Menonton Televisi yang Sehat

kidwatchingtvKunci hidup sehat ternyata tidak hanya olahraga, istirahat, dan makan teratur, tetapi juga mengurangi waktu menonton televisi. Kenapa menonton televisi masuk pada gaya hidup yang membuat seseorang dekat dengan penyakit? Bukankah menonton televisi itu cukup rileks, tidak ada aktivitas fisik atau pikiran di dalamnya? Menonton televisi berlebihan dinilai dapat memengaruhi kesehatan. Sayang, hal ini tidak diketahui banyak orang. Padahal, orang senantiasa menghabiskan waktunya berjam-jam, bahkan ada yang seharian, duduk manis di depan layar kecil.

Sepintas kita akan susah membedakan efek yang dirasakan orang yang senantiasa menghabiskan waktunya menonton televisi dan yang tidak bercengkerama dengan tontonan audiovisual. Akan tetapi, dalam hal-hal tertentu, kita dapat membedakan orang yang banyak menonton televisi dan tidak. Secara fisik dan mental ada perbedaan signifikan di antara keduanya. Perilaku dan sikap orang yang tidak terkontaminasi tontonan televisi lebih murni. Artinya, mereka berbuat sesuatu tanpa digerakkan hal-hal di luar dirinya. Sementara orang yang banyak menonton televisi akan lebih agresif, banyak meniru. Karakter diri itu sejatinya sudah lebur dengan informasi baru yang didapatkan via tayangan televisi.

Kondisi ini dikhawatirkan menimpa anak-anak yang menjadikan televisi sebagai teman bermain karena orangtua mereka sibuk mengejar mimpi. Bahkan sebagian orangtua merasa terbantu dengan tayangan anak-anak di televisi yang membuat sang anak bisa bermain sendirian. Secara perlahan budaya seperti ini akan membuat anak senang dengan dunianya sendiri. Efek yang lebih parah, dia akan susah menerima teman baru yang mengharuskannya bersosialisasi dan berinteraksi dengan dunia riil.

Menurut Jack Rubinstein, peneliti Physorg, ada beberapa efek negatif lain dari menonton televisi, di antaranya dapat membuat penonton mengalami obesitas, hipertensi, dan diabetes. Studi menunjukkan bahwa duduk dan bersantai dalam kurun waktu lama akan berdampak pada tekanan darah.

Pantas saja orang yang banyak menonton televisi adalah mereka yang terancam obesitas dan tekanan darah. Pasalnya, orang yang menonton itu pasif, diam menyaksikan sajian televisi. Mulai anak-anak sampai yang tua pun akan duduk santai menikmati tayangan demi tayangan yang menjadi menu favoritnya.

Teman setia

Setelah menghabiskan waktu sekitar delapan jam atau lebih untuk bekerja, beraktivitas, atau belajar, pada dasarnya manusia membutuhkan waktu rehat untuk menyegarkan konsentrasi dan fisik. Kebanyakan melampiaskan atau mencari penyegaran pada televisi. Rata-rata enam jam sehari orang menonton televisi.

Ini tidak disalahkan, tetapi alangkah baiknya orang banyak berolahraga seusai bekerja, terlebih aktivitas kerjanya banyak duduk. Boleh saja menyempatkan menonton, tetapi kitalah raja atas tayangan yang kita tonton. Kitalah yang menentukan menu-menu yang cocok untuk diri dan keluarga. Ketika sudah duduk menonton televisi, kebanyakan dari kita terbius olehnya. Bahkan ada yang tidak bisa menolak bujuk rayu tayangan sehingga membuat kita terpesona untuk menontonnya terus.

Dengan beragam menu tayangan, televisi bisa menyulap pemirsanya kapan pun, saat sedang melakukan apa pun. Sekali saja menonton, dia akan terhipnotis untuk tidak beralih dari tempat duduknya. Ada daya tarik dalam tayangan yang melibatkan gerak dan suara sebagai kelebihannya ketimbang media lain. Maka, dia akan kuat duduk menghabiskan waktu dalam menunggu tampilan selanjutnya. Tren imitasi

Ketika televisi belum datang, masyarakat senantiasa mencari dan menciptakan jenis permainan dan hiburan untuk mengisi waktu senggangnya. Kondisi itu berubah total ketika televisi datang menghampiri ruang-ruang keluarga. Aktivitas manusia tergantikan. Tidak tanggung-tanggung, televisi merampasnya. Maka, manusia pun kebingungan. Setelah melihat suguhan televisi begitu menggiurkan, akhirnya manusia terbius dan terobsesi ingin meniru apa yang dipertontonkan televisi. Lahirlah budaya tiru-meniru atau imitasi yang sekarang sudah menggurita di mana-mana.

