Apa Pengaruh Televisi Terhadap Anak?

tv-kidsSekarang ini anak-anak semakin sering menghabiskan waktu di depan televisi. Padahal, pengaruh yang ditimbulkan oleh televisi lebih banyak negatif dibanding positifnya. Berikut di antaranya:

* Pengaruh fisik

Anak-anak yang banyak menonton televisi cenderung memiliki masalah kegemukan. Karena biasanya, sambil menonton televisi mulut mereka terus mengunyah junk food atau camilan terlalu banyak. Akhirnya selera makan mereka pada makanan sehat menurun. Selain itu, pembakaran kalori tubuh saat menonton televisi jauh lebih sedikit dibandingkan jika mereka aktif bermain. Anak-anak yang sudah benar-benar tenggelam konsentrasi menonton televisi, metabolismennya menurun hingga di bawah rata-rata normal pada saat anak istirahat.

* Pengaruh psikis

Banyaknya iklan di televisi mendorong anak jadi konsumtif. Anak-anak yang banyak menonton televisi juga cenderung lebih agresif dibandingkan dengan yang jarang. Program televisi yang menayangkan kekerasan memperkenalkan sifat agresif pada anak.

Televisi juga bisa merampas waktu bermain anak-anak dan memotong komunikasi sosial mereka. Padahal yang paling penting dikembangkan pada anak-anak adalah kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman atau orang lain. Sedangkan menonton televisi adalah pasif dan tidak ada proses tidak interaktif meskipun orang lain berada di dekatnya.

[Kompas.com]

Advertisements

Pola Menonton Televisi Anak Sangat Buruk

tvPola menonton televisi anak secara umum masih buruk karena konsumsi yang tinggi, yakni 4-5 jam sehari atau 30-35 jam seminggu. Bahkan, anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi dibandingkan dengan di sekolah.

Demikian dikemukakan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Nina Mutmainnah Armando dalam diskusi Bijak Menyikapi Media bagi Buah Hati di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (17/7). ”Padahal, sebenarnya anak hanya boleh menonton televisi paling lama dua jam per hari,” ujarnya.

Nina menambahkan, anak-anak menonton segala acara di televisi, termasuk tayangan untuk orang dewasa.

Psikolog anak, Rose Mini, mengatakan, anak sangat mudah terpengaruh media audio dan visual karena stimulus yang lebih intens dan lebih menarik bagi anak. Melalui media, pola pikir anak cenderung konkret, apa yang dilihat dianggap benar sehingga anak dikhawatirkan akan meniru mentah-mentah apa yang disajikan televisi.

Alangkah baiknya, menurut Rose, jika orangtua melakukan ”diet media” kepada anak. Bagi anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak menonton media apa pun, sedangkan anak usia lebih dari 2 tahun harus dibatasi menonton televisi.

Nina menambahkan, anak rentan karena belum kritis berpikir dan cenderung meniru. Anak akan menyerap tawaran dari media karena ia belum memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. ”Anak ’lari’ ke media karena tidak ada yang dilakukan,” ujarnya.

Bukan sahabat anak

Secara terpisah, psikolog anak, Seto Mulyadi, mengatakan, televisi sebenarnya bukanlah sahabat yang baik untuk anak-anak. Namun, karena tidak ada kegiatan lain yang diarahkan orangtua, anak dengan sangat gampang memilih televisi sebagai ”sahabat”. ”Sejak pagi buta hingga malam, anak-anak ditemani oleh tayangan-tayangan yang tidak mendidik, tetapi terkadang membuat anak-anak larut dan terlena,” kata Seto Mulyadi.

Ia menambahkan, televisi ternyata membawa pengaruh negatif yang jauh lebih besar daripada positifnya. ”Programinfotainment dan reality show pun tak luput jadi tontonan anak-anak dan remaja,” ujarnya.

Seto, yang baru kembali dari Swedia mengikuti pertemuan yang membahas media dan anak-anak, menjelaskan, media tanpa sadar cenderung merusak anak-anak. Seksualitas, kekerasan, mistik, dan gosip yang bertebaran di televisi telah merusak anak dan tak mencerdaskan anak.

Menurut Seto, harus ada unsur idealisme dari pengelola media televisi dalam membuat program yang bisa membuat bangsa ini maju. Pertelevisian di Indonesia perlu merancang program-program yang mencerdaskan dan ramah kepada anak.

[Kompas.com]

Televisi Ganggu Konsentrasi Anak

child-watching-television-silhouetteAnak-anak yang terlalu banyak menonton televisi atau bermain video games lebih beresiko mengalami gangguan perilaku. Manifestasinya anak tidak mampu berkonsentrasi dan sulit menyelesaikan tugas. Gangguan perilaku ini bukan cuma berdampak di usia kanak-kanak, tapi juga bisa terbawa hingga dewasa.

Sulit berkonsentrasi adalah bila anak tidak fokus memperhatikan suatu hal atau perhatiannya terpecah dan mudah beralih. Untuk suatu pekerjaan, dia akan sulit menuntaskannya. Penyebab sulitnya konsentrasi pada anak bisa disebabkan karena faktor internal, seperti ada gangguan perkembangan otak, atau karena faktor eksternal, seperti terlalu banyak menonton televisi.

Dalam sebuah penelitian, Edward Swing, peneliti dari Iowa State University, membandingkan responden yang menonton televisi atau video games kurang dari 2 jam setiap hari dengan mereka yang menonton lebih banyak. Waktu menonton televisi untuk anak usia dua tahun ke atas yang dianjurkan oleh American Academy of Pediatrics adalah maksimal 2 jam setiap hari.

"Mereka yang tidak mengikuti rekomendasi para ahli dan menonton TV lebih dari 2 jam, memiliki risiko gangguan konsentrasi 1,6 hingga 2,2 kali lebih tinggi," kata Swing. Anak-anak usia sekolah ternyata lebih banyak yang mengalami gangguan konsentrasi dibandingkan pada mahasiswa, meski mereka sama-sama kebanyakan nonton TV atau main video games.

Pada penelitian ini, Swing melibatkan 1.300 anak di kelas tiga, empat, dan lima sekolah dasar selama 13 bulan. Ia juga meneliti 210 mahasiswa mengenai kebiasaan menonton televisi dan pengaruhnya. Selain mewawancari si anak tentang durasi menonton TV, orangtua anak juga ditanya mengenai kebiasaan nonton TV anak mereka. Setelah itu, Swing dan timnya mewawancarai para guru di sekolah tentang perilaku anak.

Para guru melaporkan, gangguan perilaku yang kerap ditemui di sekolah antara lain anak sulit memusatkan perhatian atau sulit diam saat mengerjakan tugas-tugas sekolah, bahkan sering mengganggu anak lain.

[Kompas.com]