kedisplinan dan norma-norma kehidupan. Dengan demikian, anak akan mematuhi bimbingan orangtua karena melihat baik ayah maupun ibunya sepakat memberikan pandangan yang sama.

imagePilar kedua terdiri atas "4B", lanjut Hanny, yaitu belailah, bicaralah, bermain, dan berpikir. Hanny memaparkan hasil penelitian Dr Harold Voth, psikiater dari Kansas, Amerika, mengenai unsur belaian. Berapa kali belaian yang Anda berikan pada anak setiap harinya akan memengaruhi tumbuh-kembangnya. Misalnya, empat belaian pada anak dalam sehari bisa membuat anak selalu survive. Delapan belaian sehari dapat mendukung masa tumbuh anak. Sedangkan 12 belaian akan membuat anak sehat secara fisik maupun emosi. Fungsi belaian ini pun berlaku bagi pasangan suami-istri. Belaian mampu mengusir depresi, membuat kita awet muda, tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Kemudian Hanny menganjurkan orangtua untuk menjalin komunikasi dengan anak. Komunikasi dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan membacakan buku untuk anak dan menanyakan pendapatnya mengenai isi buku itu.

Selain ngobrol, orangtua juga harus menyempatkan waktu untuk mengajak anak bermain dengan melibatkan fisik. Pada kesempatan bermain, peran ayah jauh lebih besar untuk mengajak anak melakukan kegiatan seperti olahraga maupun melakukan permainan lain. Tak hanya bermain secara fisik, anak juga harus diajarkan bermain dengan menggunakan ekspos pikiran. Hal ini membantu anak untuk mengelola alam pikirannya. Latihan berpikir juga membantu anak mengomunikasikan apa yang dipikirkannya karena belum tentu pikiran anak dan orangtua sama.

Pilar ketiga, antara orangtua dan anak selalu ada kesepakatan dalam melaksanakan kedisiplinan, dan terapkan aturan secara konsisten. Aturan tidak harus selalu dibuat oleh orangtua. Contohnya dalam menyepakati jam belajar. Anak dan orangtua bisa berdiskusi, berapa jam yang dibutuhkan anak untuk mengulang pelajaran sekolahnya. Orangtua menunjukkan cinta kasih tetapi tetap dengan ketegasan.

"Pilar keempat, orangtua harus memahami emosi negatif anak sejak dini. Ketika anak kita sedih dan menangis, tanyakan mengapa ia sedih, atau apa yang membuatnya menangis. Kita coba pahami perasaan anak untuk memperbaiki emosi-emosi negatifnya," ujar Hanny.

imagePilar kelima, yaitu pentingnya gaya bahasa positif agar anak sehat secara fisik dan emosional. Pada bagian ini, Hanny mengutip pernyataan dari Task Force for Personal and Social Responsibilities di Amerika yang menjelaskan bahwa setiap harinya orang mendengarkan 432 kata dan kalimat negatif, dan hanya 32 kata dan kalimat positif. Sebanyak 80 persen kata-kata tersebut menyakitkan, memberikan dampak psikologis yang buruk, dan tidak memotivasi orang untuk bangkit. Sisanya, 20 persen orang bertahan meskipun mendengar kata-kata tersebut. Oleh karena itu, orangtua perlu belajar untuk tidak marah secara berlebihan, apalagi mengancam anak.

Pilar terakhir dalam buku ini, orangtua harus menerapkan pola asuh tanpa hukuman. Ternyata hukuman saja tidak membuat anak mampu melakukan perubahan positif. Orangtua sepatutnya memberikan kebebasan pada anak, bukan dalam arti kebebasan penuh, melainkan membiarkannya memilih konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Dengan demikian anak bisa memetik pelajaran atas apa yang sudah dilakukannya.

Selain memaparkan tentang pilar-pilar pengasuhan anak, buku ini juga membeberkan hasil penelitian para ahli dan serangkaian cerita-cerita tentang keluarga.