Jelas ini penyakit yang susah dicari penawarnya. Dari imitasi ini akan bermunculan penyakit lain. Ujung-ujungnya adalah nafsu konsumerisme, kekerasan, agresivitas yang tidak pada tempatnya, kriminalisasi, nafsu syahwat yang meningkat, dan budaya instan yang terus menguat. Kalau sudah tercipta penyakit seperti ini, tidak akan ada budaya kreatif mencipta yang bisa menghasilkan produk, tetapi segala sesuatu ingin serba instan dan mudah didapatkan.

Kalau saja tidak ada inovasi dan kreativitas tayangan televisi dalam menampilkan suguhan, penonton tidak akan terstimulasi. Daya imajinasi dan kreasinya tidak akan muncul. Maka, bisa dipastikan kita akan terkena dampak epigon, pengekor, dan mengikuti siapa saja yang lahir atau muncul lebih dulu. Fenomena ini sudah sangat kentara di belantara budaya, kebiasaan, dan interaksi di masyarakat Jawa Barat.

Televisi adalah teropong yang bisa melihat masa lalu dan memprediksi masa depan. Televisi juga menjadi media penampil second reality. Artinya, televisilah sang sutradara kehidupan manusia yang harus berbuat seperti apa. Kebebasan dan tidak adanya usaha menutupi kebebasan dalam penyiaran sudah harus dibarengi dengan budaya menonton tayangan yang menyehatkan, baik secara fisik maupun psikis. Sangat disayangkan kalau kehadiran televisi tidak memberikan kontribusi positif atas dinamika manusia. Televisi harus menyertai dan menjadi sumber inspirasi dalam aktivitas manusia yang membutuhkan akselerasi dan inovasi tiada henti.

Pengaturan jadwal menonton televisi merupakan keharusan. Sebab, televisi merupakan media yang unggul segala-galanya. Tidak hanya visual dan audio, kecepatan penyajiannya bisa memanjakan pemirsa. Ini berbeda dengan media cetak atau online yang mengharuskan kita membaca atau memahami pesan tekstualnya.

Televisi dari pagi sampai pagi lagi menampilkan sajian-sajian yang sudah terseleksi dan memiliki agenda matang. Hal itu akan membuat semua sajian menarik. Diperlukan kesadaran dan ketajaman dalam memilih mata acara. Terlebih, pemirsa harus tahu tayangan yang sehat dan kebutuhan utama dalam memilih jam tayang.

ENCEP DULWAHAB Dosen Ilmu Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Pengelola De Rumah Komunikasi

[Kompas.com]

Hidup Tanpa TV, Mungkinkah?