Pola Asuh Ibu yang Relevan Sepanjang Masa

0913264p

Menjadi orangtua di era digital rasanya lebih mudah dibandingkan masa lalu. Setiap kali kebingungan menghadapi perilaku anak atau remaja, Anda bisa mencari solusi melalui mesin pencari di internet. Seringkali, beberapa pola asuh sudah diterapkan sejak lama oleh para orangtua kita. Anda hanya perlu berkomunikasi dengan orangtua, mencari tahu bagaimana dulu mereka mengasuh Anda sebagai anaknya.
Kim Grundy, penulis portal SheKnows khusus pola asuh dan hiburan menemukan cara ibu mengasuh anak yang diterapkan sejak lama, dan masih relevan hingga kini. Pengalaman yang didapati Grundy dari ibunya:
1. Menciptakan tradisi keluarga
Saat kecil, pernahkah Anda dibuatkan perayaan ulang tahun oleh orangtua? dengan menggelar sebuah pesta atau acara sederhana. Cara ini adalah bentuk penghargaan orangtua terhadap anak-anak. Anak akan merasa dianggap spesial oleh orangtuanya, tatkala dilibatkan atau dibuatkan dalam sebuah acara untuk dirinya. Merayakan ulang tahun anak bisa menjadi salah satu cara menciptakan tradisi di rumah. Anda tak perlu membuat pesta besar-besaran dengan menghadirkan berbagai jenis hiburan. Cukup dengan membangun kebersamaan, tradisi keluarga sederhana yang dirayakan hanya oleh orangtua dan anak. Denga begitu, anak akan selalu merasa dihargai dan menanti momen kebersamaan atau tradisi dalam keluarganya.
2. Menjadi koki cerdik di rumah
Tak semua anak menyukai sayur atau buah, padahal makanan sehat ini dibutuhkan tubuhnya. Anda mungkin juga kesulitan memberikan makan sayur atau buah kepada si kecil di rumah. Dibutuhkan kreativitas ibu untuk mendapatkan solusi masalah ini, salah satunya cerdik menjadi koki di rumah.
"Ibu saya mencampurkan bumbu alami atau makanan sehat dalam setiap hidangan. Ibu berhasil menjadi koki cerdik di rumah," aku Grindy.

3. Memastikan anak terlindungi

Kesehatan dan penampilan menjadi perhatian khusus ibu kepada anaknya, bahkan untuk urusan sepele sekalipun. Mulai membangun kebiasaan minum susu dan vitamin, yang tentu saja bisa melindungi anak dari berbagai serangan penyakit. Hingga anjuran untuk tidak menyipitkan mata, karena terlalu sering menyipitkan mata di masa muda akan membuat kerutan bertambah saat usia bertambah.
Ibu juga paling rewel soal penampilan. Pernahkah dahulu, orangtua Anda mengeluhkan cara berpakaian Anda? Atau Anda saat ini sering mengeluh kepada anak remaja Anda tentang cara berpakaiannya? ini adalah bentuk perhatian ibu, yang ingin mengajarkan anak cara berbusana yang baik dan tepat sesuai acara. Saat dewasa nanti, kebiasaan yang dibangun sejak kecil ini memberikan manfaat bagi anak.
4. Membiasakan diri bersikap positif
Anak-anak belajar dari pengalaman hidupnya sejak kecil, termasuk perilaku orangtuanya. Jika orangtua memberikan contoh perilaku positif, anak pun akan mengadopsinya.
Dari pengalamannya, Grundy mendapati ibunya seringkali menebar senyum, berpikir baik agar hasilnya atau yang terjadi dalam hidupnya juga baik, dan selalu mengalahkan ketakutan. Perilaku orangtua yang positif akan direkam oleh anak dan menjadi contoh. Kebiasaan bersikap mental positif nyatanya dimulai dari orangtua, anak hanya akan mengekor saja.
5. Tegas untuk melindungi