1051064p

Banyak orang tua cemas terhadap pengaruh buruk TV pada anak. Sampai-sampai, ada yang tak menyediakan pesawat TV di rumah. Padahal, TV juga bisa menjadi sarana pendidikan, lho. Jadi, mungkin enggak, sih, anak hidup tanpa TV?
‘Kenapa tidak?" ujar M. Elisabeth Arman, SPsi, pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta. Malah menurut Lisa, sapaan akrabnya, kondisi tanpa TV amat ideal buat anak usia batita karena TV belum memberi manfaat pada mereka.
Anak usia batita, terangnya, masih sangat tergantung pada sosok ibunya. "Ia sama sekali belum bisa memilih, menilai, apalagi mencerna program-program yang ditayangkan. Ia cuma pemirsa pasif, hanya menerima dan menyerap informasi sebanyak mungkin." Dengan kata lain, TV bukan merupakan kebutuhan anak usia batita. Jadi, kalaupun ditiadakan, tak akan menimbulkan masalah apapun.
Sebaliknya, justru bisa timbul masalah kalau ada TV. Ia bisa "keranjingan" nonton, hingga saat makan pun maunya di depan TV. Tak lain karena si ibu ataupun pengasuhnya hobi nonton. "Orang dewasa inilah yang pasti memaksa anak ikut nonton agar ia tak perlu repot mengikuti dan mengawasi batita yang bergerak ke sana ke mari." Atau, agar keasyikannya nonton enggak terganggu; paling tidak, agar sinetron kesukaannya tak terlewatkan.
Tak heran bila akhirnya -setelah lepas usia batita- anak jadi punya kebiasaan nonton TV, bahkan bisa sampai berjam-jam tak beranjak dari depan TV. Kalau sudah begitu, TV lah yang disalahkan; bukannya si ibu sadar anaknya jadi punya kebiasaan nonton TV gara-gara dirinya juga.
Kebutuhan sosialisasi
Jadi, kuncinya terletak pada diri kita sendiri, apakah TV akan berpengaruh buruk atau tidak pada anak. Jikapun kita ingin meniadakan "si kotak ajaib" itu, patut dipertanyakan sampai usia berapa anak mau "dibebashamakan" dari pengaruh TV dan siapkah kita menghadapi implikasi-implikasi tertentu akibat tak ada TV.
Soalnya, tutur Lisa, untuk anak-anak yang lebih besar, TV boleh jadi merupakan salah satu kebutuhan sosialisasinya. "Ingat, anak adalah mahluk sosial." Malah sejak usia setahun pun ia sebenarnya sudah mulai bersosialisasi, hanya masih dalam lingkungan sangat terbatas dan akan meluas seiring pertambahan usianya. Hingga lepas usia batita, aktivitas ini semakin gencar dilakukan. Bahkan, ia belajar banyak dari teman-temannya atau membentuk peer group. Nah, dengan sesama teman inilah, ia biasanya asyik ngobrol. Apa lagi yang dibicarakan kalau bukan tentang TV? Terutama tokoh-tokoh tertentu dalam serial yang memegang rating tinggi alias jadi buah bibir.
Jadi, bisa dibayangkan kalau ia tak pernah nonton TV. Ia tak tahu siapa Ben Tennyson, misalnya, atau tak tahu kecerdikan Upin dan Ipin. Tentu ia akan dibilang norak atau ketinggalan jaman oleh teman-temannya. Padahal buat anak, dikata-katai seperti itu akan sangat memukul harga dirinya. "Sama halnya bila kita tak mengikuti tren mode. Menyakitkan sekali bukan kalau penampilan kita dibilang norak? Sementara dalam diri tiap orang ada kecenderungan untuk selalu ikut apa yang dipakai orang lain."
Implikasi lain yang harus juga diperhitungkan, kenyataan bahwa TV ada di mana-mana, dari rumah-rumah gubuk di bantaran kali atau pinggir rel kereta api sampai rumah-rumah mewah. Nah, apakah kita siap dianggap "aneh" oleh orang-orang sekitar? Hal ini bukan tak berdampak pada si kecil, lho. "Ia akan tumbuh menjadi anak yang merasa berbeda dengan anak lain hingga merasa aneh sendiri." Jadi, saran Lisa, tak perlulah kita bersikap berlebihan seperti itu.
Nonton di rumah tetangga
Memang, ujar Lisa paham, orang tua bermaksud baik, yakni agar anak tak terkena "polusi" berupa adegan kekerasan dan sebagainya. Sayangnya, maksud baik itu malah membuat anak jadi korban. "Ia merasa terasing di tengah keramaian dan keceriaan dunia anak-anak. Kasihan, kan?"
Lagi pula, stimulus buruk tidak hanya bersumber dari TV semata. Yang tak kalah penting, apakah orang tua nantinya betul-betul bisa menjalankan fungsi controlling terhadap peraturan yang agak di luar kebiasaan ini. "Nah, siapkah orang tua terus-menerus memantau dan intensif mendampingi anak? Kalau fungsi kontrol bisa berjalan, sih, enggak apa-apa karena tak akan menimbulkan masalah baru. Tapi, bagaimana bila anak ternyata malah mencuri-curi nonton di rumah tetangga? Inilah yang harus diantisipasi orang tua jauh-jauh hari."
Soalnya, kalau anak menumpang nonton, ia justru jadi tak teramati; berapa lama ia menonton, tayangan apa saja yang ditontonnya, dan bagaimana kemungkinan ia mencerna tontonan tadi bila tak ada bimbingan dari orang tuanya. Malah lebih fatal, kan, akibatnya?

Lisa minta orang tua introspeksi diri bila anak sampai mencuri-curi nonton di rumah tetangga; apakah dirinya tak termasuk orang tua yang otoriter? Soalnya, bila keputusan menghapus budaya nonton TV dalam keluarga mutlak ada di tangan orang tua, tanpa kompromi, apalagi mempertimbangkan pendapat dan kebutuhan anak, boleh jadi orang tua tergolong tipe yang memaksakan kehendak. "Orang tua model begini biasanya punya kecenderungan strong controlling alias kelewat ingin mengatur orang lain, termasuk anaknya."
Sementara reaksi anak bisa bermacam-macam. Ada yang diam dan menerima begitu saja semua bentuk pelarangan orang tuanya, meski ia sebetulnya amat tertekan. "Namun ada pula yang memberontak begitu merasa kebutuhan dan keberadaannya terabaikan, lebih-lebih bila ia bukan termasuk orang yang suka diatur-atur." Nah, mencuri-curi nonton di rumah tetangga merupakan salah satu bentuk pemberontakannya.
Jangan lupa, anak yang sudah jenuh dilarang ini-itu tanpa penjelasan, biasanya akan semakin besar kadar kepuasannya bila ia melakukan apa yang justru dilarang orang tuanya. Dorongan bereksplorasi dibarengi kondisi merana yang semakin lama membuat anak semakin merasa terkungkung dan terbatas inilah yang akhirnya mencuat dalam bentuk pemberontakan tadi.

Apapun alasan di balik keputusan Anda, ingatlah, seiring berjalannya waktu, si kecil akan berkembang menjadi individu mandiri yang harus mampu berfungsi sebagai filtering; menyaring mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak. Nah, fungsi filtering inilah yang justru harus dihidupkan atau ditumbuhkan sejak kecil. Usia balita merupakan kesempatan emas untuk menanamkan sikap dan nilai-nilai moral pada anak. Jadi, mengapa tak kita manfaatkan?

[Kompas.com]