Ketegasan orangtua diperlukan anak untuk melindungi dan membangun karakter anak secara lebih positif. Grundy merasakan manfaat dari pola asuh orangtuanya yang tegas dan tearah. Grundy tumbuh tanpa terbiasa menonton televisi atau fasilitas lain yang bersifat hiburan. Lantas apa yang dirasakan manfaatnya oleh Grundy saat ini? kebiasaan dan konsep pola asuh yang diterapkan orangtuanya mengajarkan banyak hal. Diantaranya, mendorong anak untuk kreatif dan berpikir selangkah lebih maju. Pembatasan yang dialaminya bukan tanpa maksud. Namun justru memberikan pembelajaran yang terasa manfaatnya di kemudian hari.
Anda punya pengalaman lain seputar pola asuh ibu sewaktu Anda kecil? pengasuhan yang dahulu tak disukai namun kini berbuah manis, karena Anda merasakan sendiri manfaatnya.

[Kompas.com]

Memaksimalkan Pola Asuh bagi Orangtua Bekerja

1402018pOrangtua, terutama ibu bekerja yang memiliki balita, seringkali merasa bersalah meninggalkan anak di rumah.  Menjadi masalah, ketika perasaan khawatir dan sedih muncul karena kehilangan kesempatan mendampingi balita.
Tak perlu khawatir, karena dengan cara yang tepat, peran orangtua bisa tergantikan sementara selama ayah dan ibunya bekerja. Bahkan, dr Erlina Sutjiadi, SpKJ, menegaskan bahwa anak tak perlu menjadi masalah bagi orangtua bekerja. Dokter spesialis kesehatan jiwa ini pun berbagi caranya:

Percayakan kepada pengasuh
Bagaimanapun, kata dr Erlina, anak secara perlahan perlu dilepas sebagai bagian dari proses membangun karakter mandiri. Jika orangtua bekerja, kebutuhan pengasuh menjadi penting. Namun, jangan sembarangan mencari pengasuh. Sebaiknya seleksi calon pengasuh yang memiliki kasih sayang. Orangtua juga perlu menunjukkan sikap menghargai kepada pengasuh, kata dr Erlina.

"Dengan lebih menghargai pengasuh, akan muncul sikap tanggung jawab yang baik terhadap anak  yang dititipkan kepada pengasuh selama ibu bekerja,"

Jangan membawa masalah ke rumah
Ciptakan suasana menyenangkan saat pulang ke rumah setelah bekerja. Sebisa mungkin hindari raut wajah yang murung, dan gantikan dengan senyuman saat tiba di rumah. Energi positif perlu dibangun orangtua, dengan menciptakan perasaan menyenangkan untuk berkumpul bersama buah hati. Dengan begitu, ayah dan ibu bisa menikmati waktu yang berkualitas bersama balita yang masih sangat membutuhkan perhatian orangtuanya.

Membangun komitmen bersama anggota keluarga
Menitipkan anak atau balita kepada kakek-neneknya menjadi pilihan orangtua bekerja.  Namun hanya karena kakek-neneknya adalah orang terdekat Anda, Anda tidak boleh mempercayakan anak begitu saja dalam pengasuhan mereka. Nenek atau kakek cenderung menerapkan caranya sendiri kepada cucu, yang mungkin berbeda pola asuh Anda dan pasangan.

Anda dan pasangan perlu kompak dengan orangtua yang bersedia mengasuh anak selama Anda bekerja. Pengasuhan yang diberikan perlu sejalan, jadi sebaiknya bicarakan kepada orangtua Anda bagaimana pola pengasuhan yang sudah Anda dan pasangan terapkan kepada buah hati. Jika tidak anak akan bingung dengan perbedaan pola asuh antara ayah-ibu dan kakek-neneknya.

Jika Anda dan pasangan sudah cukup konsisten menerapkan pola asuh, Anda tidak mudah goyah dengan rengekan anak. Contohnya, sekali mengatakan "tidak" untuk sebuah permintaannya, selanjutnya harus tetap "tidak". Pola seperti ini juga perlu diterapkan oleh orang lain yang mengasuh anak Anda, misalnya pengasuh, kakak-adik, atau teman Anda.

[Kompas.com]